Prabowo Dengarkan Paparan Peneliti BRIN soal Teknologi Pengganti LPG

Setiap kali pasokan gas melon tiga kilogram tersendat atau harga elpiji bergejolak, jutaan dapur keluarga Indonesia ikut merasakan dampaknya. Ketergantungan pada energi impor inilah yang membuat kabar...

Prabowo Dengarkan Paparan Peneliti BRIN soal Teknologi Pengganti LPG

Setiap kali pasokan gas melon tiga kilogram tersendat atau harga elpiji bergejolak, jutaan dapur keluarga Indonesia ikut merasakan dampaknya. Ketergantungan pada energi impor inilah yang membuat kabar dari Istana Kepresidenan hari ini layak disimak. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan deretan produk inovasi hasil karya peneliti dalam negeri kepada Presiden Prabowo Subianto, dengan salah satu sorotan utamanya adalah teknologi pengganti LPG (Liquefied Petroleum Gas/gas minyak bumi cair).

Agenda ini merupakan satu sesi dalam rangkaian pertemuan Kepala Negara dengan para peneliti BRIN yang berlangsung pada siang hari ini. Bagi komunitas riset Tanah Air, momen tersebut bukan sekadar seremoni. Ia menjadi sinyal bahwa hasil penelitian di laboratorium kini memperoleh panggung langsung di hadapan pengambil keputusan tertinggi negara.

Mengapa Pengganti LPG Jadi Isu Strategis?

Sejak 2007, Indonesia menjalankan program konversi minyak tanah ke elpiji. Program itu berhasil menekan beban anggaran negara, tetapi melahirkan persoalan baru berupa ketergantungan impor. Konsumsi elpiji nasional saat ini diperkirakan mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, dan lebih dari 70 persen di antaranya harus didatangkan dari luar negeri. Belanja subsidi untuk tabung gas tiga kilogram saja menembus puluhan triliun rupiah setiap tahun, angka yang terus membengkak ketika harga minyak dunia naik atau nilai tukar rupiah melemah.

Ibarat sebuah keluarga yang rajin memasak, tetapi seluruh bahan bakarnya harus dibeli dari tetangga sebelah rumah. Ketika tetangga menaikkan harga atau pasokannya terlambat, dapur langsung kerepotan. Kurang lebih seperti itulah posisi Indonesia dalam rantai pasok elpiji global saat ini.

Di titik inilah inovasi pengganti elpiji menjadi strategis. Salah satu kandidat yang selama ini dikembangkan peneliti adalah DME (Dimethyl Ether/dimetil eter), senyawa gas sintetis yang dapat diproduksi melalui gasifikasi batu bara maupun biomassa. Keunggulan utamanya: sifat fisik DME menyerupai elpiji, sehingga secara teknis bisa memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, mulai dari tabung, regulator, hingga kompor dengan penyesuaian minimal. Padahal Indonesia memiliki cadangan batu bara termasuk yang terbesar di dunia, mencapai puluhan miliar ton.

Deretan Inovasi di Hadapan Presiden

Selain teknologi pengganti elpiji, para peneliti membawa sejumlah produk inovasi lain ke hadapan Presiden. Dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem riset nasional memang tengah menggenjot pengembangan teknologi di berbagai bidang strategis, mulai dari energi terbarukan, ketahanan pangan, kesehatan, hingga deep tech seperti kecerdasan buatan dan material maju. Pemaparan siang ini menjadi etalase sekaligus ajang pembuktian bahwa riset Indonesia mampu menjawab persoalan nyata bangsa.

BRIN sendiri merupakan lembaga super besar yang lahir dari konsolidasi berbagai institusi riset negara pada 2021. Penggabungan itu mengusung satu misi utama: memastikan penelitian tidak berhenti sebagai jurnal ilmiah di rak perpustakaan, melainkan berlanjut menjadi produk yang benar-benar dipakai masyarakat. Pertemuan dengan Presiden hari ini dapat dibaca sebagai ujian awal apakah konsolidasi tersebut mulai membuahkan hasil yang terlihat.

Tantangan dari Laboratorium ke Dapur Rakyat

Kendati demikian, jalan dari prototipe menuju implementasi massal tidak pernah mulus. Dalam dunia inovasi dikenal istilah valley of death atau lembah kematian, yakni fase ketika temuan riset gagal menyeberang menjadi produk komersial karena investor belum masuk, regulasi belum siap, atau biaya produksi masih terlalu tinggi. Teknologi pengganti elpiji menghadapi tantangan serupa. Pembangunan pabrik percontohan DME membutuhkan investasi triliunan rupiah, sementara harga jualnya kelak harus mampu bersaing dengan elpiji bersubsidi.

Efisiensi biaya menjadi kunci utama. Jika harga pengganti elpiji lebih mahal, masyarakat kecil yang selama ini menikmati subsidi justru akan terbebani. Sebaliknya, apabila teknologi ini berhasil diproduksi dalam skala besar dengan harga kompetitif, dampaknya berlipat ganda: impor turun, devisa hemat, subsidi dapat dialihkan ke sektor lain, dan kemandirian energi nasional menguat. Disrupsi semacam ini persis yang dibutuhkan Indonesia untuk melepaskan diri dari jebakan ketergantungan energi fosil impor.

Sebelumnya, pemerintah telah mencoba beragam jalur diversifikasi energi rumah tangga, mulai dari program kompor induksi hingga perluasan jaringan gas kota. Kehadiran opsi baru dari hasil riset dalam negeri memperkaya portofolio kebijakan yang dapat dipilih pemerintah, sekaligus membuka peluang kolaborasi antara peneliti, BUMN energi, dan sektor swasta dalam satu platform hilirisasi yang terintegrasi.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Bagi pembaca awam, pertemuan di Istana siang ini mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, keputusan yang lahir dari meja pertemuan semacam ini dapat menentukan jenis energi apa yang kelak menyalakan kompor di dapur Anda lima hingga sepuluh tahun mendatang. Jika proses hilirisasi berjalan lancar, bukan tidak mungkin tabung gas rumah tangga Indonesia suatu hari nanti diisi oleh produk rancangan anak bangsa, bukan lagi komoditas impor.

Kini bola berada di tangan pemerintah dan pelaku industri. Dukungan politik dari Istana telah ditunjukkan melalui pertemuan hari ini. Tahap berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut memperoleh pendampingan regulasi, insentif investasi, serta uji pasar yang memadai, sehingga teknologi pengganti elpiji benar-benar berpindah dari ruang pamer menuju dapur lebih dari 270 juta rakyat Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User