Netanyahu Samakan Gaza dengan Korut, Isolasi Digital Ikut Disorot

Pernyataan seorang pemimpin negara tidak pernah sekadar rangkaian kata. Ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyamakan warga Jalur Gaza dengan penduduk Korea Utara — dengan alasan kedua...

Netanyahu Samakan Gaza dengan Korut, Isolasi Digital Ikut Disorot

Pernyataan seorang pemimpin negara tidak pernah sekadar rangkaian kata. Ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyamakan warga Jalur Gaza dengan penduduk Korea Utara — dengan alasan keduanya tidak dapat meninggalkan wilayah masing-masing — ucapan itu langsung memicu perdebatan global. Mengapa ini penting bagi kita? Karena di balik perbandingan tersebut tersimpan persoalan yang sangat nyata di era modern: bagaimana teknologi, kebijakan perbatasan, dan pembatasan digital dapat mengurung jutaan manusia dalam sebuah wilayah, baik secara fisik maupun virtual.

Gaza adalah kantong wilayah seluas sekitar 365 kilometer persegi yang dihuni lebih dari 2,3 juta jiwa, menjadikannya salah satu kawasan terpadat di dunia. Ibarat sebuah kota besar yang seluruh pintunya dikunci dari luar, warga di sana bergantung pada lintas batas yang dikontrol ketat, seperti Erez di utara dan Rafah di selatan. Sementara itu, Korea Utara — negara berpenduduk sekitar 26 juta jiwa — selama puluhan tahun dikenal sebagai negara paling tertutup di dunia, di mana warganya memerlukan izin ketat dari pemerintah untuk bepergian ke luar negeri.

Inti Pernyataan Netanyahu

Dalam pernyataannya, Netanyahu menilai kesulitan warga Gaza untuk keluar dari wilayah tersebut serupa dengan kondisi warga Korea Utara yang tidak bebas bepergian. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023, ketika akses keluar-masuk Gaza praktis lumpuh dan bantuan kemanusiaan tersendat.

Sejumlah kritikus menilai perbandingan itu bermasalah karena mengaburkan konteks. Pembatasan di Gaza merupakan hasil blokade dan konflik bersenjata, sementara pembatasan di Korea Utara lahir dari sistem politik tertutup yang dibangun negaranya sendiri selama beberapa dekade. Meski berbeda akar persoalan, ada satu irisan yang sulit dibantah: keduanya menunjukkan bagaimana manusia bisa terisolasi dari dunia luar, dan teknologi memainkan peran besar dalam isolasi tersebut.

Isolasi Digital: Dua Dunia yang Sama-Sama Terputus

Dari sudut pandang teknologi, perbandingan ini menarik untuk dibedah. Korea Utara menjalankan sistem Kwangmyong, sebuah intranet nasional — jaringan internal tertutup yang tidak terhubung ke internet global. Hanya segelintir elite dan institusi tertentu yang dapat mengakses internet dunia, itu pun dengan pengawasan ketat. Platform global seperti media sosial, mesin pencari, dan layanan pesan internasional praktis tidak tersedia bagi warga biasa.

Gaza berada dalam situasi berbeda, tetapi dengan hasil yang serupa. Sebelum konflik terbaru, sebagian warga Gaza masih terhubung ke internet global meski dengan infrastruktur terbatas dan listrik yang hanya menyala beberapa jam sehari. Namun sejak eskalasi terbaru, pemadaman internet dan jaringan telekomunikasi berulang kali terjadi, memutus komunikasi warga dengan keluarga, layanan darurat, dan dunia luar. Dalam kondisi tersebut, Gaza secara digital bisa sama gelapnya dengan Pyongyang.

AspekJalur GazaKorea Utara
Populasi±2,3 juta jiwa±26 juta jiwa
Luas wilayah±365 km²±120.500 km²
Akses internet globalTerbatas, kerap diputus saat konflikNyaris nol, hanya intranet Kwangmyong
Akses keluar wilayahMelalui lintas batas Erez dan Rafah dengan izin ketatMemerlukan izin negara, sangat jarang diberikan
Penyebab isolasiBlokade dan konflik bersenjataSistem politik tertutup

Teknologi di Balik Tembok Pembatas

Isolasi modern tidak lagi sekadar tembok beton dan kawat berduri. Di banyak wilayah konflik, implementasi teknologi pengawasan menjadi lapisan pembatas yang tidak kasatmata. Sistem pengenalan wajah berbasis AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan), kamera CCTV (Closed-Circuit Television/televisi sirkuit tertutup) yang terhubung ke pusat data, hingga algoritma analisis pergerakan kini umum dipakai untuk mengontrol lintas batas manusia.

Ibarat penjaga pintu yang tidak pernah tidur, teknologi semacam ini mampu memindai ribuan wajah per jam dan mencocokkannya dengan basis data dalam hitungan detik. Penelitian berbagai lembaga menunjukkan pengembangan sistem pengawasan pintar telah menjadi tren global, dengan efisiensi yang terus meningkat berkat machine learning (pembelajaran mesin) — cabang AI yang memungkinkan komputer belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit.

Pembatasan pergerakan di abad ke-21 tidak lagi hanya soal siapa yang menjaga gerbang, tetapi juga siapa yang mengendalikan jaringan, data, dan algoritma di baliknya, ujar seorang pengamat kebijakan teknologi dan hak asasi manusia.

Mengapa Ini Relevan bagi Pembaca

Bagi pembaca awam, pernyataan Netanyahu adalah pengingat bahwa kebebasan digital dan kebebasan fisik kini saling terkait. Ketika sebuah wilayah kehilangan konektivitas, warganya ikut kehilangan akses ke layanan kesehatan jarak jauh, pendidikan daring, hingga kemampuan melaporkan kondisi kemanusiaan ke dunia luar. Ekosistem digital yang sehat bukan lagi kemewahan, melainkan infrastruktur dasar kehidupan modern.

Perdebatan soal Gaza dan Korea Utara pada akhirnya bukan sekadar soal perbandingan retoris seorang pemimpin. Ini adalah cermin tentang bagaimana inovasi teknologi bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi menghubungkan dunia, di sisi lain menjadi instrumen pengendalian yang sangat efektif. Bagi jutaan orang yang hidup di balik pembatasan itu, pertanyaan paling mendasar tetap sama — kapan pintu, baik fisik maupun digital, akan benar-benar terbuka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User