Kecemasan Komunitas Yahudi Inggris Menanti Sikap Tegas Burnham soal Gaza
Kekhawatiran mulai merebak di kalangan komunitas Yahudi Inggris menyusul sikap tegas seorang kandidat perdana menteri yang secara terbuka menolak operasi militer Israel di Jalur Gaza. Andy Burnham, Wa...
Kekhawatiran mulai merebak di kalangan komunitas Yahudi Inggris menyusul sikap tegas seorang kandidat perdana menteri yang secara terbuka menolak operasi militer Israel di Jalur Gaza. Andy Burnham, Wali Kota Manchester Raya yang dianggap sebagai figur potensial untuk memimpin Partai Buruh dan negeri itu, telah mengekspresikan ketidaksetujuannya terhadap serangan bersenjata Israel di wilayah Palestina, memicu respons beragam di tengah masyarakat, terutama di antara warga negara keturunan Yahudi yang selama ini memiliki ikatan emosional dan historis kuat dengan Israel.
Pernyataan Burnham muncul di tengah meningkatnya eskalasi kekerasan di Timur Tengah. Ia menekankan bahwa solusi damai seharusnya ditempuh alih-alih penggunaan kekuatan militer yang hanya akan memperdalam penderitaan warga sipil. Sikap ini dianggap sebagai salah satu yang paling kritis terhadap Israel di antara tokoh-tokoh politik arus utama Inggris, dan memicu pertanyaan tentang arah kebijakan luar negeri Britania Raya jika Burnham berhasil merebut kursi kekuasaan.
Profil dan Dukungan Politik Burnham
Andy Burnham bukanlah nama asing di panggung politik Inggris. Sebagai mantan menteri di era pemerintahan Buruh sebelumnya dan kini menjabat Wali Kota Manchester, ia telah membangun citra sebagai politisi berpihak pada akar rumput. Namun, pernyataannya yang mengecam aksi militer Israel di Gaza mengukir profilnya sebagai figur yang tidak ragu mengambil risiko elektoral. Dukungan terhadap hak-hak Palestina bukanlah hal baru di Partai Buruh, tetapi ketika datang dari calon pemimpin nasional, bobotnya terasa jauh lebih signifikan.
Menurut survei internal partai yang bocor ke publik, sikap Burnham terhadap konflik ini justru meningkatkan popularitasnya di kalangan pemilih muda dan minoritas, namun secara simultan menimbulkan kegelisahan di komunitas Yahudi yang selama ini memiliki hubungan historis dengan Partai Buruh, kendati belakangan sempat renggang akibat dugaan antisemitisme di tubuh partai.
Respon dan Keresahan Komunitas Yahudi
Beberapa organisasi terkemuka komunitas Yahudi Inggris, termasuk Dewan Deputi Yahudi Britania dan Komunitas Keamanan Yahudi, dikabarkan tengah melakukan pertemuan tertutup untuk membahas implikasi potensial dari kenaikan Burnham. “Jika seorang perdana menteri jelas-jelas menentang hak Israel untuk membela diri, kami harus bertanya apa artinya itu bagi hubungan bilateral dan keamanan kami di sini,” ujar seorang sumber anonim dari salah satu organisasi tersebut, menggambarkan suasana hati yang cemas.
Lebih jauh, kekhawatiran juga muncul terkait potensi meningkatnya sentimen anti-Israel di dalam negeri yang bisa berujung pada tindakan antisemit. Sebuah survei tahun lalu menunjukkan bahwa hampir setengah dari populasi Yahudi Inggris pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan negara itu karena meningkatnya antisemitisme. Kini, retorika penolakan terhadap aksi militer Israel oleh calon pemimpin nasional dikhawatirkan akan memperparah situasi, memberikan legitimasi terhadap kelompok-kelompok yang vokal mengkritik Israel.
Dampak bagi Hubungan Inggris-Israel
Secara diplomatik, sikap Burnham berpotensi mendinginkan hubungan antara London dan Tel Aviv. Inggris selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Israel di Eropa, meskipun kerap menyuarakan keprihatinan tentang pemukiman di Tepi Barat. Seorang analis hubungan internasional dari Universitas Oxford menggambarkan bahwa perubahan arah ini bisa membawa Inggris lebih dekat ke posisi negara-negara Skandinavia yang cenderung lebih kritis. “Ini akan menjadi pergeseran paradigma, bukan sekadar penyesuaian taktis,” katanya.
Dari segi ekonomi, kerjasama teknologi dan militer antara kedua negara yang bernilai miliaran poundsterling bisa terpengaruh. Israel adalah pemasok penting teknologi pertahanan dan siber bagi Inggris, dan setiap ketegangan politik dapat mempengaruhi kepercayaan dalam hubungan komersial jangka panjang. Pelaku industri juga menyuarakan kekhawatiran serupa, meskipun masih enggan untuk berkomentar secara terbuka.
Menimbang Realitas Politik dan Elektabilitas
Meskipun membuat resah komunitas Yahudi, sikap Burnham bisa jadi merupakan kalkulasi politik yang cermat. Pemilih muda Inggris, khususnya mereka yang lahir setelah era Perang Dingin, semakin menunjukkan solidaritas terhadap perjuangan Palestina. Data dari lembaga polling YouGov menunjukkan bahwa di kalangan pemilih berusia 18-24 tahun, dukungan terhadap Israel menurun drastis dalam lima tahun terakhir. Burnham tampaknya berusaha mengkapitalisasi pergeseran opini publik ini, meski harus mengorbankan dukungan tradisional dari sebagian kelompok masyarakat.
Partai Buruh sendiri masih berhati-hati mengelola isu ini, mengingat bayang-bayang krisis antisemitisme yang pernah melanda. Seorang juru bicara partai menegaskan bahwa pandangan Burnham adalah pandangan pribadi dan partai akan merumuskan kebijakan secara kolektif. Namun, jika Burnham berhasil memenangkan pemilihan internal dan menjadi kandidat resmi, platform politiknya akan menjadi lebih dari sekadar opini individu.
Kompleksitas semakin bertambah ketika mengingat bahwa isu Israel-Palestina telah lama menjadi titik api dalam politik domestik Inggris, membelah koalisi, dan memicu perdebatan sengit di parlemen. Bagi sebagian kalangan, kandidat yang berani mengambil sikap berbeda dipandang sebagai penyegaran. Bagi yang lain, ini adalah ancaman terhadap keseimbangan diplomatik yang sudah terjalin puluhan tahun.
Sementara itu, warga Yahudi Inggris terus memantau perkembangan dengan saksama, menimbang antara kepercayaan mereka terhadap sistem politik dan ketakutan akan masa depan yang mungkin semakin kurang bersahabat. Seorang pensiunan di Golders Green, wilayah dengan populasi Yahudi terbesar di London, mengungkapkan perasaan campur aduknya: “Kami telah melalui banyak hal, tapi kali ini terasa lebih personal—seolah nilai-nilai yang kami yakini dipertanyakan oleh orang yang mungkin akan memimpin negara ini.”
Dengan pemilihan umum yang semakin dekat, wacana ini diperkirakan akan terus mengemuka dan mempengaruhi lanskap politik Inggris dalam skala yang lebih luas, bukan hanya terbatas pada hubungan luar negeri, namun juga kohesi sosial di dalam negeri.
Baca juga:
Comments (0)