Nothing Disebut Geser Fokus dari Ponsel ke Perangkat AI
Mengapa kabar ini penting bagi Anda? Jika selama ini Anda mengenal Nothing sebagai merek ponsel dengan desain transparan dan lampu Glyph yang ikonik, bersiaplah menghadapi perubahan besar. Perusahaan ...
Mengapa kabar ini penting bagi Anda? Jika selama ini Anda mengenal Nothing sebagai merek ponsel dengan desain transparan dan lampu Glyph yang ikonik, bersiaplah menghadapi perubahan besar. Perusahaan teknologi asal London, Inggris, ini dilaporkan tengah mengalihkan fokus serta sumber dayanya dari ponsel Android menuju perangkat berbasis AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan), termasuk sebuah jam tangan pintar yang bocorannya beredar di kalangan industri. Keputusan ini bisa berdampak langsung pada konsumen: pembaruan ponsel Nothing di masa depan berpotensi melambat, sementara kategori produk baru justru disiapkan menjadi tulang punggung bisnis perusahaan.
Nothing didirikan pada tahun 2020 oleh Carl Pei, salah satu pendiri OnePlus. Perusahaan ini membangun namanya lewat janji tampil berbeda di tengah industri ponsel yang dianggap monoton. Produk audio Ear (1) meluncur pada 2021, disusul Phone (1) pada Juli 2022 yang dijual di kelas menengah sekitar 400 poundsterling atau kisaran Rp7 jutaan saat itu. Sejak itu, lini produknya berkembang ke Phone (2), Phone (2a), Phone (3), hingga sub-merek CMF yang menyasar segmen lebih terjangkau. Hingga 2025, Nothing mengklaim telah mengapalkan jutaan unit perangkat dengan pendapatan tahunan menembus satu miliar dolar AS.
Perubahan Arah: Dari Ponsel ke Kecerdasan Buatan
Menurut sumber yang mengetahui rencana internal perusahaan, Nothing ingin mengalokasikan lebih sedikit sumber daya untuk pengembangan ponsel Android. Sebagai gantinya, prioritas diberikan pada perangkat yang dirancang sejak awal untuk AI, sebuah konsep yang dikenal sebagai perangkat AI-native. Ibarat seperti restoran yang terkenal karena satu menu legendaris: menu itu tidak dihapus dari daftar, tetapi sang koki kini mencurahkan sebagian besar waktunya meracik konsep hidangan baru. Bagi pelanggan setia, pertanyaannya sederhana, apakah cita rasa menu lama akan tetap terjaga?
Arah ini sebenarnya sudah diisyaratkan Carl Pei sejak 2024, ketika ia menyebut era aplikasi tradisional akan memudar dan digantikan antarmuka berbasis AI yang memahami konteks kebutuhan pengguna secara proaktif. Nothing kemudian memperkenalkan fitur Essential Space pada 2025, semacam pusat AI yang mengumpulkan tangkapan layar, catatan suara, dan pengingat dalam satu tempat, serta platform eksperimental bernama Playground yang memungkinkan pengguna membuat aplikasi mini hanya dengan perintah teks. Pada September 2025, perusahaan juga mengumumkan pendanaan baru sebesar 200 juta dolar AS (sekitar Rp3,3 triliun) dengan valuasi 1,3 miliar dolar AS, yang sebagian dananya dialokasikan untuk pengembangan perangkat AI generasi berikutnya.
Jam Tangan Pintar yang Bocor ke Publik
Di tengah kabar perubahan strategi, muncul bocoran mengenai jam tangan pintar pertama dengan merek Nothing. Berbeda dari CMF Watch yang menyasar segmen murah, perangkat ini disebut-sebut menjadi bagian dari lini perangkat AI utama perusahaan dan dijadwalkan meluncur pada 2026. Detail spesifikasinya masih dirahasiakan, tetapi jam tangan pintar dipandang sebagai wujud paling logis dari ambisi AI Nothing: perangkat yang selalu menempel di tubuh, kaya sensor, dan bisa diakses tanpa perlu mengeluarkan ponsel dari saku.
Secara teknis, jam tangan pintar memang kandidat kuat untuk implementasi kecerdasan buatan. Sensor detak jantung, pelacak tidur, mikrofon, dan konektivitas seluler memungkinkan algoritma machine learning (pembelajaran mesin) bekerja secara proaktif, misalnya mengingatkan jadwal, merangkum pesan masuk, atau memberi saran kesehatan tanpa diminta. Inilah inti paradigma post-app: pengguna tidak lagi membuka aplikasi satu per satu, melainkan cukup berbicara atau menerima rekomendasi otomatis dari perangkatnya.
Tren Industri: Pelajaran dari Perangkat AI Lain
Langkah Nothing datang di tengah gelombang eksperimen perangkat AI di industri teknologi, dan rekam jejak kategori ini beragam. Humane AI Pin, perangkat tanpa layar seharga 699 dolar AS, gagal di pasaran dan perusahaannya akhirnya dijual ke perusahaan komputer HP pada awal 2025. Rabbit R1 yang dibanderol 199 dolar AS juga menuai kritik karena fungsinya dinilai mudah digantikan ponsel biasa. Sebaliknya, kacamata pintar Ray-Ban Meta justru mencetak penjualan jutaan unit berkat pendekatan yang lebih sederhana: kamera, audio, dan asisten suara dalam bentuk yang sudah familiar bagi konsumen.
Persaingan juga diprediksi semakin ketat. OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, mengakuisisi startup perangkat keras io milik desainer legendaris Jony Ive dengan nilai sekitar 6,5 miliar dolar AS pada 2025 dan tengah menyiapkan perangkat AI pertamanya. Artinya, Nothing tidak hanya bersaing dengan sesama pemain ponsel, tetapi juga dengan raksasa AI bermodal besar. Dalam berbagai kesempatan, Carl Pei menegaskan bahwa ponsel pintar akan tetap menjadi perangkat utama dalam beberapa tahun ke depan, tetapi masa depan komputasi personal milik perangkat yang dirancang khusus untuk AI. Visi ini menempatkan Nothing pada posisi unik: cukup kecil untuk bergerak lincah, namun cukup mapan untuk memiliki basis pengguna setia.
Apa Artinya bagi Konsumen?
Bagi pemilik ponsel Nothing, kabar ini bukan berarti perangkat mereka akan ditinggalkan dalam waktu dekat. Perusahaan telah berkomitmen memberikan pembaruan sistem operasi Android selama beberapa tahun untuk lini terbarunya. Namun, pengalihan sumber daya tetap menimbulkan tanda tanya besar: apakah penerus Phone (3) akan tetap inovatif, atau sekadar penyegaran minor tanpa terobosan berarti?
Bagi pasar yang lebih luas, termasuk Indonesia tempat komunitas penggemar Nothing cukup vokal, pergeseran ini layak dipantau dengan saksama. Jika berhasil, jam tangan pintar AI Nothing bisa membuka kategori baru yang mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi sehari-hari. Jika gagal, perusahaan berisiko kehilangan momentum di pasar ponsel yang justru membesarkan namanya. Seperti halnya setiap disrupsi dalam sejarah teknologi, hanya eksekusi nyata, bukan sekadar visi besar, yang akan menentukan hasil akhirnya.
Comments (0)