Pemakaman Khamenei Digelar di Tengah Serangan Baru AS
Pada Kamis, 9 Juli, publik Iran akhirnya mengantarkan ke peristirahatan terakhir sosok yang mendominasi panggung politik dan spiritual mereka selama puluhan tahun. Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Ter...
Pada Kamis, 9 Juli, publik Iran akhirnya mengantarkan ke peristirahatan terakhir sosok yang mendominasi panggung politik dan spiritual mereka selama puluhan tahun. Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang meninggal dunia pada 1 Juli lalu, dikebumikan dalam upacara kenegaraan yang kompleks dan berlangsung selama sepekan penuh. Ribuan pelayat berjajar di sepanjang rute menuju kompleks pemakaman yang dijaga superketat, sementara langit Teheran sesekali dihiasi deru jet tempur yang mengingatkan pada ancaman nyata: Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru ke sejumlah sasaran militer Iran tepat pada hari yang sama.
Rangkaian Upacara di Bawah Bayang-Bayang Militer
Jenazah Khamenei sebelumnya disemayamkan di Masjid Imam Khomeini di Teheran, tempat pejabat tinggi, anggota keluarga, dan perwakilan negara-negara sekutu memberikan penghormatan terakhir. Prosesi selama sepekan mencakup ritual pemakaman tradisional, pembacaan doa, dan unjuk bela sungkawa dari berbagai faksi politik—dari Garda Revolusi hingga kelompok reformis yang sempat berseberangan. Namun, suasana khidmat itu terusik oleh serangan AS yang dimulai sejak subuh. Menurut keterangan militer Iran, setidaknya 12 sasaran strategis di sekitar Teheran, Isfahan, dan fasilitas nuklir Natanz dihantam rudal presisi. Pemerintah Iran menyatakan ‘serangan ini merupakan provokasi terang-terangan di momen duka nasional’.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, dalam pernyataan resmi menyebut bahwa pemakaman tetap berjalan sesuai jadwal meskipun ada upaya pihak asing untuk mengintimidasi. ‘Kami tidak akan membiarkan musuh mencabik-cabik kehormatan kami, bahkan di saat kami meratapi kehilangan pemimpin besar kami,’ ujarnya. Langkah keamanan ekstra diterapkan: kendaraan anti-pesawat dikerahkan, lalu lintas udara disetop sementara, dan area pemakaman dikelilingi sistem pertahanan rudal.
Serangan Baru AS: Pesan di Tengah Transisi Kekuasaan
Pentagon mengonfirmasi bahwa operasi yang dijuluki ‘Operation Persian Dawn’ tersebut menargetkan infrastruktur pendukung program nuklir dan markas komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Menteri Pertahanan AS menjelaskan bahwa serangan itu merupakan respons terhadap ‘percepatan pengayaan uranium yang dilaporkan intelijen sejak wafatnya Khamenei.’ Namun, banyak pengamat melihat langkah ini sebagai upaya Washington untuk mengeksploitasi kekosongan kekuasaan di Teheran.
Data sementara dari sumber keamanan regional menyebutkan bahwa serangan AS melibatkan lebih dari 30 pesawat tempur—termasuk F-35 dan B-2 Spirit—serta peluncuran rudal dari kapal perang di Teluk Persia. Gedung Putih tidak menyembunyikan bahwa mereka ingin ‘mencegah Iran dari godaan untuk menutup celah nuklir di masa transisi.’ Keputusan ini langsung menuai kecaman dari Rusia, China, dan bahkan sekutu Eropa yang menyerukan penahanan diri. Uni Eropa melalui Juru Bicara Kebijakan Luar Negeri menegaskan bahwa ‘serangan di hari pemakaman adalah sinyal yang sangat disayangkan bagi stabilitas kawasan’.
Transisi dan Warisan Khamenei
Meninggalnya Khamenei memicu transisi besar di Iran. Setelah melalui sidang cepat Majelis Ahli, Presiden Ebrahim Raisi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi sementara menunggu pemilihan permanen. Raisi, yang dikenal sebagai garis keras, berjanji akan mempertahankan kebijakan anti-AS dan melanjutkan program rudal balistik. Namun, di balik retorika keras, para analis menilai transisi ini rawan friksi internal antara faksi moderat dan konservatif, diperparah oleh tekanan militer eksternal.
Warisan Khamenei yang menjabat selama 37 tahun sangat kompleks: di satu sisi ia membangun poros perlawanan regional melalui jaringan proksi dari Lebanon hingga Yaman, di sisi lain ia meninggalkan ekonomi yang terpuruk akibat sanksi. Kini, tanpa kehadiran figur dominan yang selama ini menjadi perekat kubu konservatif, Iran menghadapi ujian ganda: mengonsolidasikan kekuasaan domestik dan merespons agresi AS yang menuntut perhitungan cermat.
Laporan intelijen yang bocor menyebutkan bahwa Iran tengah mempertimbangkan balasan terukur—kemungkinan melalui proksi di Irak atau serangan siber—untuk menghindari perang terbuka yang bisa menghancurkan sisa-sisa ekonomi. Sementara itu, harga minyak mentah Brent melonjak 5% ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, mencerminkan kegelisahan pasar terhadap potensi konflik berskala penuh.
Masa Depan yang Tidak Pasti
Pemakaman Khamenei bukan sekadar ritual kenegaraan; ia menjadi simbol titik balik Iran di tengah tekanan maksimal dari Washington. Ketika jenazah dibaringkan di samping pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini, di kompleks Mausoleum Imam Khomeini pada pukul 14.00 waktu setempat, sirene serangan udara meraung di kejauhan. Seorang pelayat paruh baya berujar kepada pewarta, ‘Mereka pikir mereka bisa mematahkan kita dengan rudal. Tapi lihatlah, kita masih berdiri, masih menangis, dan akan terus melawan.’
Kini, dengan sang pemimpin spiritual dimakamkan dan serangan AS masih berlangsung, semua mata tertuju pada respons Raisi dan komandan militer. Apakah Iran akan membalas dengan eskalasi yang dapat menyeret seluruh Timur Tengah ke dalam perang baru? Atau akankah diplomasi jalur belakang—mungkin dimediasi Oman atau Qatar—muncul dari reruntuhan? Yang jelas, 9 Juli 2026 menandai lembaran gelap baru dalam hubungan Iran-AS yang sepertinya hanya akan bertambah kelam.
Baca juga:
Comments (0)