Pezeshkian: Kini Momentum Terbaik Iran Capai Kesepakatan dengan AS

Gejolak harga minyak dunia, biaya hidup yang mencekik rakyat Iran, hingga bayang-bayang konflik terbuka di Timur Tengah — semuanya bisa berubah arah jika satu hal terjadi: kesepakatan antara Teheran...

Pezeshkian: Kini Momentum Terbaik Iran Capai Kesepakatan dengan AS

Gejolak harga minyak dunia, biaya hidup yang mencekik rakyat Iran, hingga bayang-bayang konflik terbuka di Timur Tengah — semuanya bisa berubah arah jika satu hal terjadi: kesepakatan antara Teheran dan Washington. Karena itulah, pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menilai kondisi saat ini sebagai momentum paling ideal untuk meraih kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) layak mendapat perhatian serius. Bagi masyarakat awam, ini bukan sekadar manuver diplomatik di meja perundingan. Hasilnya akan terasa langsung hingga ke kehidupan sehari-hari: dari harga bahan bakar dan kebutuhan pokok, nilai tukar mata uang, sampai akses terhadap layanan teknologi digital yang selama ini terbatas.

Pezeshkian menegaskan bahwa jendela peluang yang terbuka saat ini tidak boleh disia-siakan. Menurutnya, kombinasi antara kondisi politik domestik Iran, tekanan ekonomi yang kian berat, dan dinamika global yang berubah menciptakan situasi yang jauh lebih kondusif untuk berunding dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Siapa Pezeshkian dan Mengapa Ucapannya Berbobot

Masoud Pezeshkian bukan figur sembarangan dalam peta politik Iran. Dokter bedah jantung yang pernah menjabat menteri kesehatan ini memenangkan pemilihan presiden pada Juli 2024, menggantikan Ebrahim Raisi yang tewas dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024. Sejak masa kampanye, ia mengusung platform reformis: membuka dialog dengan Barat, memulihkan ekonomi, dan melonggarkan pembatasan ruang digital bagi warganya.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa presiden Iran bukan penentu akhir kebijakan luar negeri. Kewenangan tertinggi berada di tangan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Artinya, pernyataan Pezeshkian menjadi sinyal kuat bahwa ada kehendak politik di level pemerintahan untuk mendorong perundingan — sesuatu yang mustahil disampaikan tanpa setidaknya restu tersirat dari puncak kekuasaan.

Tekanan Ekonomi: Alasan Nyata di Balik Dorongan Kesepakatan

Ibarat rumah tangga yang tagihannya menumpuk sementara pemasukan terus menyusut, ekonomi Iran saat ini berada dalam kondisi sulit. Inflasi tahunan dilaporkan bergerak di kisaran 35 hingga 45 persen, sementara nilai tukar rial di pasar bebas anjlok hingga sempat menembus level di atas 900 ribu rial per dolar AS. Sanksi internasional memangkas ekspor minyak — sumber utama devisa negara — dan menutup akses Iran ke sistem keuangan global.

Dampaknya dirasakan langsung oleh warga biasa: harga pangan dan obat-obatan melonjak, daya beli kelas menengah tergerus, dan banyak anak muda terdidik memilih meninggalkan negara. Bagi pemerintahan Pezeshkian, kesepakatan dengan AS adalah pintu paling realistis untuk mencabut sanksi dan menyelamatkan ekonomi.

Warisan Kesepakatan Nuklir 2015

Untuk memahami konteksnya, kita perlu menengok ke belakang. Pada 2015, Iran dan negara-negara besar dunia meneken kesepakatan nuklir yang dikenal sebagai JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action/Rencana Aksi Komprehensif Bersama). Isinya sederhana: Iran membatasi pengayaan uranium di level 3,67 persen dan stok maksimal 300 kilogram, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi.

Namun pada Mei 2018, AS di bawah Presiden Donald Trump menarik diri secara sepihak dan menerapkan kembali sanksi. Sebagai respons, Iran secara bertahap mengabaikan batasan kesepakatan. Badan Energi Atom Internasional atau IAEA (International Atomic Energy Agency) mencatat Iran kini mengayakan uranium hingga kemurnian 60 persen — tingkat yang secara teknis hanya selangkah menuju 90 persen, kadar yang dibutuhkan untuk senjata nuklir. Teheran berulang kali menegaskan programnya murni untuk tujuan damai.

Sinyal dari Washington dan Perundingan Tidak Langsung

Menariknya, dorongan kesepakatan juga datang dari arah berlawanan. Setelah kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump memang memulihkan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran pada Februari 2025. Namun di saat yang sama, ia menyatakan lebih memilih jalur kesepakatan ketimbang konfrontasi militer.

Pada April 2025, kedua negara menggelar perundingan tidak langsung di Oman, dengan delegasi AS dipimpin utusan khusus Steve Witkoff dan Iran diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Format tidak langsung — di mana mediator berpindah-pindah menyampaikan pesan antar delegasi — menunjukkan betapa dalamnya ketidakpercayaan di antara kedua pihak, sekaligus betapa seriusnya upaya yang sedang ditempuh.

Dampak bagi Ekosistem Teknologi dan Kehidupan Digital

Dari sudut pandang teknologi, kesepakatan ini bisa menjadi titik balik. Bertahun-tahun sanksi membuat perusahaan teknologi global menarik diri dari Iran. Pengembang perangkat lunak lokal kesulitan mengakses layanan komputasi awan (cloud), toko aplikasi internasional, hingga perangkat keras dan semikonduktor terbaru. Ekosistem startup Iran sebenarnya tumbuh cukup subur — didukung populasi muda yang melek teknologi — tetapi berkembang dalam isolasi, tanpa akses ke investasi dan pasar global.

Jika sanksi dilonggarkan, implementasi kerja sama teknologi bisa terbuka lebar: mulai dari modernisasi infrastruktur telekomunikasi, masuknya platform digital internasional, hingga kolaborasi penelitian di bidang kecerdasan buatan dan energi terbarukan. Inovasi yang selama ini berjalan tertahan berpotensi mengalir kembali.

Jalan Berliku di Depan

Meski momentum disebut sedang berpihak, jalan menuju kesepakatan tetap penuh rintangan. Faksi garis keras di parlemen Iran menolak kompromi dengan Washington. Isu program rudal balistik dan jaringan sekutu regional Iran juga belum masuk kerangka perundingan, padahal AS dan sekutunya menuntut hal itu dibahas. Belum lagi sikap Israel yang mendorong pendekatan lebih keras terhadap Teheran.

Khamenei sendiri sempat menyatakan berunding dengan AS bukan langkah bijak, sebelum kemudian memberi ruang bagi diplomasi. Artinya, pernyataan optimistis Pezeshkian harus dibaca sebagai pembuka jalan, bukan jaminan hasil. Momentum memang ada, tetapi ia rapuh — dan sejarah hubungan kedua negara menunjukkan bahwa peluang seperti ini tidak datang sering, pun tidak bertahan lama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User