Penelitian Ungkap Terlalu Lama Daring Bisa Memicu Stres dan Bad Mood
Pernahkah Anda merasa lelah, kesal, atau cemas setelah berjam-jam menggulir linimasa media sosial tanpa tujuan jelas? Jika ya, Anda tidak sendirian. Temuan penelitian terbaru di bidang kesehatan digit...
Pernahkah Anda merasa lelah, kesal, atau cemas setelah berjam-jam menggulir linimasa media sosial tanpa tujuan jelas? Jika ya, Anda tidak sendirian. Temuan penelitian terbaru di bidang kesehatan digital memperkuat kecurigaan yang selama ini dirasakan banyak orang: menghabiskan waktu terlalu lama di dunia maya berkaitan erat dengan memburuknya suasana hati dan meningkatnya tingkat stres. Ini bukan sekadar keluhan generasi yang manja, melainkan fenomena yang kini mendapat pembuktian ilmiah dan berdampak langsung pada produktivitas, kualitas tidur, hingga hubungan sosial kita sehari-hari.
Penelitian ini menjadi pengingat penting di tengah ekosistem digital yang semakin dominan. Data global menunjukkan rata-rata pengguna internet kini menghabiskan lebih dari enam jam per hari di depan layar, dan di Indonesia angkanya bahkan menembus tujuh hingga delapan jam. Artinya, sekitar sepertiga waktu terjaga kita dihabiskan untuk terhubung dengan internet, sebuah porsi yang jauh melampaui kebutuhan bekerja maupun belajar.
Apa yang Diungkap Penelitian
Tim peneliti menganalisis pola penggunaan internet ribuan responden dan membandingkannya dengan indikator kesehatan mental seperti suasana hati, kecemasan, dan gejala stres. Hasilnya konsisten: semakin lama durasi seseorang berada di dunia maya, terutama untuk aktivitas pasif seperti menggulir konten tanpa henti, semakin tinggi pula skor stres dan gangguan suasana hati yang dilaporkan.
Menariknya, penelitian ini juga membedakan jenis aktivitas daring. Penggunaan yang bersifat aktif dan terarah, misalnya belajar keterampilan baru atau berkomunikasi bermakna dengan keluarga, tidak menunjukkan dampak negatif yang sama. Masalah justru muncul dari konsumsi konten tanpa tujuan yang sering disebut doomscrolling, yakni kebiasaan menggulir kabar buruk dan konten negatif secara kompulsif hingga sulit berhenti.
Mengapa Terlalu Lama Daring Menguras Emosi
Untuk memahami mekanismenya, ibarat seperti makanan cepat saji: konten digital dirancang memberikan ledakan kenikmatan singkat, tetapi membuat kita terus lapar dan ingin lagi. Setiap notifikasi, tanda suka, dan video pendek memicu pelepasan dopamin, yakni senyawa kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang. Platform media sosial sengaja memanfaatkan algoritma yang mempelajari perilaku pengguna agar kita betah berlama-lama, sebuah rancangan yang dikenal sebagai attention economy atau ekonomi perhatian.
Masalahnya, otak yang terus-menerus dibombardir rangsangan akan kelelahan. Ketika pasokan kejutan kecil itu berhenti, muncul kekosongan yang memicu kecemasan. Ditambah lagi, paparan kabar negatif yang berulang mengaktifkan respons stres tubuh, membuat kadar hormon kortisol tetap tinggi sepanjang hari. Dalam jangka panjang, kondisi ini menggerogoti ketahanan emosional seseorang.
Faktor lain adalah FOMO (Fear of Missing Out/rasa takut tertinggal). Melihat pencapaian orang lain yang tampak sempurna di media sosial memicu perbandingan sosial yang tidak sehat. Padahal, yang kita saksikan hanyalah sorotan terbaik dari hidup seseorang, bukan kenyataan utuhnya.
Dampak Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari
Efek buruk ini tidak berhenti di layar. Stres akibat penggunaan internet berlebihan merembet ke berbagai aspek kehidupan: kualitas tidur menurun karena cahaya biru layar menekan produksi melatonin (hormon pengatur tidur), konsentrasi kerja terpecah, dan interaksi tatap muka dengan keluarga tergeser oleh kebiasaan mengecek ponsel. Efisiensi kerja pun tergerus karena otak terbiasa berpindah-pindah perhatian setiap beberapa detik.
Bagi pelajar dan pekerja muda, dampaknya bisa lebih serius. Sejumlah studi pendahuluan mengaitkan penggunaan media sosial intensif dengan peningkatan risiko kecemasan dan gejala depresi pada kelompok usia remaja hingga dewasa awal, masa penting bagi pengembangan identitas diri dan kepercayaan diri.
Strategi Mengambil Kembali Kendali
Kabar baiknya, solusinya bukan membuang ponsel atau menolak teknologi sama sekali. Inovasi digital tetap membawa manfaat besar bila digunakan secara sadar. Para ahli menyarankan beberapa langkah implementasi praktis: menetapkan batas waktu pemakaian aplikasi, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta menciptakan zona bebas layar, misalnya satu jam sebelum tidur dan saat makan bersama keluarga.
Sebagian platform dan sistem operasi ponsel kini bahkan menyediakan fitur pemantau waktu layar (screen time) yang bisa dimanfaatkan untuk evaluasi diri. Pendekatan yang disebut digital wellbeing atau kesejahteraan digital ini mendorong pengguna menjadi konsumen teknologi yang sadar, bukan sekadar produk dari algoritma.
Pada akhirnya, penelitian ini bukan vonis terhadap internet, melainkan undangan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengannya. Teknologi seharusnya menjadi alat yang memperkaya hidup, bukan tuan yang menguras emosi kita. Kuncinya ada di tangan, dan kesadaran, masing-masing pengguna.
Comments (0)