Haru di Palembang: Rumah Guru Ngaji Lansia Direnovasi Kapolri

Palembang - Tangis haru tak kuasa dibendung oleh seorang guru ngaji lanjut usia di Palembang. Rumah sederhana yang selama ini ia tinggali, yang kondisinya jauh dari kata layak, mendadak berubah total ...

Palembang - Tangis haru tak kuasa dibendung oleh seorang guru ngaji lanjut usia di Palembang. Rumah sederhana yang selama ini ia tinggali, yang kondisinya jauh dari kata layak, mendadak berubah total setelah mendapat perhatian langsung dari Kapolri. Peristiwa ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan simbol nyata bahwa pengabdian yang tulus, meski di tengah keterbatasan, pada akhirnya akan mendapatkan sentuhan kemanusiaan dari pemimpin negeri ini.

Kondisi Memprihatinkan Sebelum Renovasi

Sebelum bantuan datang, kondisi tempat tinggal sang guru ngaji benar-benar memprihatinkan. Dinding papan yang mulai lapuk, atap bocor yang membuat lantai tanah menjadi becek saat hujan, serta ruangan sempit tanpa pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik menjadi pemandangan sehari-hari. Sang guru, yang telah puluhan tahun mengabdikan diri mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak di kampungnya, tidak pernah mengeluh. Ia menjalani hari-hari dengan lapang dada, menanamkan nilai-nilai agama pada generasi penerus negeri, tepat di rumah yang nyaris roboh tersebut.

Murid-murid ngajinya setiap sore tetap datang. Mereka duduk di alas seadanya, tanpa bangku, tanpa papan tulis modern. Hanya ada mushaf tua dan suara lantang sang guru yang setia mengajarkan huruf demi huruf hijaiyah. Rasa syukur sang guru tak pernah pudar, meski atap rumah sering kali tak mampu menahan derasnya air hujan.

Langkah Cepat Kapolri dan Jajarannya

Informasi tentang kondisi guru ngaji lansia itu sampai ke telinga orang nomor satu di Korps Bhayangkara. Tanpa menunggu lama, Kapolri langsung menginstruksikan jajarannya untuk melakukan bedah rumah. Bukan sekadar perbaikan ringan, renovasi total digelar dalam waktu singkat. Dinding papan diganti dengan bata kokoh, lantai tanah diubah menjadi keramik yang bersih, dan genteng baru dipasang untuk memastikan rumah menjadi tempat yang aman dan nyaman.

Program bedah rumah yang digerakkan langsung oleh Kapolri ini menjadi bukti bahwa institusi Polri tidak hanya hadir dalam urusan penegakan hukum, tetapi juga sebagai pelayan masyarakat. Inisiatif ini selaras dengan upaya membangun kembali rumah-rumah tidak layak huni, khususnya yang dimiliki oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berjasa dalam pembinaan moral generasi muda.

Saat proses renovasi berjalan, warga sekitar turut menyaksikan dengan mata berkaca-kaca. Mereka menyaksikan langsung bagaimana kegigihan seorang guru mengaji yang selama ini dianggap sebagai sosok sederhana, akhirnya mendapatkan perhatian dari pusat. Tidak sedikit dari tetangga yang ikut membantu tenaga, menunjukkan gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat.

Guru Ngaji yang Tak Kenal Lelah

Guru ngaji lansia itu telah menghabiskan lebih dari separuh usianya untuk mengajar. Pagi hingga sore ia gunakan untuk berladang atau pekerjaan serabutan, sementara petang dan malamnya diisi dengan suara anak-anak yang melafalkan ayat-ayat suci. Ia tidak pernah menetapkan tarif, bahkan kerap kali ia yang justru menyediakan kue atau teh hangat untuk murid-muridnya.

Dedikasinya yang tulus inilah yang menyentuh hati banyak pihak. Meski hidup dalam kekurangan, ia tidak pernah berhenti menebar manfaat. Kini, dengan rumah yang telah dirombak total, ia memiliki ruang yang lebih layak untuk melanjutkan pengabdiannya. Ruang tamu yang sebelumnya sempit kini bisa menampung lebih banyak santri. Ventilasi yang baik membuat anak-anak tidak lagi kepanasan saat belajar.

Tangis haru sang guru mengaji pecah saat Kapolri melalui perwakilannya menyerahkan kunci rumah yang telah selesai direnovasi. Beliau tak henti-hentinya mengucap syukur, mendoakan semua pihak yang terlibat, dan menyatakan bahwa bantuan tersebut adalah anugerah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Bantuan Sosial Polri: Program Nyata

Renovasi rumah guru ngaji ini bukanlah program tunggal. Kapolri telah menginisiasi berbagai program bedah rumah di berbagai daerah, khususnya bagi mereka yang tergolong kurang mampu dan memiliki kontribusi dalam kehidupan sosial. Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan humanis yang ingin ditanamkan di tubuh Polri, bahwa polisi adalah sahabat dan pelindung masyarakat dalam arti yang seluas-luasnya.

Dengan adanya program ini, Kepolisian ingin menunjukkan bahwa kehadiran negara melalui institusinya mampu memberikan perubahan nyata bagi warga yang membutuhkan. Rumah yang kini berdiri kokoh bukan lagi sekadar tempat berteduh, tetapi simbol harapan, pengakuan atas jasa, dan bukti bahwa kebaikan yang ditanam oleh seseorang akan kembali kepada dirinya di waktu yang tepat.

Kini sang guru ngaji bisa kembali mengajar dengan lebih tenang. Suara lantunan ayat suci tak lagi harus bersaing dengan deru angin yang masuk lewat dinding bolong. Anak-anak santrinya bisa lebih fokus menghafal, dan warga sekitar semakin termotivasi untuk terus menjaga semangat berbagi. Bantuan ini, dalam pandangan masyarakat, adalah bentuk keajaiban modern yang menjawab doa-doa panjang seorang abdi Al-Qur’an yang tak pernah lelah berbuat baik.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User