Khamenei Kutip Soekarno, Tekankan Persatuan Lintas Agama

TEHERAN, KOMPAS – Warisan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang wafat pada 28 Juni 2026 terus mengemuka, salah satunya adalah momen saat ia m

Khamenei Kutip Soekarno, Tekankan Persatuan Lintas Agama

TEHERAN, KOMPAS – Warisan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang wafat pada 28 Juni 2026 terus mengemuka, salah satunya adalah momen saat ia mengutip pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, untuk menyerukan persatuan di tengah perbedaan agama dan ideologi. Penggalan pidato itu kembali disiarkan oleh televisi nasional Iran, IRIB, dalam dokumenter peringatan 40 hari wafatnya Khamenei, yang menampilkan sejumlah rekaman penting semasa kepemimpinannya.

Momen Bersejarah di Teheran

Pada 11 Februari 2018, dalam pidato peringatan Revolusi Islam Iran di Universitas Teheran, Khamenei secara khusus membaca kutipan Bung Karno di hadapan ribuan hadirin. Saat itu, ketegangan sektarian di kawasan Timur Tengah sedang memuncak. "Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah berkata: 'Kita semua bersaudara. Islam, Kristen, Hindu, Buddha, keyakinan apapun—kita tetap satu bangsa, satu tanah air.' Inilah fondasi sebuah peradaban besar," ujar Khamenei, yang disambut tepuk tangan meriah.

"Perbedaan mazhab dan ideologi tidak boleh menjadi tembok pemisah. Indonesia yang mayoritas Muslim dengan ratusan etnis dan agama mampu bersatu, dan itu adalah bukti bahwa persatuan di atas keragaman adalah mungkin." — Ayatollah Ali Khamenei, 11 Februari 2018

Khamenei menambahkan bahwa Indonesia adalah contoh sukses negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang menjunjung tinggi toleransi, seraya mengkritik negara-negara yang justru memakai agama sebagai alat politik pemecah belah. Rekaman pidato ini sempat viral di media sosial dan dikutip oleh berbagai kantor berita internasional, termasuk Anadolu Agency dan Al Jazeera.

Respons Hangat dari Indonesia

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam pernyataan resmi pada 15 Juli 2026 menyambut baik penayangan ulang momen tersebut. Juru Bicara Kemlu RI, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan bahwa pengutipan pidato Bung Karno oleh Khamenei menunjukkan betapa nilai-nilai Pancasila dan semangat kebangsaan Indonesia menginspirasi dunia. "Ini bukan sekadar pengakuan sejarah, melainkan pesan abadi bahwa toleransi dan persatuan harus menjadi landasan hubungan antarbangsa," ujarnya.

Sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga turut mengenang pernyataan Khamenei. Ketua PBNU, Yahya Cholil Staquf, dalam cuitannya menyebut bahwa pesan Khamenei relevan untuk menghadapi polarisasi global. "Khamenei dan Soekarno sama-sama percaya bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang harus dirawat," tulisnya.

Soekarno: Ikon Persatuan Lintas Iman

Presiden Soekarno, yang memimpin Indonesia dari 1945 hingga 1967, memang dikenal sebagai orator ulung yang gigih mengampanyekan persatuan nasional di tengah kemajemukan. Pidato monumentalnya pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa 1960 berjudul "To Build the World Anew" menekankan pentingnya solidaritas global tanpa memandang ideologi. Frasa "Bhinneka Tunggal Ika" yang diambil dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular menjadi semboyan resmi negara Indonesia sejak era Soekarno, mencerminkan filosofinya bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Khamenei, yang lahir pada 1939, tumbuh di era ketika gerakan nonblok dan anti-kolonialisme diprakarsai Soekarno menjadi gerakan masif. Sejarawan Timur Tengah dari Universitas Leiden, Dr. Nico J.G. Kaptein, menjelaskan bahwa ketertarikan Khamenei pada Soekarno bukanlah fenomena baru. "Khamenei sejak muda membaca karya-karya pemikir dunia ketiga, dan Soekarno adalah salah satu tokoh yang sering ia kutip dalam ceramah tertutup sebelum menjadi Pemimpin Tertinggi," jelasnya kepada kantor berita Antara.

