POSCO — Gandeng Perusahaan China Garap Bisnis Material Baterai

SEOUL — POSCO Group, raksasa baja terkemuka Korea Selatan, mengumumkan rencana kolaborasi strategis dengan sebuah perusahaan asal Tiongkok untuk memperkuat

POSCO — Gandeng Perusahaan China Garap Bisnis Material Baterai

SEOUL — POSCO Group, raksasa baja terkemuka Korea Selatan, mengumumkan rencana kolaborasi strategis dengan sebuah perusahaan asal Tiongkok untuk memperkuat lini bisnis material baterai. Langkah ini menandai eksistensi konglomerat tersebut dalam rantai pasok kendaraan listrik global yang semakin kompetitif sekaligus menunjukkan ketergantungan industri teknologi Seoul terhadap kekuatan pengolahan mineral Tiongkok.

Melalui kemitraan yang sedang disusun, POSCO berencana memperluas portofolio material kunci untuk baterai ion lithium, termasuk nikel, litium, dan bahan katoda. Kerja sama dengan perusahaan Tiongkok diharapkan dapat mempercepat ekspansi kapasitas produksi dan menstabilkan pasokan bahan baku yang selama ini menjadi pundak industri baterai Korea Selatan. Indonesia memegang peranan penting sebagai pemasok nikel mentah terbesar dunia, namun sebagian besar kapasitas pengolahan dan pemurnian (refining) masih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Kolaborasi ini datang pada momentum genting. Pasar mobil listrik global diproyeksikan terus melambung, namun industri baterai Korea Selatan menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Di satu sisi, para produsen seperti LG Energy Solution, Samsung SDI, dan SK On memerlukan pasokan material yang stabil dan harga kompetitif. Di sisi lain, regulasi seperti Inflation Reduction Act (IRA) dari Amerika Serikat membatasi keterlibatan entitas Tiongkok dalam rantai pasok baterai agar tetap memenuhi syarat insentif pajak. “POSCO berada pada posisi sulit. Mereka harus mengamankan pasokan dari pemain dominan sekaligus memastikan kepatuhan terhadap aturan geopolitik yang semakin ketat,” ujar seorang analis industri energi di Seoul yang memantau pergerakan pasar material baterai.

Secara spesifik, POSCO Group—melalui anak usahanya yang berfokus pada material masa depan—dilaporkakan akan menjalin kerja sama teknis dan pasokan dengan perusahaan Tiongkok di sektor precursor dan katoda. Bahan ini merupakan komponen int dalam sel baterai yang menentukan kinerja, daya tahan, dan biaya produksi akhir. Sekitar 60 hingga 70 persen kapasitas pengolahan precursor dan bahan katoda global dikuasai perusahaan Tiongkok, membuat kolaborasi dengan aktor lokal hampir menjadi keharusan bagi perusahaan yang ingin bersaing dalam skala global.

Dilema Rantai Pasok: Efisiensi versus Kedaulatan

Langkah POSCO mencerminkan dilema fundamental yang dihadapi industri baterai Korea Selatan. Negara tersebut memiliki teknologi manufaktur sel baterai terdepan, namun sangat bergantung pada impor material olahan. Tiongkok, dalam kurun satu dekade terakhir, berhasil membangun ekosistem pengolahan mineral yang terintegrasi secara vertikal mulai dari tambang hingga pabrik precursor. Akibatnya, biaya produksi perusahaan Tiongkok sering kali lebih rendah 15 hingga 20 persen dibandingkan pesaing Korea atau Jepang.

Namun, ketergantungan ini membawa risiko geopolitik yang signifikan. Washington terus mengeraskan aturan kandungan lokal (local content) dalam skema insentif kendaraan bersih, sementara Beijing dapat menggunakan dominasi pasokannya sebagai alat diplomasi ekonomi. Bagi POSCO, yang memiliki ambisi menjadi pemain material baterai kelas dunia, kolaborasi dengan Tiongkok adalah perhitungan pragmatis jangka pendek meski berpotensi menimbulkan komplikasi jangka panjang di pasar Barat.

Segmen Rantai PasokDominasi TiongkokPosisi Korea Selatan
Pengolahan Nikel Mentah~65% kapasitas globalImpor mayoritas
Produksi Precursor~75% kapasitas globalKetergantungan tinggi
Bahan Katoda (CAM)~60% kapasitas globalBerkembang (POSCO, L&F)
Manufaktur Sel BateraiCATL, BYD dominanLG, Samsung, SK kompetitif

Implikasi Geopolitik dan Regulasi

Kerja sama POSCO dengan entitas Tiongkok tidak terlepas dari pengawasan ketat regulator Amerika Serikat dan Uni Eropa. “Setiap investasi atau offtake agreement yang melibatkan perusahaan Tiongkok di sektor kritis seperti baterai akan dievaluasi berdasarkan dampaknya terhadap keamanan rantai pasok,” jelas seorang pakar kebijakan perdagangan internasional. Aturan originasi mineral yang diperketat mulai tahun 2025 dalam kerangka IRA akan memaksa produsen untuk membuktikan jejak bahan baku mereka bebas dari entitas yang dianggap berisiko.

Oleh karena itu, analisis mendalam menunjukkan bahwa POSCO kemungkinan akan menerapkan skema joint venture yang terbatas pada wilayah atau segmen pasar tertentu, guna meminimalkan paparan regulasi. Perusahaan juga telah melakukan diversifikasi ke negara-negara netral seperti Australia, Kanada, dan Indonesia untuk sumber nikel serta litium. Investasi POSCO di Indonesia untuk fasilitas pengolahan nikel mencapai miliaran dolar AS, menandakan strategi dual-track: bekerja sama dengan Tiongkok untuk teknologi dan efisiensi, sekaligus membangun basis pasok alternatif di luar pengaruh Beijing.

Dalam jangka panjang, keberhasilan kolaborasi ini akan sangat bergantung pada kemampuan POSCO menavigasi tekanan dari sekutu baratnya di satu sisi, dan kebutuhan akan pasokan material yang terjangkau di sisi lain. Jika manajemen mampu menjaga keseimbangan tersebut, langkah ini bisa memperkokoh posisi POSCO sebagai pemasok material baterai kelas dunia. Sebaliknya, kesalahan perhitungan dalam struktur kepemilikan atau alokasi pasar dapat berujung pada sanksi atau kehilangan akses ke pasar kendaraan listrik Amerika Serikat yang sangat menggiurkan.

Keputusan POSCO untuk membuka pintu kolaborasi dengan perusahaan Tiongkok bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan cerminan dari arsitektur kekuatan ekonomi global yang semakin terfragmentasi. Di era transisi energi ini, mineral kritis telah menjadi mata uang geopolitik baru, dan setiap perusahaan yang ingin bertahan harus mampu berdialog dengan semua pihak—tanpa harus kehilangan identitas dan kepatuhannya terhadap aturan main internasional.