Teknologi

Menkes Budi Gunadi Sadikin Buka Suara Soal Pencalonan Puncak WHO

Mengapa kabar ini penting? Karena untuk pertama kalinya, Indonesia berpeluang menempatkan anak bangsa di kursi paling berpengaruh dalam tata kelola kesehatan dunia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadik...

Menkes Budi Gunadi Sadikin Buka Suara Soal Pencalonan Puncak WHO

Mengapa kabar ini penting? Karena untuk pertama kalinya, Indonesia berpeluang menempatkan anak bangsa di kursi paling berpengaruh dalam tata kelola kesehatan dunia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin akhirnya membuka suara mengenai isu yang bergulir cukup lama: namanya masuk bursa pencalonan Direktur Jenderal WHO (World Health Organization/Organisasi Kesehatan Dunia), lembaga kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menaungi 194 negara anggota. Konfirmasi ini mengakhiri berminggu-minggu spekulasi di kalangan diplomat dan akademisi kesehatan.

Dalam keterangannya, Budi menegaskan bahwa pencalonan tersebut merupakan mandat negara, bukan ambisi pribadi. Ibarat seorang kapten yang diminta mengarahkan kapal raksasa, ia menyebut tugas utama calon pemimpin WHO adalah menyatukan arah navigasi negara-negara anggota yang kepentingannya kerap berbeda. Ia juga menekankan bahwa pengalaman mengelola krisis kesehatan di dalam negeri menjadi bekal utama untuk memimpin organisasi multilateral sebesar itu.

Dari Fisika Nuklir ke Ekosistem Kesehatan Global

Perjalanan karier Budi memang tidak lazim bagi seorang calon kepala lembaga kesehatan dunia. Lulusan Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung pada 1986 ini memulai karier di industri pertambangan nikel, kemudian banting setir ke dunia perbankan selama lebih dari dua dekade. Ia sempat menduduki sejumlah posisi strategis di bank-bank besar nasional sebelum dipercaya memimpin PT Bio Farma, perusahaan vaksin milik negara, pada 2016.

Justru dari kursi Bio Farma itulah fondasi kesehatannya dibangun. Di bawah kepemimpinannya, kapasitas produksi vaksin nasional meningkat pesat dan Indonesia mulai dipercaya sebagai pemain dalam rantai pasok imunisasi global. Jejak itu berlanjut hingga ia dilantik menjadi Menteri Kesehatan pada Desember 2020, tepat di tengah badai pandemi COVID-19.

Rekam Jejak Memimpin di Tengah Badai

Nama Budi melekat kuat pada pengelolaan pandemi. Ia memimpin salah satu program vaksinasi massal terbesar di dunia, mendorong kemandirian lewat pengembangan vaksin Merah Putih, serta menggenjot transformasi digital layanan kesehatan melalui aplikasi SatuSehat. Pada masa Kepresidenan Indonesia di G20 (kelompok dua puluh ekonomi terbesar dunia) tahun 2022, ia juga menjadi motor pakta kerja sama pandemi yang melibatkan puluhan negara.

Bagi pengamat, rekam jejak inilah modal utama pencalonannya. Seorang diplomat kesehatan senior yang tidak ingin disebutkan identitasnya menilai calon pemimpin WHO ideal harus memiliki pengalaman krisis, kapabilitas manajerial, dan kemampuan diplomasi sekaligus. Menurutnya, profil Budi memenuhi ketiganya, meski jalannya masih panjang.

Jalan Menuju Jenewa Masih Panjang

Pencalonan dirinya bukan berarti kursi sudah berada di tangan. Proses pemilihan Direktur Jenderal WHO berlangsung ketat: kandidat diusulkan negara anggota, melewati tahap klarifikasi, lalu dipilih melalui Majelis Kesehatan Dunia, forum tertinggi organisasi tersebut. Masa jabatan petahana Tedros Adhanom Ghebreyesus berakhir pada 2027, sehingga pemilihan akan digelar pada forum tahunan itu.

Di kancah global, Budi diperkirakan bersaing dengan kandidat dari kawasan lain yang memiliki dukungan kuat. Faktor diplomasi, blok regional, hingga posisi Indonesia di forum internasional akan sangat menentukan. Ibarat lomba maraton, konfirmasi pencalonan hanyalah langkah pertama; penentu kemenangan adalah daya tahan kampanye diplomatis selama berbulan-bulan ke depan.

Apa Artinya bagi Indonesia dan Dunia

Jika terpilih, kepemimpinan Indonesia di WHO berpotensi menggeser peta kesehatan global. Agenda yang selama ini diperjuangkan Budi, mulai dari pemerataan akses vaksin, pembiayaan kesehatan berbasis ketahanan lokal, hingga pemanfaatan teknologi digital dan machine learning (pembelajaran mesin) dalam surveilans penyakit, bisa naik kelas menjadi prioritas dunia. Bagi ekosistem kesehatan dalam negeri, hal itu berarti akses lebih besar terhadap jaringan, pendanaan, dan transfer pengetahuan internasional.

Apa pun hasil akhirnya, keberanian Indonesia mengusulkan kandidat sendiri menandakan ambisi baru dalam diplomasi kesehatan. Dari ruang rapat di Jenewa hingga puskesmas di pelosok Nusantara, dunia kini menoleh ke arah Jakarta, menunggu langkah berikutnya dari calon nomor satu organisasi kesehatan dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User