PBNU Tetapkan Muktamar ke-35 di Tambakberas, Gus Ma’shum Sebut Karamah Kiai Wahab
Jombang kembali menjadi kiblat spiritual warga Nahdliyin. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, yang sarat dengan jejak historis pendiri Nahdlatul Ulam
Jombang kembali menjadi kiblat spiritual warga Nahdliyin. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, yang sarat dengan jejak historis pendiri Nahdlatul Ulama, resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 PBNU. Keputusan ini disambut haru dan khidmat, terutama oleh keluarga besar pesantren yang selama ini merawat ingatan akan kiprah Kiai Wahab Chasbullah—salah satu arsitek besar organisasi Islam terbesar di dunia itu.
Muktamar akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026, menjadi yang pertama kalinya kembali ke Tambakberas setelah puluhan tahun. Bagi Gus Ma’shum Faqih, Wasekjen PBNU, penetapan ini bukan sekadar agenda organisasi. Ia menyebutnya sebagai “karamah” yang mengalir dari sosok Kiai Wahab. “Ini bukan semata soal logistik atau politik. Ada tangan gaib Mbah Wahab yang membimbing kami pulang ke tambatan sejarah,” tuturnya, dengan suara yang bergetar oleh keharuan.
Warisan Kiai Wahab yang Terus Menyala
Pesantren Bahrul Ulum bukan sekadar bangunan tua dengan asrama dan masjid. Ia adalah rahim intelektual tempat lahirnya banyak ulama besar. Kiai Wahab mendirikannya pada 1915 silam, lalu turut menggagas lahirnya NU pada 1926 bersama Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Bisri Syansuri. Sepanjang hayatnya, ia dikenal sebagai begawan fiqih sekaligus diplomat ulung yang merajut hubungan antara ulama dan negara.
Kini, putra-putri spiritualnya masih merasakan getaran ruhani yang sama. Memilih Tambakberas sebagai lokasi muktamar bukan hanya pulang ke pangkuan ibu, melainkan juga menegaskan kembali identitas organisasi yang berakar pada tradisi pesantren. PBNU menegaskan bahwa muktamar ini akan mengusung tema besar penguatan kemandirian ekonomi warga—sebuah napas perjuangan yang juga dikobarkan Kiai Wahab di zamannya.
“Karamah” Bukan Mitos, Tapi Kesinambungan Doa
“Saya yakin ini karamah dari Kiai Wahab. Beliau selalu mendoakan agar Tambakberas terus menjadi tempat lahirnya solusi bagi umat. Muktamar ini jawaban atas doa-doa yang tak pernah putus.” — Gus Ma’shum Faqih, Wasekjen PBNU
Karamah, dalam kosa kata pesantren, sering dipahami sebagai keistimewaan yang diberikan Allah kepada para wali. Namun Gus Ma’shum memaknainya secara lebih membumi: karamah adalah keberkahan yang menjaga mata rantai ilmu dan perjuangan agar tidak terputus. Ia mengingatkan bahwa Kiai Wahab bukan hanya pendiri NU, tapi juga bapak pendidikan yang melahirkan ribuan madrasah dan pesantren di pelosok negeri.
“Muktamar di Tambakberas akan menjadi momentum untuk merefleksikan kembali jasa para muassis. Kita ingin para kiai muda nyantri langsung di tempat Mbah Wahab menanam ilmunya,” imbuh Gus Ma’shum, menekankan pentingnya transmisi nilai kepada generasi penerus.
Persiapan Tambakberas Menyambut Para Kiai
Panitia lokal sudah mulai bergerak sejak keputusan ditetapkan. Aula utama pesantren akan direnovasi, sistem sanitasi diperkuat, dan ratusan bilik kamar tamu disiapkan untuk peserta dari 34 provinsi. Pihak pesantren menggandeng pemkab Jombang untuk mengurai simpul transportasi dan keamanan. “Ini bukan hanya milik Tambakberas, ini hajat besar seluruh warga NU,” kata salah satu pengurus.
Muktamar ke-35 akan dihadiri sekitar 5.000 peserta resmi dan puluhan ribu simpatisan yang diperkirakan membanjiri kawasan ring satu. Sejumlah agenda strategis menanti: pemilihan rais am dan ketua umum baru, pembahasan isu-isu kontemporer, serta perumusan sikap kebangsaan. Semua itu akan berlangsung di bawah atap yang seratus tahun lalu menjadi saksi bisu lahirnya ide-ide besar.
Bagi warga Nahdliyin, kembali ke Tambakberas adalah napak tilas ruhani. Setiap sudut pesantren menyimpan kisah tentang bagaimana Islam rahmatan lil alamin dirumuskan di bumi Nusantara. Dan bagi Gus Ma’shum, takdir yang mempertemukan muktamar dengan tanah pusaka Kiai Wahab adalah pengingat bahwa organisasi besar selalu pulang ke akarnya untuk menemukan arah baru.
Comments (0)