Menko Airlangga Hadiri Istana, BCA Dorong Wisata Gastronomi

Pemandangan kontras namun saling melengkapi mewarnai Rabu, 11 Februari 2026. Di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terliha

Menko Airlangga Hadiri Istana, BCA Dorong Wisata Gastronomi

Pemandangan kontras namun saling melengkapi mewarnai Rabu, 11 Februari 2026. Di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terlihat memasuki Istana Negara—kehadiran yang menandai kembali fokus pemerintah pada pengungkit pertumbuhan di tengah dinamika global. Ribuan kilometer ke timur, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) justru sedang menerjemahkan fokus itu dalam aksi nyata: sebuah workshop gastronomi bagi para pengelola desa binaannya. Dua peristiwa ini membingkai eratnya sinergi antara arah kebijakan makro dan inisiatif swasta yang langsung menyentuh akar rumput.

Panggung Istana dan Komitmen Ekonomi

Kendati tak ada pernyataan resmi seusai kunjungan, kehadiran Airlangga di Istana Negara membawa pesan simbolik kuat. Sepanjang awal 2026, koordinasi lintas kementerian terus digencarkan untuk mengamankan target pertumbuhan ekonomi, dengan salah satu pilar andalan: pariwisata berkelanjutan. Sektor ini diharapkan menjadi katup penyerap tenaga kerja sekaligus penggerak nilai tambah daerah, terutama di destinasi super prioritas seperti Labuan Bajo. Langkah pemerintah yang konsisten menggenjot infrastruktur konektivitas kini membutuhkan penguatan dari sisi hospitality dan kualitas sumber daya manusia—celah yang coba diisi oleh swasta.

Workshop Gastronomi End-to-End

Di aula sederhana namun semarak di Labuan Bajo, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, ikut larut dalam setiap sesi. “Kami ingin para pengelola desa tidak hanya pandai memasak, tetapi juga memahami pengalaman utuh wisata gastronomi—dari pemilihan bahan baku lokal, teknik olah, hingga narasi penyajian yang memikat wisatawan,” tuturnya kepada para peserta. Workshop ini memang didesain dengan pendekatan end-to-end yang langka: pemilihan ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat, pengolahan bumbu tanpa kehilangan identitas Manggarai, teknik memasak modern yang higienis, hingga seni plating dan penataan meja ala restoran fine dining. Semuanya bermuara pada satu tujuan: hidangan yang bukan sekadar kenyang, tetapi juga cerita yang layak diunggah ke media sosial.

Desa Bakti BCA: Laboratorium Dampak

Desa binaan BCA di Labuan Bajo menjadi “laboratorium” menarik bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan mampu mengubah wajah ekonomi mikro. Pelatihan gastronomi kali ini menyasar 30 pengelola dari berbagai unit usaha kuliner lokal, mulai warung makan, homestay, hingga katering kapal wisata. Mereka diajari menghitung food cost, merancang menu bertema budaya lokal, serta memahami standar keamanan pangan dasar. Yang paling menggembirakan, para peserta langsung mempraktikkan ilmunya pada jamuan makan malam bersama undangan khusus—sebuah simulasi tekanan nyata yang mengasah mental wirausaha.

“Gastronomi bukan milik restoran bintang lima saja. Kalau desa-desa kita bisa menyajikan pengalaman otentik dengan standar profesional, wisatawan akan datang untuk rasa dan kembali untuk cerita,” ujar Hera F. Haryn, menegaskan filosofi program.

Angka dan Harapan

Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Labuan Bajo meningkat 15% pada triwulan I 2026 dibanding periode sama tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan itu harus ditopang kapasitas lokal yang memadai. Workshop gastronomi BCA, yang merupakan bagian dari pilar Bakti BCA di bidang ekonomi kreatif, diharapkan bisa mendongkrak lama tinggal dan pengeluaran wisatawan. “Ketika sepiring ikan kuah asam disajikan dengan cara yang menggugah selera dan diceritakan asal-usulnya, nilainya bisa tiga kali lipat dibanding penyajian seadanya,” jelas salah seorang mentor dari komunitas chef lokal.

Menghubungkan Titik-Titik

Keduanya—kunjungan Airlangga ke Istana dan workshop BCA di Labuan Bajo—mungkin tampak tidak berkaitan. Namun, jika dibaca dalam kerangka pembangunan ekonomi terintegrasi, keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama. Kebijakan fiskal dan koordinasi pusat menciptakan ekosistem kondusif, sementara inisiatif swasta menyiapkan manusia yang akan menggerakkan ekosistem itu. Ketika pemerintah membuka akses, korporasi menanam benih keterampilan. Pola kolaborasi semacam inilah yang diyakini akan menentukan seberapa cepat Indonesia melompat dari negara berpendapatan menengah menuju perekonomian berdaya saing tinggi.

[SOCIAL_TWEET]: Sambil Menko Airlangga bahas ekonomi di Istana, BCA gelar workshop gastronomi end-to-end di Labuan Bajo. Sinergi pemerintah-swasta menggerakkan wisata dan kesejahteraan lokal. #EkonomiKreatif #LabuanBajo #BCABakti[SOCIAL_TG]: 🏛️ Menko Airlangga ke Istana, 🍽️ BCA gelar workshop gastronomi di Labuan Bajo. Kolaborasi apik pemerintah & swasta dorong pariwisata berkelas. Simak liputannya!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User