Khamenei Dimakamkan di Kompleks Suci Tersakral Iran di Mashhad

Teheran — Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah dikebumikan di kompleks makam paling suci di negara itu, menandai akhir dari era kepemimpinan yang membentang lebih dari tiga...

Jul 12, 2026 - 14:31
0 0
Khamenei Dimakamkan di Kompleks Suci Tersakral Iran di Mashhad

Teheran — Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah dikebumikan di kompleks makam paling suci di negara itu, menandai akhir dari era kepemimpinan yang membentang lebih dari tiga dekade. Upacara pemakaman yang sarat emosi itu berlangsung di Haram Imam Reza, Mashhad, tempat yang diyakini sebagai peristirahatan Imam Syiah kedelapan dan menjadi salah satu situs ziarah terpenting di dunia Islam Syiah. Ribuan pelayat memadati jalan-jalan di sekitarnya, sementara pasukan keamanan berjaga ketat mengamankan prosesi yang dihadiri para pemimpin tertinggi militer, politik, dan agama Iran.

Kabar kematian Khamenei mengejutkan publik setelah beberapa pekan terakhir kondisi kesehatannya dilaporkan menurun drastis. Pemimpin berusia 86 tahun itu menghembuskan napas terakhir di Teheran pada Selasa dini hari, memicu gelombang duka nasional sekaligus spekulasi tentang arah politik Iran pasca-kepemimpinannya. Pemerintah langsung mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari, sesuai tradisi Syiah, dan membentuk dewan transisi untuk memilih pengganti.

Perjalanan Jenazah dan Prosesi Kenegaraan

Sebelum diterbangkan ke Mashhad, jenazah Khamenei disemayamkan di Masjid Agung Teheran untuk prosesi penghormatan terakhir. Ratusan ribu warga Teheran membentuk lautan manusia di sepanjang rute iring-iringan, banyak di antaranya menangis histeris sambil membawa foto sang pemimpin. Presiden, Ketua Parlemen, dan pemimpin Garda Revolusi berjalan di samping peti mati yang dibalut kain hitam bertuliskan ayat-ayat Al-Quran. Prosesi ini menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar di ibu kota dalam beberapa tahun terakhir.

Setelah salat jenazah yang dipimpin oleh sejumlah ulama senior, peti mati dibawa dengan kendaraan militer menuju bandara untuk diterbangkan ke Mashhad. Di kota suci itu, iring-iringan kembali bergerak dari Bandara Hasyemi Rafsanjani menuju kompleks Haram Imam Reza, melewati kerumunan yang telah menunggu sejak subuh. Media pemerintah menyiarkan langsung prosesi tersebut, menampilkan gambar kemegahan kompleks makam yang dipenuhi lampu sorot dan bendera hitam.

Di dalam kompleks, peti mati ditempatkan di sebuah ruangan khusus dekat makam Imam Reza, hanya bisa diakses oleh keluarga dekat dan pejabat tinggi. Upacara penguburan dilakukan secara tertutup, namun ribuan peziarah tetap berkumpul di pelataran luar untuk melantunkan doa dan nyanyian duka. Keamanan di sekitar area diperketat dengan pengerahan ribuan personel, termasuk satuan anti-teror, mengingat sensitivitas politik acara tersebut.

Haram Imam Reza, Simbol Spiritual Tertinggi

Dimakamkannya Khamenei di Haram Imam Reza bukan sekadar penghormatan, melainkan penegasan spiritual atas kontribusinya bagi Republik Islam. Kompleks ini adalah episentrum Syiah yang menampung pusara Imam Reza, keturunan Nabi Muhammad kedelapan, dan dikunjungi jutaan peziarah setiap tahun dari Iran, Irak, Pakistan, hingga Suriah. Arsitekturnya yang megah dengan kubah emas dan menara tinggi menjadi ikon kota Mashhad, sekaligus simbol kebanggaan nasional.

Keputusan memakamkan Khamenei di sini menunjukkan posisi uniknya dalam hierarki politik-agama Iran. Selama 35 tahun berkuasa, ia memadukan peran politik sebagai pemimpin tertinggi dengan otoritas keagamaan sebagai marja’ taqlid (sumber rujukan hukum Islam), meskipun statusnya sebagai marja’ sering diperdebatkan di kalangan ulama. Penguburan di kompleks ini mengukuhkan warisannya sebagai pelindung revolusi Islam dan pengayom umat Syiah.

Sejarawan mencatat bahwa pemakaman di dalam kompleks Haram Imam Reza jarang diberikan kepada tokoh non-imam. Sebelumnya, hanya pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang dimakamkan di kompleks terpisah—tepatnya di Mausoleum Khomeini di Teheran—sehingga keputusan untuk Khamenei ini mengejutkan sekaligus bermakna historis. Ini menandakan pengakuan setara atas perannya dalam melanjutkan visi Khomeini.

