Pemilu Israel yang dijadwalkan bergulir pada Oktober mendatang kembali menempatkan Benjamin Netanyahu sebagai nama yang tak bisa diabaikan. Bagi banyak pengamat politik internasional, pertanyaan yang sering muncul bukan sekadar soal peluangnya kembali berkuasa, melainkan juga soal latar belakang identitas kelompok Yahudi yang membentuk cara pandang politiknya. Isu ini penting karena menyangkut bagaimana kebijakan luar negeri, keamanan, dan arah pemerintahan Israel ke depan akan dibentuk oleh akar sosial-budaya sang Perdana Menteri.
Mengapa Identitas Keagamaan Seorang Pemimpin Menjadi Penting?
Dalam politik Israel, identitas keagamaan bukan sekadar urusan pribadi. Ia adalah peta jalan yang menentukan koalisi, dukungan partai, hingga pendekatan terhadap isu-isu sensitif seperti wilayah, perdamaian, dan hubungan dengan diaspora Yahudi. Ibarat sebuah bangunan, identitas ini adalah fondasi yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat menentukan kekuatan dan arah strukturnya.
Netanyahu berasal dari tradisi Yahudi Ashkenazi, yakni kelompok Yahudi yang secara historis berakar dari Eropa Tengah dan Timur. Ashkenazi adalah salah satu dari dua kelompok Yahudi utama dunia, selain Sephardic yang berakar dari Spanyol dan Portugal, serta Mizrahi yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara.
Dalam konteks Israel, pembagian ini tidak hanya bersifat genealogis. Ia sering kali berkorelasi dengan afiliasi politik, tingkat pendidikan, dan bahkan pandangan tentang seberapa religius sebuah negara harus dijalankan.
Ashkenazi dan DNA Politik Netanyahu
Lahir di Tel Aviv pada 1949, Netanyahu tumbuh dalam keluarga yang sangat dipengaruhi tradisi intelektual Ashkenazi. Ayahnya, Benzion Netanyahu, adalah seorang sejarawan terkemuka yang menganut paham revisionis Zionis, sebuah aliran yang menekankan keamanan maksimal dan penolakan terhadap kompromi wilayah yang dianggap mengancam eksistensi Israel.
Paham ini menjadi fondasi ideologis yang diusung Netanyahu sepanjang kariernya. Partai Likud yang ia pimpin secara konsisten mengusung pendekatan garis keras terhadap Palestina, perluasan permukiman, dan penguatan posisi Yerusalem sebagai ibu kota yang tak terbagi.
Namun, ada nuansa yang jarang dibahas. Meskipun Ashkenazi secara umum diasosiasikan dengan kaum sekuler dan kelas menengah terdidik, basis elektoral Netanyahu justru sangat kuat di kalangan Mizrahi dan Yahudi religius. Ini menunjukkan bahwa identitas kelompok bukan satu-satunya penentu, melainkan bagian dari ekosistem politik yang jauh lebih kompleks.
Bagaimana Kelompok Yahudi Lain Memandang Netanyahu?
Untuk memahami posisi Netanyahu, kita perlu melihat spektrum kelompok Yahudi secara lebih luas. Berikut perbandingannya:
| Kelompok | Asal Geografis | Kecenderungan Politik di Israel |
|---|---|---|
| Ashkenazi | Eropa Tengah & Timur | Bervariasi, dari kiri hingga kanan nasionalis |
| Sephardic | Spanyol & Portugal | Cenderung tradisionalis, sebagian besar kanan-tengah |
| Mizrahi | Timur Tengah & Afrika Utara | Kuat mendukung Likud dan partai religius |
| Haredi | Berbagai latar, berbasis religiusitas | Fokus pada kepentingan komunitas religius |
Data dari berbagai survei pemilu Israel menunjukkan bahwa dukungan terhadap Netanyahu dan Likud tetap solid di kalangan Mizrahi dan Haredi, meskipun ia sendiri berasal dari Ashkenazi. Ini adalah fenomena yang menunjukkan bahwa identitas primordial tidak selalu menjadi faktor penentu tunggal.
"Politik Israel adalah politik koalisi. Anda tidak bisa menang hanya dengan satu kelompok. Netanyahu memahami betul bahwa kekuatannya terletak pada kemampuannya merangkul berbagai faksi, dari sekuler hingga religius ekstrem," ujar seorang analis politik Timur Tengah yang lama mengamati dinamika Knesset.
Implikasi bagi Pemilu Oktober
Menjelang pemilu Oktober, pertanyaan tentang identitas Netanyahu menjadi relevan bukan untuk melabelinya, tetapi untuk memahami strategi politik yang akan ia mainkan. Algoritma politiknya selama ini adalah membangun koalisi lintas kelompok dengan narasi keamanan sebagai perekat utama.
Jika pola ini berlanjut, maka isu keamanan dan ancaman eksternal akan kembali mendominasi kampanye. Bagi pemilih awam, dampaknya terasa pada kebijakan sehari-hari: harga pangan, keamanan jalanan, dan hubungan diplomatik yang memengaruhi ekonomi.
Pengembangan narasi identitas ini juga berdampak pada ekosistem politik regional. Negara-negara tetangga dan mitra internasional akan membaca sinyal dari komposisi koalisi yang terbentuk, bukan hanya dari satu sosok.
Yang jelas, pemilu Oktober bukan sekadar pertarungan kursi. Ia adalah cermin dari bagaimana Israel memaknai keberagaman kelompok Yahudi di dalam satu bangunan negara. Dan Netanyahu, dengan segala kontroversinya, adalah salah satu figur yang paling lihai memainkan narasi identitas itu.
Comments (0)