Komisi Aplikasi Tinggal 8 Persen, Mengapa Pendapatan Driver Ojol Stagnan?
Kebijakan yang seharusnya menjadi kabar gembira bagi jutaan pengemudi ojek online (ojol) di Tanah Air justru menyisakan tanda tanya besar. Sebulan setelah sejumlah platform transportasi daring memangk...
Kebijakan yang seharusnya menjadi kabar gembira bagi jutaan pengemudi ojek online (ojol) di Tanah Air justru menyisakan tanda tanya besar. Sebulan setelah sejumlah platform transportasi daring memangkas komisi hingga tersisa 8 persen — artinya pengemudi membawa pulang 92 persen dari setiap tarif perjalanan — keluhan soal pendapatan yang jalan di tempat justru mengemuka. Mengapa angka yang terlihat indah di atas kertas tidak terasa di kantong? Pertanyaan ini penting karena ojol bukan sekadar layanan transportasi, melainkan tulang punggung mobilitas perkotaan sekaligus sumber penghidupan jutaan keluarga Indonesia.
Ibarat dijanjikan potongan kue yang lebih besar, para pengemudi justru mendapati ukuran kuenya sendiri yang menyusut. Di atas kertas, pemangkasan komisi dari sebelumnya sekitar 20 persen menjadi hanya 8 persen adalah lompatan besar. Namun realita di jalanan bercerita lain, dan curhat para pengemudi sebulan terakhir menjadi buktinya.
Hitung-Hitungan di Atas Kertas
Mari bedah angkanya. Dengan skema lama, dari tarif perjalanan Rp20.000, pengemudi hanya mengantongi sekitar Rp16.000 karena dipotong komisi 20 persen. Dengan skema baru, potongan 8 persen membuat pendapatan bersih per order naik menjadi Rp18.400 — selisih Rp2.400 per perjalanan. Jika seorang pengemudi menyelesaikan 15 order per hari, secara teori ada tambahan sekitar Rp36.000 per hari atau mendekati Rp900.000 per bulan. Angka yang seharusnya terasa signifikan bagi pekerja sektor informal.
Namun perhitungan tersebut hanya berlaku jika semua variabel lain tetap. Di sinilah letak persoalannya: dalam ekosistem platform digital, hampir tidak ada variabel yang benar-benar tetap.
Order Sepi, Insentif Menyusut
Curhat para pengemudi menunjukkan pola yang konsisten. Pertama, jumlah order yang masuk terasa menurun dibanding periode sebelumnya. Kedua, skema insentif dan bonus — komponen yang selama ini menjadi penopang utama pendapatan — ikut disesuaikan. Bagi banyak pengemudi, penghasilan harian tidak ditentukan oleh besaran komisi semata, melainkan oleh kombinasi tarif dasar, jumlah perjalanan, dan bonus pencapaian target.
Ketika komisi dipangkas tetapi pada saat yang sama insentif dikurangi atau target bonus dinaikkan, efek bersihnya nyaris nol. Inilah yang membuat sebagian pengemudi merasa kebijakan baru ini sekadar memindahkan angka dari satu kolom ke kolom lain, tanpa mengubah total uang yang dibawa pulang ke rumah.
Algoritma yang Tak Terlihat
Faktor lain yang kerap luput dari perhatian publik adalah peran algoritma — serangkaian instruksi komputer yang menentukan siapa mendapat order apa, kapan, dan di mana. Platform ride-hailing modern menggunakan teknologi machine learning (pembelajaran mesin, yakni kemampuan komputer belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit) untuk mendistribusikan permintaan secara efisien.
Masalahnya, logika distribusi ini tidak transparan. Pengemudi tidak pernah tahu pasti mengapa order mengalir deras di satu hari dan seret di hari lain. Tanpa transparansi algoritmik, kenaikan persentase pendapatan per order bisa kehilangan makna jika volume order itu sendiri menyusut. Implementasi teknologi yang semestinya menciptakan efisiensi justru berpotensi menimbulkan ketidakpastian baru bagi mitra pengemudi.
Beban Operasional yang Terus Naik
Di sisi pengeluaran, situasinya juga tidak bersahabat. Harga bahan bakar, biaya perawatan kendaraan, pulsa dan paket data, hingga cicilan sepeda motor terus bergerak naik. Artinya, meski pendapatan kotor naik tipis, pendapatan bersih bisa tetap stagnan karena tergerus biaya operasional. Inovasi di sisi aplikasi tidak otomatis menyelesaikan persoalan ekonomi riil di jalanan.
Apa yang Perlu Dilakukan?
Sejumlah pengamat menilai solusinya bukan sekadar angka komisi, melainkan transparansi menyeluruh: keterbukaan skema tarif, kepastian insentif, dan audit terhadap algoritma pembagian order. Regulator juga perlu memastikan penurunan komisi tidak diimbangi penyesuaian tersembunyi di komponen lain yang justru merugikan mitra.
Bagi jutaan pengemudi, janji pendapatan yang lebih adil masih menunggu pembuktian. Pengembangan sektor transportasi daring seharusnya menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi semua pihak — bukan hanya efisien bagi platform, tetapi juga layak bagi mereka yang setiap hari bertaruh di jalanan demi sesuap nasi.
Comments (0)