Pelayat Ali Khamenei Tuntut Balas Dendam: Kita Harus Bunuh Trump!
Jakarta - Upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei memasuki hari kedua dengan jumlah pelayat yang dilaporkan jauh membeludak dibandingkan sehari sebelumnya, Sabtu (4/7). Di tengah lautan manusia berp
Jakarta - Upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei memasuki hari kedua dengan jumlah pelayat yang dilaporkan jauh membeludak dibandingkan sehari sebelumnya, Sabtu (4/7). Di tengah lautan manusia berpakaian hitam, seruan-seruan balas dendam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggema dengan lantang.
Berdasarkan laporan yang dihimpun Terdepan.id dari berbagai sumber pada Minggu (5/7/2026), para pelayat memadati lokasi pemakaman sambil membawa spanduk dan mengibarkan bendera sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pemimpin tertinggi Iran tersebut. Namun, suasana duka dengan cepat berubah menjadi gelombang kemarahan yang ditujukan kepada Washington.
"Saya datang ke sini untuk berteriak dan menuntut balas dendam," ujar Gholamreza Sabooni (29), seorang pekerja toko kelontong yang turut hadir dalam prosesi pemakaman.
Seruan "Kita harus bunuh Trump!" menjadi salah satu yel-yel yang paling dominan terdengar di antara kerumunan massa. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya luka dan kemarahan yang dirasakan oleh para pendukung setia mendiang Khamenei, yang menganggap kematian pemimpin spiritual mereka tidak lepas dari kebijakan keras pemerintahan Trump terhadap Teheran.
Pantauan Terdepan.id di lapangan menunjukkan bahwa aparat keamanan Iran berjaga ketat di sekitar lokasi pemakaman, namun tidak melakukan intervensi berarti terhadap aksi demonstratif para pelayat. Situasi di lokasi tetap terkendali meskipun tensi politik yang diusung massa sangat tinggi.
Analis hubungan internasional menilai bahwa seruan balas dendam ini berpotensi meningkatkan ketegangan yang sudah berada di titik didih antara Teheran dan Washington. Publik internasional kini menanti bagaimana respons resmi pemerintahan AS ataupun langkah konkret yang akan diambil oleh rezim penerus di Iran menanggapi tuntutan massa yang menginginkan pembalasan tersebut.
Comments (0)