MPLS Ramah 2026 Harus Jadi Panggung Mimpi, Bukan Sekadar Anti-Perpeloncoan
Jakarta - Orientasi siswa baru di Indonesia akan memasuki babak baru pada tahun 2026. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa Masa Pengenalan ...
Jakarta - Orientasi siswa baru di Indonesia akan memasuki babak baru pada tahun 2026. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 tidak boleh hanya berhenti pada upaya menghapus perpeloncoan. Lebih dari itu, program ini harus bertransformasi menjadi ruang yang subur bagi tumbuhnya mimpi dan empati di kalangan peserta didik. Arahan ini menandai pergeseran paradigma penting dalam dunia pendidikan nasional: dari sekadar meniadakan kekerasan, menuju pembangunan fondasi karakter yang kokoh sejak hari pertama anak menginjakkan kaki di sekolah.
Evolusi MPLS: Dari Zona Bebas Takut ke Arena Pembentuk Harapan
Selama lebih dari dua dekade, MPLS—yang dulu dikenal dengan istilah MOS (Masa Orientasi Siswa)—kerap diwarnai praktik perpeloncoan yang meresahkan. Berbagai riset Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa intimidasi, tugas-tugas tak relevan, hingga kekerasan verbal masih menjadi momok di banyak sekolah, terutama di jenjang menengah pertama dan atas. Regulasi demi regulasi diterbitkan untuk menekan angka tersebut, dan istilah "MPLS Ramah" pun diperkenalkan sebagai simbol era baru yang bebas dari aksi perundungan. Namun, menurut Wamendikdasmen Fajar, kebijakan yang hanya berfokus pada pencegahan belaka tidak lagi memadai. "Kita tidak boleh puas hanya dengan kondisi tanpa kekerasan. MPLS 2026 harus menjadi panggung bagi anak-anak untuk menyuarakan cita-cita mereka dan belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain," ujarnya di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional Pendidikan, mengisyaratkan perlunya lompatan kualitas dalam desain orientasi siswa.
Ibarat sebuah lahan yang tadinya hanya dibersihkan dari tanaman liar, kini lahan itu harus diolah, dipupuk, dan ditanami benih-benih unggul. Benih itu adalah mimpi personal dan empati sosial. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pembelajaran holistik yang menempatkan kecerdasan emosional dan spiritual setara dengan kecerdasan intelektual. Para pendidik didorong untuk merancang kegiatan MPLS yang membangkitkan imajinasi siswa tentang masa depan mereka—melalui sesi berbagi kisah sukses alumni, pembuatan papan visi, atau diskusi ringan tentang profesi yang diminati. Di saat yang sama, aktivitas kolaboratif seperti permainan peran atau proyek kemanusiaan sederhana di lingkungan sekitar sekolah dinilai efektif untuk menumbuhkan empati, yaitu kemampuan memahami dan peduli terhadap kondisi teman sebaya maupun masyarakat luas.
Memadukan Ambisi Pribadi dan Kepekaan Sosial dalam Bingkai Orientasi
Gagasan menumbuhkan mimpi di MPLS bukan berarti memaksa anak untuk memiliki target hidup yang kaku. Mimpi di sini diartikan sebagai keberanian untuk bercita-cita dan merencanakan langkah positif ke depan, sekaligus kesadaran bahwa setiap individu unik dengan potensinya masing-masing. Sementara itu, empati menjadi krusial sebagai penyeimbang agar ambisi personal tidak berubah menjadi individualisme yang hampa. Seorang guru di SMP Negeri 2 Yogyakarta yang telah menerapkan prototipe MPLS tematik menuturkan, "Kami mengajak siswa membuat `dream journal` dan menulis surat untuk teman sekelas yang belum dikenal. Dua kegiatan sederhana itu ternyata ampuh mengurai kecanggungan dan membangun kepercayaan diri serta saling pengertian." Testimoni semacam ini menjadi bukti awal bahwa sekolah dapat menjadi inkubator mimpi dan empati tanpa memerlukan infrastruktur mahal atau kurikulum tambahan yang membebani.
Untuk menjamin keberhasilan MPLS Ramah 2026 secara nasional, kementerian tengah menyiapkan modul panduan berbasis proyek yang dapat diadaptasi oleh satuan pendidikan di berbagai daerah. Modul tersebut mengintegrasikan metode Active Learning (pembelajaran aktif) dan Design Thinking (pola pikir desain), di mana siswa tidak sekadar mendengar ceramah, tetapi merumuskan tantangan, berkolaborasi mencari solusi, dan mempresentasikannya. Sebagai contoh, dalam satu sesi, sekelompok siswa mungkin diminta mengidentifikasi satu masalah di lingkungan sekolah—misalnya, tempat sampah yang kurang atau teman yang sering menyendiri—lalu merancang kampanye kebaikan selama masa orientasi. Proses inilah yang diyakini mampu memantik empati dan sekaligus memperjelas bakat atau minat yang mungkin menjadi cikal bakal mimpi.
Tantangan di Lapangan dan Peta Jalan Menuju 2026
Transformasi ini tentu tidak lepas dari hambatan. Banyak guru dan kepala sekolah masih memaknai MPLS sekadar sebagai ajang pengenalan fasilitas dan tata tertib. Mengubah mentalitas tersebut membutuhkan pelatihan intensif dan pendampingan berkelanjutan. Wamendikdasmen mengakui bahwa kesenjangan kualitas pelatihan guru antarwilayah menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. "Kami akan memanfaatkan platform Merdeka Mengajar untuk menyebarluaskan praktik baik dan menyelenggarakan lokakarya virtual secara masif sebelum tahun ajaran 2026 dimulai," jelasnya. Selain itu, peran orang tua juga akan diperkuat melalui sosialisasi agar mereka turut mendorong anak-anaknya memandang MPLS sebagai pengalaman positif, bukan ritual menakutkan yang harus dilewati.
Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan bahwa 47% kasus perundungan pada anak terjadi di lingkungan sekolah, dengan puncaknya justru sering ditemui pada minggu-minggu awal tahun ajaran. Statistik ini menjadi pengingat bahwa risiko kekerasan masih mengintai, dan pendekatan yang hanya mengandalkan larangan tanpa memberi ruang ekspresi positif terbukti belum cukup. MPLS Ramah 2026 diharapkan menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk membangun sistem pencegahan berbasis komunitas sekolah yang inklusif. Di dalamnya, siswa bukan lagi objek yang harus "dikerjai" oleh kakak kelas, melainkan subjek yang dirayakan kedatangannya dan didorong untuk segera merasa memiliki serta dihargai.
Transformasi ini pada akhirnya bukan sekadar tentang tujuh hari orientasi. Ia adalah cerminan dari bagaimana bangsa ini mempersiapkan generasi emasnya: manusia-manusia yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kaya akan imajinasi masa depan dan tajam kepekaannya terhadap sesama. Dengan menjadikan MPLS Ramah 2026 sebagai panggung mimpi dan empati, Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq ingin menegaskan bahwa hari pertama sekolah harus menjadi awal perjalanan penuh harapan—sebuah langkah kecil yang menentukan arah karakter bangsa di masa depan. Kini, bola berada di tangan para pendidik, pemerintah daerah, dan seluruh masyarakat untuk mewujudkan visi tersebut di lebih dari 400 ribu sekolah di Indonesia.
Baca juga:
Comments (0)