Kuburan Massal Ditemukan di Kurmuk, Sudan, Usai Militer Rebut Kota

Sebuah kuburan massal ditemukan di kota Kurmuk, wilayah tenggara Sudan, tidak lama setelah pasukan militer mengambil alih kendali atas kota tersebut dari tangan kelompok paramiliter. Temuan ini menamb...

Kuburan Massal Ditemukan di Kurmuk, Sudan, Usai Militer Rebut Kota

Sebuah kuburan massal ditemukan di kota Kurmuk, wilayah tenggara Sudan, tidak lama setelah pasukan militer mengambil alih kendali atas kota tersebut dari tangan kelompok paramiliter. Temuan ini menambah panjang daftar dugaan kejahatan serius dalam perang saudara yang telah berkecamuk di negara Afrika Timur itu sejak pertengahan April 2023.

Sejumlah saksi mata dan relawan kemanusiaan setempat melaporkan bahwa lokasi penguburan tersebut berisi sejumlah jenazah yang diduga menjadi korban kekerasan selama pertempuran memperebutkan kota. Hingga kini belum ada angka resmi mengenai jumlah korban, sementara proses identifikasi terkendala kondisi keamanan serta minimnya akses bagi tim forensik independen.

Kurmuk, Kota Strategis di Tepi Nil Biru

Kurmuk terletak di Negara Bagian Nil Biru, kawasan yang berbatasan langsung dengan Ethiopia dan Sudan Selatan. Posisinya yang strategis menjadikan kota ini salah satu titik panas dalam konflik Sudan. Siapa pun yang menguasai Kurmuk memegang kendali atas jalur logistik dan pergerakan pasukan di wilayah perbatasan tenggara.

Sejak perang pecah, kota ini beberapa kali berpindah tangan antara tentara pemerintah dan pasukan Rapid Support Forces (RSF) — Pasukan Dukungan Cepat, kelompok paramiliter yang berakar dari milisi Janjaweed di Darfur. Menurut catatan berbagai organisasi hak asasi manusia, setiap pergantian kekuasaan di wilayah konflik hampir selalu diikuti gelombang kekerasan terhadap warga sipil.

Akar Konflik: Perebutan Kekuasaan Dua Jenderal

Perang saudara Sudan berakar pada rivalitas dua jenderal yang sebelumnya bersekutu: Abdel Fattah al-Burhan, pemimpin tentara nasional sekaligus kepala dewan penguasa Sudan, dan Mohamed Hamdan Dagalo — yang akrab disapa Hemedti — komandan RSF. Keduanya pernah bekerja sama menggulingkan pemerintahan transisi sipil pada 2021, sebelum berseteru mengenai rencana penggabungan RSF ke dalam tentara reguler.

Pertikaian itu meledak menjadi pertempuran terbuka pada 15 April 2023 di ibu kota Khartoum, lalu menyebar ke hampir seluruh penjuru negeri. Dalam lebih dari dua tahun, perang ini telah menewaskan puluhan ribu orang — sejumlah estimasi independen bahkan menyebut angka yang jauh lebih tinggi — dan memaksa lebih dari 12 juta warga meninggalkan rumah mereka. Data PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menempatkan Sudan sebagai negara dengan krisis pengungsian terbesar di dunia saat ini.

Pola Kuburan Massal yang Berulang

Temuan di Kurmuk bukanlah yang pertama. Kuburan massal sebelumnya juga dilaporkan di sejumlah wilayah lain, terutama di Darfur, kawasan barat Sudan yang menjadi episentrum kekerasan etnis. Di kota-kota seperti Geneina dan sekitar El Fasher, para penyelidik dan jurnalis menemukan indikasi penguburan massal terhadap korban serangan yang menargetkan kelompok etnis tertentu.

Pengadilan Kriminal Internasional atau ICC (International Criminal Court) telah membuka penyelidikan atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam konflik ini. Namun akses menuju lokasi kejadian menjadi tantangan terbesar: banyak daerah masih berstatus zona pertempuran aktif, sementara bukti forensik berisiko hilang atau rusak seiring berjalannya waktu.

Krisis Kemanusiaan yang Kian Dalam

Di luar temuan kuburan massal, Sudan tengah menghadapi salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia. Kelaparan telah dikonfirmasi di sejumlah wilayah, fasilitas kesehatan dan sekolah hancur, serta jutaan anak terputus dari pendidikan. Lembaga-lembaga bantuan kesulitan menjangkau warga yang terjebak di zona konflik, termasuk di Negara Bagian Nil Biru tempat Kurmuk berada.

Warga yang selamat dari pertempuran di Kurmuk menggambarkan situasi yang mencekam: kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara jalur keluar kota kerap diblokir. Banyak keluarga dilaporkan kehilangan kontak dengan kerabat mereka sejak pertempuran terakhir berlangsung.

Desakan Investigasi Independen

Temuan ini memicu desakan baru agar komunitas internasional membuka penyelidikan independen. Sejumlah organisasi hak asasi menekankan bahwa identifikasi korban dan dokumentasi bukti harus dilakukan secepatnya, sebelum jejak kejahatan terhapus oleh waktu maupun oleh pihak-pihak yang berkepentingan menutupi fakta.

Namun pengalaman dari konflik-konflik sebelumnya menunjukkan bahwa jalan menuju keadilan kerap panjang dan berliku. Tanpa akses aman bagi tim forensik internasional serta perlindungan bagi para saksi, upaya mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di Kurmuk akan menghadapi rintangan besar.

Bagi jutaan warga Sudan, temuan semacam ini menjadi pengingat pahit bahwa perang yang memasuki tahun ketiga masih jauh dari kata usai — dan harga paling mahal tetap dibayar oleh warga sipil yang tidak bersenjata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User