Pontianak Alihkan Sekolah ke Daring Imbas Asap Karhutla

PONTIANAK — Pemerintah Kota Pontianak resmi meliburkan pembelajaran tatap muka bagi seluruh siswa taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah pertama (S

Pontianak Alihkan Sekolah ke Daring Imbas Asap Karhutla

PONTIANAK — Pemerintah Kota Pontianak resmi meliburkan pembelajaran tatap muka bagi seluruh siswa taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah pertama (SMP) menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kegiatan belajar mengajar dialihkan sepenuhnya ke moda daring hingga kondisi udara dinyatakan aman bagi kesehatan anak.

Keputusan ini diambil setelah kabut asap pekat menyelimuti ibu kota Kalimantan Barat tersebut dalam beberapa hari terakhir, terutama pada pagi dan malam hari. Asap kiriman dari titik-titik kebakaran lahan di kabupaten sekitar — seperti Kubu Raya, Mempawah, hingga Ketapang — membuat konsentrasi partikel polutan meningkat tajam dan menurunkan jarak pandang di sejumlah ruas jalan utama.

Sejalan dengan memburuknya udara, fasilitas kesehatan di Pontianak mencatat tren kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kelompok yang paling banyak terdampak adalah anak-anak, lansia, serta warga dengan riwayat penyakit pernapasan seperti asma. Kondisi inilah yang mendorong pemerintah kota mengambil langkah protektif dengan memulangkan siswa dan mengalihkan pembelajaran ke rumah masing-masing.

Analisis: Siklus Asap Tahunan yang Tak Kunjung Terputus

Karhutla di Kalimantan Barat bukan fenomena baru. Setiap puncak musim kemarau — umumnya antara Juli hingga Oktober — titik api bermunculan di lahan-lahan gambut dan area perkebunan. Karakteristik lahan gambut membuat api menyala di bawah permukaan tanah, sehingga sulit dipadamkan dan terus melepaskan asap dalam jumlah besar meski bagian atas lahan tampak telah padam.

Pontianak dalam posisi dilematis: sebagai kota yang nyaris tidak memiliki titik api signifikan, kota ini justru rutin menjadi "penampung" asap kiriman dari kabupaten tetangga. Arah angin muson tenggara membawa massa udara berpolusi langsung ke kawasan permukiman padat penduduk. Pengalaman pahit pada episode karhutla besar tahun 2015 dan 2019 — ketika sekolah diliburkan berminggu-minggu dan penerbangan di Bandara Supadio terganggu — menjadi pelajaran bahwa respons cepat jauh lebih baik ketimbang menunggu kualitas udara jatuh ke kategori berbahaya.

Mengapa Anak-Anak Paling Rentan

Dari sisi kesehatan, keputusan meliburkan sekolah memiliki dasar ilmiah kuat. Anak-anak memiliki frekuensi pernapasan lebih tinggi ketimbang orang dewasa, sementara paru-paru dan sistem imun mereka masih dalam tahap perkembangan. Partikel halus PM2,5 — berukuran 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia — dapat menembus hingga alveolus paru dan bahkan masuk ke aliran darah.

"Paparan asap karhutla pada anak bukan sekadar memicu batuk dan pilek sesaat. Partikel halusnya bisa memperberat asma, menurunkan fungsi paru, dan pada paparan berulang berpotensi mengganggu tumbuh kembang organ pernapasan," demikian pandangan yang kerap disampaikan kalangan pakar kesehatan lingkungan setiap musim asap tiba.

Kategori ISPURentang NilaiDampak bagi Kesehatan
Baik0–50Tidak berdampak
Sedang51–100Berpengaruh pada kelompok sensitif
Tidak Sehat101–200Merugikan kelompok sensitif, masyarakat umum mulai terdampak
Sangat Tidak Sehat201–300Meningkatkan sensitivitas pasien asma dan bronkitis
Berbahaya>300Merugikan kesehatan masyarakat umum secara serius

Ambang peliburan sekolah umumnya diambil ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menembus kategori tidak sehat — sebuah batas yang menurut pemantauan kualitas udara telah dilampaui di Pontianak pada periode kabut asap kali ini.

Dampak Ganda Pembelajaran Daring

Alih moda ke pembelajaran jarak jauh bukan tanpa konsekuensi. Trauma learning loss pascapandemi Covid-19 masih segar dalam ingatan dunia pendidikan Indonesia. Risiko kesenjangan mencuat kembali: tidak semua siswa memiliki perangkat memadai, jaringan internet stabil, atau pendampingan orang tua — terutama dari keluarga pekerja yang tetap harus beraktivitas di luar rumah.

Namun, sejumlah pihak menilai konteks kali ini berbeda. Peliburan bersifat situasional dan terukur, mengikuti perkembangan kualitas udara harian. Sekolah diimbau tidak sekadar "meliburkan", melainkan menyiapkan tugas terstruktur dan modul belajar mandiri agar kompetensi siswa tetap terjaga. "Prinsipnya, keselamatan dan kesehatan anak adalah prioritas yang tidak bisa ditawar, tetapi hak belajarnya juga harus tetap dipenuhi," catat pengamat pendidikan.

Langkah Mitigasi dan Imbauan bagi Warga

Pemerintah kota bersama satgas karhutla terus melakukan pemantauan titik api, pemadaman darat dan udara, serta pembagian masker kepada masyarakat. Aparat juga mengingatkan ancaman sanksi hukum bagi pembukaan lahan dengan cara membakar — praktik yang hingga kini diduga menjadi pemicu utama sebagian besar titik api di Kalimantan Barat.

Bagi warga, imbauan standar kesehatan kembali digaungkan: kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan masker N95 atau masker medis saat terpaksa keluar rumah, tutup rapat ventilasi, perbanyak konsumsi air putih, dan segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami sesak napas atau gejala ISPA yang memberat. Hingga musim kemarau berakhir, kewaspadaan kolektif menjadi satu-satunya benteng pertahanan kota ini.

[SOCIAL_TWEET]: Asap karhutla selimuti Pontianak. Siswa TK-SMP diliburkan, belajar dialihkan ke daring. Kasus ISPA dilaporkan naik, anak-anak jadi kelompok paling rentan. #Pontianak #Karhutla #KabutAsap [SOCIAL_TG]: 🔴 PONTIANAK — Sekolah diliburkan imbas asap karhutla. Pembelajaran TK-SMP dialihkan ke daring menyusul memburuknya kualitas udara. Kasus ISPA naik, anak-anak paling rentan terdampak. Imbauan: kurangi aktivitas luar ruangan, gunakan masker N95, perbanyak air putih. Selengkapnya di Terdepan.id

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User