Brownies Ketan 'It's Me Time' Raih Pasar Global Berkat BRI
Sidoarjo, Terdepan.id — Aroma harum perpaduan cokelat pekat dan ketan legit menguar dari sebuah dapur rumah sederhana di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur. Di b
Sidoarjo, Terdepan.id — Aroma harum perpaduan cokelat pekat dan ketan legit menguar dari sebuah dapur rumah sederhana di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur. Di balik pintu yang selalu terbuka lebar, belasan tangan terampil sibuk mengaduk adonan, memanggang, dan mengemas ribuan brownies ketan setiap harinya. Inilah dapur produksi UMKM kuliner "It's Me Time", sebuah bisnis rumahan yang bermula dari hobi sang pemilik dan kini menjelma menjadi salah satu pelaku usaha mikro kecil menengah paling bersinar di Indonesia.
Di tengah gempuran pasar kue modern yang didominasi brownies panggang berbasis tepung terigu, "It's Me Time" hadir dengan diferensiasi cerdas: brownies ketan. Camilan ini memadukan tekstur kenyal khas ketan hitam dan putih dengan rasa cokelat premium, menciptakan sensasi unik yang langsung memikat lidah konsumen. Dari dapur mungil berukuran 3x4 meter, kini dapur produksi telah diperluas, dan volume produksi melonjak drastis hingga 25.000 box per bulan. Lebih membanggakan, produk ini telah menembus pasar internasional.
Berawal dari Coba-Coba, Kini Produksi 25 Ribu per Bulan
Perjalanan "It's Me Time" dimulai pada 2021, saat sang pemilik, Rina Anggraini, bereksperimen dengan resep brownies untuk oleh-oleh Lebaran. Alih-alih menggunakan tepung terigu, ia mencoba tepung ketan hitam yang melimpah di daerahnya. Hasilnya di luar dugaan: brownies dengan tekstur lebih legit dan rasa yang kaya. Keluarga dan tetangga menyukainya, dan pesanan mulai berdatangan dari mulut ke mulut.
"Awalnya hanya iseng membuat brownies ketan untuk oleh-oleh keluarga. Berkat bantuan modal dan pelatihan dari BRI, saya bisa mengembangkan usaha ini hingga ke luar negeri," ujar Rina Anggraini, pemilik "It's Me Time", saat ditemui di sela-sela produksi. Senyum tak lepas dari wajahnya.
Pada tahun pertama, produksi masih berkisar 200-300 box per bulan. Namun, setelah mendapatkan pendampingan intensif, angka itu meroket. Kini, dengan 15 karyawan tetap, dapur yang semula hanya di garasi kini telah pindah ke bangunan khusus, dan produksi stabil di angka 25.000 box per bulan. Peningkatan lebih dari 100 kali lipat itu menjadi bukti nyata bahwa UMKM mampu bertransformasi jika didukung ekosistem yang tepat.
Dukungan BRI: Dari Permodalan Hingga Digitalisasi
Sentuhan BRI menjadi salah satu kunci akselerasi bisnis "It's Me Time". Melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), Rina mendapatkan akses permodalan dengan bunga rendah yang ia manfaatkan untuk membeli oven industri, mixer kapasitas besar, dan bahan baku dalam jumlah partai. Tidak hanya itu, BRI juga memberikan pelatihan manajemen usaha, pengemasan, dan strategi pemasaran digital.
"BRI bukan sekadar memberi pinjaman, tapi benar-benar mendampingi. Kami diajari cara mengelola keuangan digital pakai BRIMo, cara memasarkan lewat marketplace, bahkan kami difasilitasi mengikuti pameran internasional," jelas Rina. Kini, seluruh transaksi bisnisnya telah terintegrasi dengan ekosistem digital BRI, mulai dari pembayaran supplier via BRIVA hingga penerimaan pesanan melalui QRIS BRI.
Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari, dalam keterangan terpisah menegaskan bahwa UMKM seperti "It's Me Time" adalah prioritas perseroan. "Kami ingin setiap sentuhan permodalan dan pendampingan bisa melahirkan pelaku usaha yang naik kelas, dari usaha mikro menjadi usaha kecil, bahkan menembus pasar ekspor. Itulah esensi dari social empowering yang kami jalankan," tegasnya.
Ekspor Perdana ke Malaysia, Pesanan Terus Mengalir
Lompatan besar terjadi pada akhir 2025, ketika "It's Me Time" untuk pertama kalinya mengirimkan 2.000 box brownies ketan ke Malaysia. Produk ini mendapat sambutan hangat di kalangan diaspora Indonesia dan warga lokal yang gemar mencoba camilan etnik. "Momen ketika kontainer pertama berangkat, saya menangis haru. Itu bukan cuma brownies, tapi mimpi yang jadi nyata," kenang Rina, matanya berkaca-kaca. Perjalanan yang penuh air mata bahagia.
Setelah Malaysia, pesanan menyusul dari Brunei Darussalam dan Singapura. Saat ini, Rina tengah menjajaki peluang ekspor ke Timur Tengah dengan inovasi kemasan yang lebih tahan lama. Produk brownies ketan "It's Me Time" dikemas dalam box vakum dengan sertifikasi halal dan izin edar BPOM, memenuhi standar internasional.
Strategi pemasaran digital yang agresif melalui Instagram, TikTok, dan live selling di marketplace juga menyumbang lonjakan permintaan domestik. Dalam satu sesi live, Rina mampu menjual lebih dari 500 box hanya dalam waktu dua jam. Angka yang fantastis untuk ukuran UMKM.
Inovasi Produk dan Strategi Pemasaran
Selain brownies ketan original, "It's Me Time" terus berinovasi dengan menghadirkan varian rasa seperti pandan, keju, dan matcha. Semua tetap mempertahankan basis ketan sebagai identitas utama. Untuk pasar modern, mereka meluncurkan kemasan edisi khusus dengan desain etnik kontemporer yang Instagram-able.
Kemitraan dengan BRI juga membuka akses ke berbagai marketplace melalui ekosistem BRILink, sehingga produk lebih mudah ditemukan. Tidak hanya itu, program CSR BRI turut memperkenalkan produk ini ke komunitas-komunitas di pelosok negeri. Kolaborasi antara kekuatan lokal dan jaringan perbankan nasional terbukti ampuh mendongkrak daya saing.
Ke depan, Rina berencana membangun pabrik kecil dengan standar Good Manufacturing Practice (GMP) dan merekrut lebih banyak tenaga kerja dari sekitar Sidoarjo. "Saya ingin berbagi rezeki dengan tetangga, membuktikan bahwa dari dapur rumah pun kita bisa mendunia," tutupnya.
[SOCIAL_TWEET]: Dari dapur rumah di Sidoarjo, brownies ketan 'It's Me Time' kini tembus pasar global berkat dukungan BRI. Produksi capai 25.000 box/bulan. Baca kisah lengkapnya! #UMKMNaikKelas #BRIuntukIndonesia #BrowniesKetan[SOCIAL_TG]: 🍫 Dari dapur mungil di Sidoarjo, brownies ketan 'It's Me Time' kini laris manis hingga mancanegara. Dukungan BRI jadi kunci akselerasi bisnis ini. Yuk baca kisahnya: [link]
Comments (0)