Warisan Khamenei di Tengah Kontroversi dan Ketidakpastian

Khamenei memegang kendali sebagai Pemimpin Tertinggi sejak 1989, menggantikan Khomeini yang wafat setahun sebelumnya. Di bawah kepemimpinannya, Iran menghadapi sanksi ekonomi yang melumpuhkan akibat program nuklir, krisis diplomatik berlarut-larut dengan Amerika Serikat dan Israel, serta gelombang protes domestik yang menuntut kebebasan politik. Namun ia juga dipuji oleh pendukungnya sebagai benteng kedaulatan yang menjaga Iran dari intervensi asing dan memajukan kemandirian teknologi, termasuk pengembangan rudal dan drone.

Tokoh kontroversial itu meninggalkan negara dalam situasi ekonomi yang terpuruk akibat inflasi dan sanksi terbaru pasca-keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA. Di sisi lain, pengaruh regional Iran justru menguat melalui poros perlawanan—jejaring milisi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman—yang didanai dan dipersenjatai di bawah komandonya. Warisan ini menimbulkan dilema bagi penerusnya: melanjutkan kebijakan luar negeri agresif atau membuka ruang diplomasi untuk mencabut sanksi.

Proses pemilihan pengganti kini menjadi perhatian dunia. Dewan Ahli, lembaga beranggotakan 88 ulama yang bertugas memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi, dijadwalkan menggelar sidang darurat pekan depan. Nama-nama seperti Ebrahim Raisi (sebelum kematiannya 2024), Mujtaba Khamenei (putra Ali Khamenei), dan beberapa ulama konservatif lainnya disebut-sebut sebagai kandidat kuat. Dinamika ini dapat memicu pertarungan faksi di kalangan elite yang akan menentukan arah politik Iran dalam dekade mendatang.

Reaksi Global dan Domestik terhadap Kepergian Khamenei

Dari luar negeri, pemerintah Rusia dan Tiongkok menjadi yang pertama mengirimkan belasungkawa resmi, menekankan pentingnya hubungan strategis dengan Teheran. Sementara itu, para pemimpin negara-negara Teluk yang normalisasi dengan Iran di bawah Perjanjian Beijing 2023—seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—menyampaikan pernyataan hati-hati, menggarisbawahi penghormatan atas kematian seorang pemimpin besar namun menghindari komentar politik. Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa hanya mengeluarkan pernyataan singkat melalui juru bicara, mengingat hubungan diplomatik yang masih tegang.

Di dalam negeri, reaksi terpecah. Para pendukung setia rezim membanjiri media sosial dengan tagar #SalamPemimpin dan foto-foto Khamenei semasa hidup, sementara kelompok oposisi di pengasingan merayakan secara diam-diam dan berharap perubahan politik. Media pemerintah menayangkan montase perjalanan hidup Khamenei—dari masa mudanya sebagai aktivis anti-Syah, masa perang Iran-Irak, hingga sidang-sidang Majelis Ahli. Simpatisan menganggapnya sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat, sementara para pengkritiknya mengingat penindasan berdarah terhadap demonstran pada 2009, 2019, dan 2022.

Pengumuman resmi kematian Khamenei sempat memicu lonjakan harga emas dan dolar di pasar gelap Teheran, mencerminkan ketidakpastian ekonomi pasca-peralihan. Bursa saham Iran juga dibekukan sementara untuk mencegah kepanikan. Meski begitu, aparat keamanan bergerak cepat menangkap sejumlah aktivis yang dianggap menyebarkan "kebahagiaan" atas kematiannya, menandakan bahwa mobilisasi oposisi masih akan ditindak keras bahkan di masa transisi ini.

Babak Baru Iran Pasca-Pemakaman

Dengan dimakamkannya Khamenei di kompleks suci Haram Imam Reza, Iran menutup satu lembaran sejarah dan bersiap menulis babak baru. Kini perhatian beralih ke Dewan Ahli yang akan menentukan siapa yang pantas duduk di kursi velayat-e faqih—sistem kepemimpinan ulama yang menjadi jantung Republik Islam. Pilihan mereka tidak hanya akan membentuk kebijakan dalam negeri, tetapi juga arah poros perlawanan di Timur Tengah.

Para analis menilai bahwa momen ini dapat menjadi titik balik: entah Iran tetap pada jalur konservatif-radikal yang memicu isolasi, atau secara pragmatis membuka diri terhadap kompromi demi menyelamatkan ekonomi. Warisan Khamenei, yang kini bersemayam di antara ziarah jutaan peziarah, akan terus menjadi perdebatan—apakah ia dikenang sebagai penjaga revolusi atau perintis kebuntuan? Hanya waktu yang akan menjawab, sementara rakyat Iran melanjutkan hidup di bawah bayang-bayang sanksi dan cita-cita yang belum tuntas.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User