Komunitas Yahudi Inggris Cemas Calon PM Tolak Serangan Gaza
Sejumlah organisasi Yahudi di Inggris tengah diliputi kecemasan mendalam setelah sosok yang digadang-gadang menjadi calon perdana menteri, Andy Burnham, secara terbuka menolak operasi militer Israel d...
Sejumlah organisasi Yahudi di Inggris tengah diliputi kecemasan mendalam setelah sosok yang digadang-gadang menjadi calon perdana menteri, Andy Burnham, secara terbuka menolak operasi militer Israel di Jalur Gaza. Kekhawatiran ini mencuat seiring meningkatnya sorotan terhadap posisi Burnham yang dinilai dapat mengubah arah kebijakan luar negeri Inggris jika ia berhasil memimpin Partai Buruh dan memenangkan pemilu mendatang. Di tengah konflik yang masih berkecamuk, pernyataan Burnham bukan hanya sekadar pandangan pribadi, melainkan dianggap sebagai sinyal potensial bagi hubungan London-Tel Aviv dan keamanan komunitas Yahudi di dalam negeri.
Sikap Tegas Andy Burnham terhadap Konflik Gaza
Andy Burnham, yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester, telah menjelma menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di kubu Partai Buruh. Dalam berbagai kesempatan, ia tak ragu mengritik keras serangan Israel ke Gaza yang menurutnya telah melampaui batas proporsionalitas. Burnham secara gamblang menyerukan gencatan senjata segera dan mendesak pemerintah Inggris untuk menghentikan penjualan senjata ke Israel. “Kita tidak bisa tinggal diam ketika ribuan warga sipil, termasuk anak-anak, menjadi korban. Inggris harus berdiri di sisi kemanusiaan,” ujarnya dalam sebuah wawancara akhir pekan lalu.
Pernyataan ini disampaikan di tengah data PBB yang menyebut lebih dari 30.000 warga Palestina tewas sejak eskalasi terbaru. Burnham juga menekankan bahwa hak Israel untuk membela diri tidak boleh dijadikan pembenaran atas apa yang ia sebut sebagai “hukuman kolektif” terhadap penduduk Gaza. Sikap ini mendapatkan sambutan hangat dari sayap kiri partai dan kelompok pro-Palestina, namun memicu gelombang ketidaknyamanan di kalangan Yahudi Inggris.
Getaran di Jantung Komunitas Yahudi
Dewan Perwakilan Yahudi Inggris (Board of Deputies of British Jews) dan Dewan Kepemimpinan Yahudi (Jewish Leadership Council) menjadi pihak pertama yang menyampaikan keresahan tersebut. Dalam pernyataan resmi, mereka menekankan bahwa meskipun kritik terhadap kebijakan Israel adalah hal yang wajar dalam demokrasi, penolakan mentah-mentah terhadap operasi militer tanpa mengakui ancaman Hamas dinilai berbahaya. “Kami melihat adanya upaya delegitimasi terhadap hak Israel untuk melindungi warganya. Jika pandangan ini diadopsi oleh seorang perdana menteri, masa depan komunitas kami di Inggris bisa terancam,” ungkap seorang juru bicara dewan.
Kekhawatiran ini tidak lepas dari memori kolektif tentang lonjakan antisemitisme yang terjadi saat konflik Gaza memanas. Data Community Security Trust mencatat peningkatan insiden kebencian terhadap Yahudi hingga lebih dari 500% dalam beberapa bulan pertama setelah serangan 7 Oktober. Komunitas Yahudi menilai retorika yang hanya menyoroti korban di satu sisi berpotensi memperkeruh situasi di jalanan dan dunia maya. Seorang tokoh masyarakat Yahudi di Manchester, yang memilih anonim, menuturkan, “Kami sudah berulang kali mengalami bagaimana narasi anti-Israel berubah menjadi serangan fisik dan verbal terhadap kami. Pernyataan Burnham seperti membuka kotak pandora.”
