Masih Ada 267 Titik Gelap Internet di Kaltim, Ini Kata Komdigi

Di tengah gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), masih ada ratusan desa di Kalimantan Timur (Kaltim) yang hidup nyaris tanpa sinyal internet. Bagi warga di titik-titik tersebut, mengirim ...

Masih Ada 267 Titik Gelap Internet di Kaltim, Ini Kata Komdigi

Di tengah gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), masih ada ratusan desa di Kalimantan Timur (Kaltim) yang hidup nyaris tanpa sinyal internet. Bagi warga di titik-titik tersebut, mengirim pesan singkat saja bisa berarti perjalanan berkilo-kilometer mencari bukit terdekat. Persoalan ini bukan sekadar ketertinggalan teknologi, melainkan hambatan nyata bagi pendidikan, layanan kesehatan, hingga roda ekonomi lokal yang kini serbadigital.

Data terbaru menunjukkan bahwa cakupan konektivitas di Kaltim sebenarnya sudah menyentuh angka 95,5 persen. Namun, di balik angka yang nyaris sempurna itu, tercatat masih ada 267 titik blank spot, alias wilayah tanpa jangkauan sinyal sama sekali. Temuan ini menjadi pengingat bahwa pemerataan infrastruktur digital tidak bisa hanya diukur dari persentase di atas kertas.

Apa Itu Blank Spot dan Mengapa Masih Ada?

Secara sederhana, blank spot adalah area yang tidak terjangkau sinyal seluler maupun internet, baik karena belum ada menara BTS (Base Transceiver Station/stasiun pemancar sinyal) maupun karena terhalang kondisi geografis. Ibarat seperti lampu penerangan jalan di sebuah kota: sebagian besar ruas sudah terang benderang, tetapi masih ada gang-gang gelap yang belum teraliri listrik.

Kaltim memiliki karakteristik geografis yang menantang. Bentang alamnya didominasi hutan tropis, pegunungan, dan sungai besar, sementara pemukiman warga tersebar di kantong-kantong kecil yang jauh dari pusat kota. Bagi operator seluler, membangun menara di wilayah berpenduduk sedikit sering kali dianggap tidak menguntungkan secara bisnis karena biaya pembangunan dan operasionalnya tinggi.

Respons Wakil Menteri Komunikasi dan Digital

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) buka suara terkait temuan ini. Pemerintah memastikan penuntasan titik-titik gelap tersebut menjadi bagian dari agenda pemerataan infrastruktur digital nasional. Penanganannya tidak diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, melainkan difasilitasi negara melalui BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi), lembaga di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang bertugas membangun jaringan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Skema pendanaan yang digunakan antara lain berasal dari dana USO (Universal Service Obligation/kewajiban pelayanan universal), yaitu kontribusi wajib dari penyelenggara telekomunikasi yang dialokasikan untuk membiayai pembangunan jaringan di wilayah yang tidak menarik secara komersial. Dengan skema ini, negara hadir menutup celah yang tidak bisa dijangkau logika bisnis semata.

Solusi Teknologi: Dari Menara BTS hingga Satelit

Untuk menjangkau wilayah bergunung dan terpencil, pemerintah menyiapkan kombinasi teknologi. Pertama, pembangunan menara BTS 4G (generasi keempat) di lokasi-lokasi strategis. Kedua, pemanfaatan satelit LEO (Low Earth Orbit/orbit rendah bumi) yang mampu memancarkan internet langsung dari langit tanpa memerlukan kabel serat optik maupun menara di darat. Teknologi satelit ini ibarat menara di angkasa yang bisa menjangkau lembah dan pedalaman sekalipun.

Pendekatan hibrida semacam ini dinilai paling realistis untuk provinsi seluas Kaltim. Serat optik tetap menjadi tulang punggung di kawasan perkotaan demi efisiensi dan kecepatan, sementara BTS serta satelit mengisi wilayah perdesaan hingga pedalaman yang sulit dijangkau kabel.

Mengapa Ini Penting bagi Masa Depan Kaltim

Penuntasan 267 titik gelap ini bukan pekerjaan remeh. Kehadiran IKN menjadikan Kaltim etalase pembangunan Indonesia, dan kesenjangan digital yang lebar justru bisa mencoreng citra tersebut. Internet yang merata akan membuka akses pembelajaran daring bagi pelajar, layanan telemedicine (konsultasi medis jarak jauh) bagi puskesmas, serta platform jual beli daring bagi petani dan pelaku usaha kecil.

Konektivitas juga menjadi fondasi bagi ekosistem digital yang lebih luas, mulai dari administrasi desa berbasis aplikasi hingga implementasi layanan publik digital. Tanpa sinyal, seluruh inovasi dan pengembangan itu hanya akan berhenti di atas kertas.

Pemerintah menargetkan seluruh titik blank spot di Tanah Air, termasuk di Kaltim, dapat terhubung secara bertahap. Kini, publik menanti seberapa cepat komitmen itu berubah menjadi sinyal penuh di layar ponsel warga pedalaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User