Penyebab Api di TPA Jatiwaringin Sulit Padam

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang, yang telah berlangsung berhari-hari, membingungkan banyak pihak. Meskipun puluhan unit pemadam kebakaran dikerahkan, api tak kunjung...

Jul 12, 2026 - 05:19
0 0
Penyebab Api di TPA Jatiwaringin Sulit Padam

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang, yang telah berlangsung berhari-hari, membingungkan banyak pihak. Meskipun puluhan unit pemadam kebakaran dikerahkan, api tak kunjung padam dan justru terus mengeluarkan asap tebal yang mengganggu pernapasan warga sekitar. Seorang peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akhirnya mengungkap akar permasalahannya: api bawah permukaan yang tersembunyi di tumpukan sampah sedalam puluhan meter.

Fenomena Api Bawah Permukaan di Gunungan Sampah

Menurut pakar BRIN, kebakaran yang terjadi bukanlah kebakaran permukaan biasa. Di dalam timbunan sampah yang telah menggunung selama bertahun-tahun, terjadi proses dekomposisi anaerobik—penguraian material organik tanpa kehadiran oksigen—yang menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Gas ini terperangkap di celah-celah sampah padat. Ketika suhu di dalam tumpukan meningkat akibat aktivitas biologis atau faktor eksternal, gas metana dapat menyala dan memicu api bawah permukaan (subsurface fire). Api tersebut merambat secara perlahan di antara lapisan sampah, sering kali tidak terlihat dari atas, namun terus membakar material dan menghasilkan asap pekat.

Fenomena ini mirip dengan kebakaran lahan gambut yang sulit dideteksi dan dipadamkan. Sampah yang berlapis-lapis bertindak seperti insulator panas, sehingga api dapat bertahan selama berminggu-minggu tanpa bisa dijangkau oleh air dari mobil pemadam. "Ibarat seperti bara api di dalam sekam, kami bisa menyiram permukaan, tapi bara di kedalaman 10 meter tetap menyala dan suatu saat akan muncul lagi ke permukaan," jelas peneliti BRIN yang menangani kasus ini. Data dari Dinas Lingkungan Hidup setempat mencatat, ketinggian timbunan sampah di TPA Jatiwaringin telah mencapai lebih dari 30 meter, menciptakan kondisi ideal bagi kebakaran semacam ini.

Tantangan Pemadaman di Tempat Pembuangan Akhir

Pemadaman api di TPA menghadapi sejumlah kendala teknis yang tidak ditemukan pada kebakaran bangunan atau hutan. Pertama, struktur tumpukan sampah yang tidak stabil membuat alat berat seperti ekskavator kesulitan beroperasi tanpa risiko ambles atau longsor. Saat alat berat mencoba membongkar tumpukan untuk mengekspos titik api, oksigen yang masuk justru dapat memicu ledakan kecil atau penyalaan kembali yang lebih besar karena metana bertemu udara.

Kedua, air yang disemprotkan cenderung hanya mendinginkan lapisan terluar dan tidak mampu menjangkau inti api. Air bahkan dapat menambah berat timbunan yang berpotensi mempercepat longsoran. Metode penyuntikan air berbusa sempat dicoba, namun porositas sampah yang tinggi membuat busa cepat pecah dan tidak membentuk lapisan penutup yang efektif. Pihak pemadam kebakaran juga melaporkan keterbatasan pasokan air bersih di sekitar lokasi, sementara kandungan zat kimia berbahaya dalam asap membuat medan semakin tidak ramah bagi petugas.

Metode PemadamanKendala UtamaEfektivitas
Penyemprotan air permukaanTidak menjangkau api bawah tanahRendah
Pembongkaran dengan ekskavatorRisiko longsor dan ledakan gasSedang
Penyuntikan busa khususPorositas sampah tinggi, busa tidak tahan lamaRendah-Sedang
Pembuatan sekat atau parit isolasiMembutuhkan lahan dan alat besarMenjanjikan

Rekomendasi Penanganan dari BRIN

Menghadapi situasi ini, tim peneliti BRIN merekomendasikan pendekatan bertahap yang mengutamakan pengamanan area dan pengurangan suplai oksigen ke dalam tubuh tumpukan. Langkah pertama adalah membangun parit isolasi di sekeliling area yang terbakar, menghentikan perambatan api secara lateral. Parit diisi dengan material lempung atau tanah liat yang dipadatkan, menciptakan dinding kedap udara. Selanjutnya, permukaan tumpukan sampah di zona inti ditutup dengan lapisan tanah atau geo-membrane untuk memutus kontak dengan udara luar—strategi yang biasa digunakan dalam penanggulangan kebakaran gambut.

Namun, peneliti BRIN menekankan bahwa penutupan total hanya efektif jika digabungkan dengan sistem ventilasi terkendali yang mengalirkan gas metana ke suar bakar atau alat pemanfaatan energi. Tanpa itu, penumpukan gas di bawah penutup justru berpotensi meledak. Beberapa TPA modern di Eropa telah memanfaatkan metode landfill mining, yaitu menggali material sampah yang terbakar untuk memisahkan material yang masih bisa didaur ulang, lalu memproses sisanya secara termal. Namun, biaya operasi ini tinggi, sehingga pihak pengelola TPA Jatiwaringin perlu menghitung kelayakan ekonominya.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Asap dari kebakaran TPA membawa partikel halus (PM2.5), karbon monoksida, dioksin, dan furan yang dapat memicu gangguan pernapasan akut. Warga di radius dua kilometer mengeluhkan iritasi mata dan sesak napas, terutama pada anak-anak dan lansia. Dinas Kesehatan setempat telah mendirikan posko kesehatan dan membagikan masker N95. Dari sisi lingkungan, rembesan air bekas pemadaman yang bercampur lindi berpotensi mencemari sumur warga jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, BRIN menyarankan agar seluruh air limpasan ditampung dan diolah di instalasi pengolahan lindi sebelum dibuang.

Ke depan, untuk mencegah terulangnya bencana serupa, pakar BRIN mendorong pengelola TPA menerapkan sistem pengelolaan gas landfill aktif sejak dini, yaitu dengan memasang pipa-pipa penangkap gas metana di setiap lapisan penimbunan. Gas yang terkumpul dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik melalui generator gas, mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus menurunkan risiko kebakaran. Teknologi ini sudah terbukti di TPA Suwung, Bali, dan TPA Bantar Gebang, meski skalanya masih terbatas.

Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pengingat nyata bahwa persoalan sampah bukan sekadar urusan penumpukan, melainkan juga menyangkut keamanan dan kesehatan publik. Tanpa inovasi pengelolaan yang tepat, setiap gunungan sampah adalah bom waktu yang siap menyala kapan saja.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User