Pidato Khamenei dan Konteks Geopolitik

Kutipan Soekarno itu disampaikan di tengah upaya Iran membangun poros perlawanan yang melibatkan kelompok-kelompok dari berbagai latar belakang sektarian, seperti Hizbullah di Lebanon dan Hashd al-Shaabi di Irak. Khamenei ingin menunjukkan bahwa aliansi strategis Iran tidak semata-mata berdasarkan mazhab Syiah, melainkan atas dasar anti-imperialisme dan solidaritas kemanusiaan—nilai yang digaungkan Soekarno pada Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung.

Pengamat politik internasional dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Dafri Agussalim, menilai bahwa dengan merujuk Soekarno, Khamenei sedang menegaskan kembali posisi Iran sebagai negara yang inklusif. "Iran butuh narasi yang merangkul Sunni dan minoritas agama lain. Soekarno adalah figur yang bisa menjembatani itu, terutama karena Indonesia memiliki citra positif di dunia Islam," katanya.

Kilas Balik Hubungan Iran-Indonesia

Hubungan diplomatik Iran dan Indonesia telah terjalin sejak 1950. Meski terdapat perbedaan mazhab dan orientasi politik, kedua negara kerap saling mendukung di forum internasional, termasuk dalam isu Palestina dan reformasi PBB. Pada 2015, Presiden Joko Widodo berkunjung ke Teheran dan bertemu Khamenei, yang saat itu kembali menekankan pentingnya kerja sama peradaban Islam. Kunjungan balasan Presiden Ebrahim Raisi ke Jakarta pada 2023 juga ditandai penandatanganan 11 nota kesepahaman, termasuk di bidang energi dan budaya.

Mantan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Valiollah Mohammadi Nasrabadi, dalam wawancara dengan media ini pada 2025, mengaku bahwa Khamenei selalu memiliki pandangan khusus terhadap Indonesia. "Beliau pernah bercerita bahwa Soekarno adalah salah satu pemimpin terbesar Asia yang berhasil menyatukan ribuan pulau menjadi satu bangsa. Itu sangat menginspirasi beliau," tuturnya.

Warisan Pesan yang Tetap Hidup

Setelah wafatnya Khamenei, Iran memasuki masa transisi di bawah Pemimpin Tertinggi yang baru. Namun, rekaman pidato yang mengutip Soekarno kembali diputar di masjid-masjid dan sekolah-sekolah selama masa berkabung. Seorang guru madrasah di Qom, Hossein Mousavi, mengatakan bahwa murid-muridnya kini diajak mendiskusikan makna persatuan dalam Islam dan bagaimana Soekarno, sebagai seorang nasionalis Muslim, menjadi contoh. "Khamenei ingin kami belajar bahwa cinta tanah air dan Islam bisa berjalan bersama," ujarnya.

Di Indonesia, meski tanpa hubungan langsung dengan Khamenei, Bung Karno tetap menjadi simbol yang menghubungkan dua negara. Sejumlah warganet di platform X (dahulu Twitter) membagikan kutipan Khamenei dengan tagar #SoekarnoUntukDunia. Salah satu warganet menulis, "Bung Karno tidak hanya milik Indonesia, tapi juga milik dunia. Bahkan pemimpin Iran pun mengakuinya."

Ke depan, Pusat Studi Soekarno berencana mengadakan konferensi virtual bertema "Soekarno dan Toleransi Global: Refleksi dari Iran" pada Agustus 2026. Acara itu akan menghadirkan akademisi dari Indonesia dan Iran untuk mengkaji lebih dalam warisan persatuan yang diwariskan kedua tokoh besar tersebut. Pesan yang disampaikan Khamenei melalui Bung Karno enam tahun lalu, tampaknya, akan terus bergema melintasi batas waktu dan geografis.

[SOCIAL_TWEET]: Momen bersejarah: Ayatollah Khamenei mengutip pidato Bung Karno tentang persatuan di tengah perbedaan. Pesan abadi untuk dunia yang terpolarisasi. #Khamenei #Soekarno #Persatuan #IranIndonesia[SOCIAL_TG]: 📢 Khamenei kutip Soekarno: “Perbedaan agama dan ideologi bukan pemisah.” Rekaman pidato 2018 ini kembali viral setelah wafatnya sang Pemimpin Tertinggi Iran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User