Panas Bumi Berusia Seabad: Energi Kini yang Menggerakkan Ekonomi RI

Setiap kali Anda menekan sakelar lampu, menyalakan kulkas, atau mengisi daya ponsel di malam hari, sebagian kecil listrik yang mengalir itu bisa jadi lahir dari panas yang mendidih ribuan meter di baw...

Panas Bumi Berusia Seabad: Energi Kini yang Menggerakkan Ekonomi RI

Setiap kali Anda menekan sakelar lampu, menyalakan kulkas, atau mengisi daya ponsel di malam hari, sebagian kecil listrik yang mengalir itu bisa jadi lahir dari panas yang mendidih ribuan meter di bawah kaki kita. Inilah panas bumi, energi terbarukan yang tahun ini genap berusia satu abad di Indonesia — dan justru di usia ke-100 inilah dampaknya terhadap ekonomi kian terasa. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), pengelola pembangkit panas bumi terbesar di tanah air, menegaskan bahwa pengembangan energi ini membawa dampak ekonomi yang luas, termasuk efek berganda (multiplier effect) yang menyentuh banyak sektor sekaligus.

Ibarat seperti ketel raksasa yang menyala terus-menerus di dalam bumi: air yang meresap ke kedalaman bersentuhan dengan batuan panas di dekat magma, berubah menjadi uap, lalu memutar turbin dan menghasilkan listrik. Karena sumber panasnya alami dan tidak pernah padam, pembangkit jenis ini mampu bekerja sepanjang hari tanpa bergantung pada cuaca — keunggulan yang tidak dimiliki pembangkit surya maupun angin.

Satu Abad Perjalanan Panas Bumi Indonesia

Jejak pengembangan panas bumi di Nusantara dimulai pada 1926, ketika pengeboran eksplorasi pertama dilakukan di kawasan Kamojang, Jawa Barat, pada masa kolonial. Perjalanan panjang itu berlanjut hingga 1983, saat Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pertama di Indonesia resmi beroperasi secara komersial di lokasi yang sama. Kini tongkat estafet dipegang PGEO, anak usaha Pertamina yang mengelola sebagian besar kapasitas pembangkit panas bumi nasional. Angkanya cukup mengesankan: Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23.900 megawatt (MW), nyaris 40 persen dari total potensi dunia. Sayangnya, kapasitas terpasang baru sekitar 2.400 MW — artinya baru sepersepuluh dari potensi yang berhasil dimanfaatkan. PGEO sendiri mengoperasikan langsung lebih dari 670 MW, atau sekitar dua pertiga dari kapasitas nasional. Komitmen perusahaan juga terlihat di pasar modal: pada Februari 2023, PGEO melantai di Bursa Efek Indonesia (IDX) dengan harga Rp875 per saham dan meraup dana sekitar Rp9,1 triliun, menjadikannya salah satu penawaran saham perdana (IPO/Initial Public Offering) terbesar pada tahun tersebut.

Efek Berganda: Lebih dari Sekadar Listrik

Yang ditekankan PGEO bukan hanya soal produksi listrik, melainkan efek berganda yang mengalir ke ekonomi masyarakat. Efek berganda atau multiplier effect adalah reaksi berantai sederhana: setiap satu rupiah yang diinvestasikan memicu aktivitas ekonomi tambahan di sektor lain. Dalam dunia panas bumi, alurnya kira-kira begini. Pembangunan pembangkit membuka lapangan kerja bagi pekerja lokal, dari tukang las hingga operator mesin; kebutuhan logistik memutar roda usaha transportasi dan katering; program kemitraan serta tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat; dan pajak yang masuk ke kas daerah ikut membiayai perbaikan jalan serta fasilitas publik. Pembangkit-pembangkitnya tersebar dari Lampung, Jawa Barat, hingga Sulawesi Utara — banyak di antaranya berada di kawasan yang sebelumnya minim kegiatan ekonomi.

Studi di berbagai negara menunjukkan bahwa setiap penambahan kapasitas satu gigawatt (GW) dapat menyerap ribuan tenaga kerja selama masa konstruksi dan operasi. Manajemen PGEO menyebut pengembangan panas bumi bukan sekadar urusan kelistrikan, melainkan pembangunan ekosistem ekonomi yang bertahan puluhan tahun — mengingat umur operasional sebuah PLTP bisa mencapai 30 tahun atau lebih. Dari sudut pandang inilah efek berganda panas bumi terasa istimewa: dampaknya panjang, dan kehadirannya mengubah wajah ekonomi daerah terpencil yang selama ini bergantung pada satu sektor.

Tantangan dan Masa Depan Energi Andalan

Meski potensinya raksasa, pengembangan panas bumi bukan tanpa tantangan. Eksplorasi menuntut investasi besar di muka dengan risiko pengeboran yang tidak selalu berhasil; dari survei awal hingga listrik mengalir, dibutuhkan waktu tujuh hingga sepuluh tahun. Karena itu, dukungan kebijakan menjadi kunci. Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) yang terus meningkat menuju target nol emisi karbon (net zero emission) pada 2060, dan panas bumi diharapkan menjadi salah satu pilar utamanya — bukan hanya karena ramah lingkungan, tetapi karena sifatnya yang andal sebagai pembangkit beban dasar (baseload) yang menyala 24 jam nonstop.

Di usia satu abadnya, tantangan panas bumi Indonesia tidak lagi soal membuktikan teknologi, melainkan bagaimana mempercepat implementasi agar efek ekonominya makin terasa di masyarakat. Jika potensi 23.900 MW itu terus dikejar dengan konsisten, efek bergandanya berpotensi menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi terbesar yang dimiliki negeri ini — jauh melampaui sekadar lampu yang menyala di rumah Anda malam ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User