Bayang-Bayang Corbyn dan Luka Lama Partai Buruh
Kegelisahan ini memiliki akar historis yang dalam. Partai Buruh belum sepenuhnya pulih dari krisis antisemitisme yang mencuat di era kepemimpinan Jeremy Corbyn. Meskipun Burnham selama ini dikenal berusaha menjaga jarak dari faksi kiri keras dan bahkan pernah dianggap sebagai figur pemersatu, sikapnya terhadap Gaza mengingatkan kembali pada masa-masa ketika hubungan partai dengan komunitas Yahudi berada di titik nadir. Sejumlah anggota parlemen dari kubu moderat mulai mempertanyakan apakah Burnham benar-benar bisa menjadi pemimpin yang inklusif.
Di sisi lain, para analis politik melihat langkah Burnham sebagai kalkulasi strategis untuk menggalang dukungan dari pemilih progresif yang kecewa dengan sikap Keir Starmer yang dinilai terlalu lunak terhadap Israel. “Burnham sedang mencoba mendefinisikan ulang kepemimpinan Buruh dengan berani menyuarakan apa yang dianggap benar oleh basis sayap kiri, tetapi risikonya adalah ia akan kehilangan kepercayaan dari donor dan pemilih Yahudi yang selama ini mulai kembali ke partai,” ujar Dr. Rebecca Thornton, pengamat politik dari King’s College London. Ketegangan ini kian pelik karena Burnham belum secara resmi mencalonkan diri sebagai ketua partai, namun popularitasnya terus meroket dalam jajak pendapat internal.
Respons dan Manuver Politik
Menanggapi gejolak ini, tim komunikasi Burnham merilis klarifikasi yang menegaskan bahwa penolakan terhadap operasi militer bukan berarti menolak eksistensi Israel. “Andy Burnham mendukung solusi dua negara dan mengecam serangan Hamas. Namun ia meyakini respons militer yang tidak proporsional hanya akan menciptakan siklus kekerasan tanpa akhir,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Namun, bagi kelompok Yahudi yang sudah terlanjur waspada, pernyataan tersebut belum cukup meredakan kecemasan.
Sementara itu, faksi pro-Israel di parlemen mulai menyusun strategi untuk memastikan agar setiap calon pemimpin Buruh di masa depan tetap berkomitmen pada kebijakan luar negeri yang seimbang. Beberapa anggota parlemen berencana mengajukan mosi internal yang mewajibkan kandidat pemimpin untuk berdialog langsung dengan komunitas Yahudi sebelum pencalonan disahkan. Inisiatif ini disebut sebagai upaya mencegah terulangnya “kesalahan Corbyn” yang membiarkan antisemitisme merajalela di dalam partai. “Kami butuh jaminan konkret, bukan sekadar kata-kata manis,” tegas seorang legislator Buruh dari daerah pemilihan dengan populasi Yahudi signifikan.
Perdebatan ini juga membuka kembali diskusi yang lebih luas tentang batas antara kritik terhadap Israel dan antisemitisme. Organisasi advokasi seperti Campaign Against Antisemitism mendesak agar semua tokoh publik berhati-hati dalam menyampaikan pandangan mereka tentang konflik Timur Tengah, karena dampaknya langsung terasa pada kehidupan warga Yahudi di Inggris. “Seorang calon perdana menteri memiliki tanggung jawab lebih besar. Ucapannya bukan hanya berhenti di berita, tetapi bisa menjadi legitimasi bagi tindakan diskriminatif,” demikian peringatan yang disampaikan melalui media sosial.
Dengan pemilu yang semakin dekat dan isu Gaza yang tak kunjung reda, sikap Burnham hampir dipastikan akan menjadi salah satu titik api dalam kontestasi politik mendatang. Komunitas Yahudi di Inggris kini berada di persimpangan antara harapan akan masa depan yang aman dan kenangan pahit atas masa lalu yang baru saja berlalu. Sementara itu, Burnham sendiri harus menjawab pertanyaan mendasar: bisakah ia merangkul semua lapisan masyarakat tanpa mengorbankan prinsip yang ia usung? Jawabannya akan menentukan bukan hanya karir politiknya, tetapi juga kohesi sosial di negeri Ratu Elizabeth yang semakin majemuk.
Baca juga:
Comments (0)