Menkomdigi Soroti Konten Meresahkan: Ujian bagi Ekosistem Digital Indonesia

Bagi jutaan orang Indonesia, media sosial bukan lagi sekadar hiburan, melainkan ruang publik tempat anak-anak belajar, remaja membentuk identitas, dan keluarga mencari informasi setiap hari. Karena it...

Menkomdigi Soroti Konten Meresahkan: Ujian bagi Ekosistem Digital Indonesia

Bagi jutaan orang Indonesia, media sosial bukan lagi sekadar hiburan, melainkan ruang publik tempat anak-anak belajar, remaja membentuk identitas, dan keluarga mencari informasi setiap hari. Karena itu, ketika ada konten kreator yang membuat gaduh dengan tayangan yang dianggap meresahkan, persoalannya bukan cuma soal selera, melainkan soal kesehatan ekosistem digital yang kita huni bersama. Inilah yang membuat pernyataan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menjadi penting untuk disimak publik.

Meutya Hafid baru-baru ini menanggapi polemik yang melibatkan dua konten kreator tanah air, yakni Bigmo dan Ebemartono. Keduanya menjadi perbincangan hangat warganet karena konten yang mereka produksi dinilai mengganggu kenyamanan publik. Respons sang menteri menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam terhadap dinamika di ruang digital, sekaligus mengirim sinyal kepada seluruh pelaku industri kreatif bahwa kebebasan berekspresi tetap memiliki batas yang harus dihormati.

Siapa Bigmo dan Ebemartono?

Bigmo dikenal luas melalui konten yang menonjolkan kemewahan serta aksi bagi-bagi uang dengan cara yang dinilai sebagian publik berlebihan dan tidak mendidik. Sementara itu, Ebemartono kerap membuat konten jebakan atau prank yang menyasar orang-orang di sekitarnya, sehingga memicu gelombang kritik di media sosial. Kritik publik terhadap keduanya bermuara pada satu pertanyaan besar: di mana batas antara kreativitas dan keresahan?

Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai negara, konten yang memancing emosi memang terbukti lebih cepat menyebar. Namun, ketika konten seperti itu diproduksi secara masif demi mengejar jumlah penonton, dampaknya bisa meluas, mulai dari normalisasi perilaku tidak etis hingga kecemasan di tengah masyarakat.

Respons Pemerintah dan Arah Kebijakan Digital

Dalam tanggapannya, Meutya Hafid menekankan pentingnya tanggung jawab bersama antara kreator, platform, dan masyarakat. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memiliki kewenangan mengawasi konten di ruang digital, antara lain berlandaskan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta regulasi turunannya yang mengatur konten melanggar hukum.

Indonesia sendiri merupakan pasar digital raksasa. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat penetrasi internet nasional menembus 79,5 persen atau setara lebih dari 221 juta pengguna. Dengan skala sebesar itu, setiap konten yang viral berpotensi menjangkau jutaan pasang mata hanya dalam hitungan jam, sehingga tata kelola konten menjadi urusan serius yang tidak bisa ditunda.

Algoritma: Ibarat Etalase Toko yang Tak Pernah Tidur

Mengapa konten meresahkan sering kali justru viral? Jawabannya terletak pada algoritma, yakni sistem komputasi yang mengatur konten apa yang muncul di linimasa pengguna. Ibarat seperti penjaga toko yang selalu menaruh barang paling laris di etalase depan, algoritma platform memprioritaskan konten dengan interaksi tinggi, tanpa memedulikan apakah konten itu mendidik atau justru meresahkan.

Di balik layar, platform digital mengandalkan machine learning, cabang AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang memungkinkan komputer belajar dari pola perilaku pengguna. Semakin lama Anda menonton sebuah video, semakin sering konten serupa disodorkan ke layar Anda. Inovasi ini memang meningkatkan efisiensi distribusi konten, tetapi juga menciptakan disrupsi berupa banjir tayangan sensasional. Karena itu, pengembangan sistem moderasi berbasis teknologi, ditambah penelitian berkelanjutan tentang perilaku digital, menjadi kunci implementasi tata kelola yang sehat.

Dampak bagi Ekosistem Kreator Indonesia

Pernyataan Menkomdigi ini bisa menjadi titik balik bagi industri kreator tanah air. Ekonomi kreator di Indonesia terus tumbuh, dengan jutaan orang menggantungkan penghasilan dari platform digital. Namun, pertumbuhan itu harus dibarengi literasi dan etika. Konten yang baik bukan hanya yang ramai ditonton, melainkan juga yang memberi nilai bagi penontonnya.

Bagi publik, peristiwa ini adalah pengingat bahwa setiap klik, suka, dan bagikan adalah suara yang menentukan konten apa yang akan mendominasi ruang digital. Dengan pengawasan pemerintah, implementasi teknologi moderasi yang lebih baik, serta kesadaran penonton yang kritis, ekosistem digital Indonesia berpeluang tumbuh menjadi ruang yang lebih sehat, inklusif, dan bermanfaat bagi semua.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User