Pabrik Sepatu di Quanzhou Terbakar, Pekerja Berjuang di Atap
Sebuah insiden kebakaran hebat melanda pabrik sepatu milik perusahaan Huitengi di kawasan industri Quanzhou, Provinsi Fujian, pada Kamis (9/7). Peristiwa ini menyita perhatian publik setelah rekaman v...
Sebuah insiden kebakaran hebat melanda pabrik sepatu milik perusahaan Huitengi di kawasan industri Quanzhou, Provinsi Fujian, pada Kamis (9/7). Peristiwa ini menyita perhatian publik setelah rekaman video yang tersebar luas menunjukkan sejumlah pekerja tampak terperangkap di bagian atap gedung, dikepung asap hitam tebal yang membubung tinggi dari bawah. Kepanikan dan upaya penyelamatan yang berlangsung dramatis menjadi fokus utama dalam tragedi yang kembali menyoroti standar keselamatan kerja di sektor manufaktur padat karya.
Kronologi dan Detik-Detik Mencekam
Menurut keterangan saksi mata yang berada di sekitar lokasi, kobaran api pertama kali terlihat sekitar pukul 10.30 waktu setempat dari area penyimpanan bahan baku di lantai dasar. Hanya dalam hitungan menit, api dengan cepat merambat ke bagian produksi yang dipenuhi material mudah terbakar seperti lem, karet sintetis, dan kain pelapis sepatu. Asap pekat langsung memenuhi seluruh ruangan, memutus akses evakuasi utama bagi para pekerja yang sebagian besar adalah perempuan. Rekaman video berdurasi 45 detik yang diambil warga dari gedung seberang memperlihatkan sekitar 15 orang berdiri di tepi atap bangunan tiga lantai itu, melambai-lambaikan tangan dan berteriak meminta pertolongan sementara jilatan api mulai merayap naik melalui ventilasi di sisi luar gedung.
Situasi semakin mengkhawatirkan karena bangunan pabrik yang berdiri sejak tahun 2008 itu diketahui hanya memiliki satu tangga darurat utama yang letaknya sudah terhalang api. Beberapa pekerja memilih naik ke atap melalui jendela lantai tiga sebagai jalan keluar terakhir. "Mereka tidak punya pilihan lain," ujar Liu, seorang pekerja konstruksi yang menyaksikan kejadian dan ikut membantu proses evakuasi awal bersama warga sekitar menggunakan tangga kayu seadanya sebelum petugas tiba.
Respons Cepat dan Operasi Penyelamatan
Dinas Pemadam Kebakaran Quanzhou mengerahkan 14 unit mobil pemadam dan lebih dari 70 personel ke lokasi setelah menerima laporan pukul 10.42. Komandan regu pertama yang tiba dalam waktu delapan menit langsung memprioritaskan evakuasi pekerja yang terperangkap di atap. Dua unit tangga hidrolik diterjunkan secara simultan untuk menjangkau ketinggian sekitar 15 meter tempat para pekerja berdiri. Proses evakuasi berlangsung dramatis karena asap tebal terus mengganggu jarak pandang dan suhu di sekitar atap dilaporkan mencapai titik yang nyaris tidak tertahankan. Seluruh pekerja yang berada di atap berhasil diturunkan dalam waktu 25 menit setelah petugas tiba, sebuah keberhasilan yang mendapat apresiasi dari otoritas setempat meskipun lima di antaranya harus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat karena mengalami luka bakar ringan dan gangguan pernapasan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Quanzhou, Chen Ming, dalam konferensi pers singkatnya menyatakan bahwa api berhasil dikendalikan sepenuhnya pada pukul 12.15, sekitar 105 menit setelah operasi dimulai. "Fokus utama kami adalah memastikan tidak ada lagi pekerja yang tertinggal di dalam gedung. Kami melakukan penyisiran menyeluruh dengan alat pendeteksi panas setelah pendinginan," jelasnya. Hingga pukul 15.00 waktu setempat, petugas masih melakukan proses pendinginan dan pengamanan struktur bangunan yang dikhawatirkan mengalami kerusakan parah.
Korban dan Penanganan Medis
Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana setempat mencatat total 12 pekerja mengalami luka-luka, dengan tujuh di antaranya dirawat intensif di Rumah Sakit Rakyat Quanzhou akibat menghirup asap berlebihan. Tidak ada laporan korban jiwa hingga Kamis malam, namun tim medis masih memantau kondisi para korban yang mengalami trauma psikologis akut. Direktur rumah sakit, dr. Lin, menyebutkan bahwa dua pekerja menunjukkan gejala keracunan karbon monoksida dan tengah menjalani terapi oksigen hiperbarik. "Mayoritas korban mengalami luka bakar derajat satu di tangan dan kaki akibat kontak dengan permukaan atap yang panas. Kami optimis mereka bisa pulih dalam waktu singkat," tambahnya.
Manajemen Huitengi belum memberikan pernyataan resmi, namun sumber internal menyebutkan perusahaan telah menginstruksikan seluruh karyawan untuk bekerja dari rumah selama masa investigasi. Serikat pekerja setempat mendesak manajemen agar memberikan kompensasi penuh bagi korban dan menjamin hak-hak buruh yang terdampak penghentian operasional. "Ini adalah peringatan keras bahwa pengabaian protokol keselamatan tidak bisa ditoleransi lagi," kata perwakilan serikat dalam keterangan tertulis.
Penyebab, Investigasi, dan Sorotan Keselamatan Kerja
Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan intensif oleh kepolisian sektor Quanzhou dan tim forensik kebakaran. Dugaan awal mengarah pada hubungan pendek arus listrik di area penyimpanan yang kemudian memicu percikan api pada tumpukan lem sintetis. Namun, sejumlah pengamat keselamatan kerja menuding tata letak pabrik yang buruk serta ketiadaan sistem sprinkler otomatis sebagai faktor yang memperparah situasi. Pabrik Huitengi tercatat belum pernah menjalani inspeksi keselamatan kebakaran komprehensif dalam dua tahun terakhir, menurut data dari asosiasi keselamatan industri setempat. Bangunan itu juga tidak dilengkapi dengan detector asap dan jalur evakuasi yang memadai sesuai standar nasional 2022.
Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan kerja di sektor manufaktur China yang selama beberapa tahun terakhir menjadi sorotan internasional. Data Administrasi Keselamatan Kerja Nasional mencatat lebih dari 1.200 kasus kebakaran pabrik terjadi sepanjang semester pertama tahun ini, dengan 65% di antaranya disebabkan oleh kelalaian pemeliharaan instalasi listrik. Pemerintah kota Quanzhou berjanji akan melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh fasilitas industri di kawasan tersebut dalam waktu dekat. "Keselamatan pekerja tidak bisa dikompromikan demi efisiensi produksi semata. Kami akan memastikan seluruh pabrik mematuhi regulasi tanpa terkecuali," tegas Wakil Wali Kota Quanzhou dalam pernyataan resmi menjelang malam hari.
Bagi keluarga pekerja yang menjadi korban, tragedi Kamis pagi itu meninggalkan trauma mendalam. Salah satunya adalah suami dari seorang pekerja bernama Mei, yang masih dirawat di rumah sakit. "Saya hanya berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Pabrik harus bertanggung jawab," ucapnya dengan suara bergetar. Sementara itu, rekaman yang tersebar di media sosial terus memicu diskusi publik tentang urgensi penegakan hukum yang lebih ketat di sektor industri, agar atap gedung tidak lagi menjadi satu-satunya harapan bagi pekerja yang berjuang menyelamatkan diri dari maut.
Baca juga:
Comments (0)