TERDEPAN.ID — Namanya pernah menghiasi hampir semua media dunia. Jyoti Kumari, remaja yang saat itu baru berusia 15 tahun, menjadi bintang global setelah kisah perjalanannya mengayuh sepeda sejauh 700 mil atau sekitar 1.100–1.200 kilometer demi membawa sang ayah yang cedera pulang ke kampung halaman. Kini, pertanyaan yang menggantung di benak banyak orang adalah sederhana namun tajam: ke mana semua janji yang dulu disampaikan kepadanya?
Peristiwa itu terjadi di puncak krisis pandemi. Seluruh India memberlakukan karantina wilayah yang ketat, transportasi umum berhenti beroperasi, dan jutaan pekerja migran terjebak di kota-kota tempat mereka mencari nafkah. Mohan Paswan, ayah Jyoti, mengalami cedera dalam sebuah kecelakaan kerja di kawasan Gurugram. Tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan, dan tanpa cara pulang, ia bersama putrinya terkatung-katung di kota yang jauh dari rumah.
Perjalanan Sebuah Sepeda Merah Muda Seharga 20 Dolar
Dengan sepeda hot pink seharga sekitar 20 dolar Amerika—setara sekitar Rp300 ribu—Jyoti memutuskan hal yang bagi banyak orang terdengar mustahil: ia menuntun sang ayah pulang. Ayahnya duduk di atas rangka sepeda, sementara Jyoti mengayuh, hari demi hari, menembus terik dan jalanan panjang, melewati kota demi kota hingga tiba di Desa Sirhulli, Kabupaten Darbhanga, Bihar.
Ketika cerita itu tersiar, dunia bereaksi. Media internasional menyebutnya sebagai simbol ketangguhan dan bakti seorang anak kepada ayahnya. Pemerintah daerah, sejumlah organisasi olahraga, hingga pihak swasta berlomba menyatakan simpati dan komitmen untuk membantunya.
"Perjalanan epiknya—membawa ayahnya yang cedera di sepeda seharga 20 dolar—menjadi berita utama. Janji pun dibuat: bantuan keuangan, pelatihan untuk karier balap sepeda, bahkan tawaran pembuatan film. Apakah semuanya ditepati?" demikian pertanyaan yang diangkat dalam laporan lanjutan tersebut.
Daftar Janji yang Sempat Mengemuka
Dalam sejumlah pemberitaan saat itu, setidaknya ada beberapa bentuk penghargaan dan tawaran yang disebut akan diberikan kepada Jyoti:
- Bantuan finansial dari sejumlah pihak yang ingin meringankan beban keluarganya sepulang ke kampung halaman.
- Pelatihan balap sepeda yang sempat digadang-gadang oleh federasi olahraga nasional, lengkap dengan undangan seleksi di ibu kota.
- Tawaran adaptasi layar lebar, sebuah janji industri hiburan yang terdengar gemilang namun sulit dibuktikan realisasinya.
- Sorotan media global yang menjadikannya wajah ketangguhan rakyat kecil di tengah pandemi.
Namun, sorotan dan janji adalah dua hal yang berbeda. Ketika gemuruh pemberitaan mereda, banyak dari komitmen tersebut justru menghilang tanpa jejak yang jelas. Jyoti kembali ke kehidupannya yang biasa, di desa yang jauh dari kilau panggung internasional.
Bintang yang Kembali ke Titik Awal
Karakter sepeda yang digunakan Jyoti bahkan sempat menjadi perhatian tersendiri—sebuah benda sederhana yang nilainya tidak sebanding dengan gemuruh pemberitaan yang dihasilkannya. Kontras inilah yang membuat kisahnya terasa pahit: seorang remaja yang mampu menempuh ribuan kilometer, tetapi tidak mampu mengejar janji-janji yang dibuat orang dewasa.
Hingga kini, tidak ada kejelasan resmi mengenai seberapa besar bantuan yang benar-benar diterima keluarga Paswan, apakah Jyoti melanjutkan jalur pembinaan atlet, atau apakah proyek film yang sempat diberitakan pernah masuk tahap produksi. Yang tersisa adalah pertanyaan etis tentang bagaimana dunia memperlakukan seseorang yang telah memberinya inspirasi sekaligus konsumsi berita.
Kisah Jyoti menjadi pengingat bahwa perhatian publik sering kali bersifat sementara. Sebuah perjalanan 1.200 kilometer bisa menggetarkan dunia dalam hitungan jam, tetapi menepati janji membutuhkan konsistensi yang jauh lebih panjang daripada sekadar unggahan viral.
Comments (0)