Bayangkan rumah tempat Anda tinggal selama puluhan tahun, tempat anak-anak belajar berjalan dan orang tua dimakamkan, tiba-tiba terancam hilang di bawah permukaan air. Itulah kenyataan pahit yang tengah dihadapi ratusan keluarga suku di Ajaygarh, sebuah kawasan di Distrik Chhatarpur, Madhya Pradesh, India. Mereka bukan menghadapi banjir bandang yang datang tiba-tiba, melainkan sebuah proyek ambisius yang dirancang untuk menyelamatkan jutaan orang dari kekeringan, namun justru mengorbankan kampung halaman mereka.
Proyek yang dimaksud adalah Ken Betwa, tahap perdana dari program raksasa penghubung sungai (river linking) senilai US$87 miliar atau sekitar Rp1.400 triliun. Program ini digadang-gadang sebagai solusi teknologi dan rekayasa sumber daya air terbesar di dunia, sebuah inovasi yang menghubungkan puluhan sungai di India agar air dari wilayah yang surplus bisa dialirkan ke daerah yang kekeringan. Namun di balik narasi mulia itu, tersembunyi dilema klasik pembangunan: kemajuan sering kali menuntut tumbal dari mereka yang paling lemah secara politik dan ekonomi.
Mengapa Proyek Ini Penting bagi India dan Dunia
India adalah rumah bagi 18 persen populasi dunia, tetapi hanya memiliki 4 persen cadangan air tawar global. Setiap tahun, jutaan petani bergantung pada musim hujan yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim. Kekeringan panjang di negara bagian seperti Maharashtra, Karnataka, dan Tamil Nadu telah memicu krisis pertanian, gelombang bunuh diri petani, dan migrasi massal ke kota-kota besar. Dalam konteks inilah program penghubung sungai hadir sebagai oase harapan. Ibarat seperti membangun jaringan pipa raksasa yang menyalurkan darah dari jantung ke seluruh tubuh, proyek ini berupaya memindahkan kelebihan air dari sungai-sungai di Himalaya dan India timur ke wilayah barat dan selatan yang kering kerontang.
Ken Betwa sendiri merupakan proyek percontohan yang menghubungkan Sungai Ken dengan Sungai Betwa, keduanya di Madhya Pradesh. Pemerintah India menargetkan irigasi tambahan untuk 6,35 juta hektare lahan, pasokan air minum bagi 6,2 juta orang, serta kapasitas pembangkit listrik tenaga air sebesar 103 megawatt. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan janji akan ketahanan pangan dan energi bagi negara dengan ekonomi tercepat tumbuh di dunia.
Namun, implementasi di lapangan tidak sesederhana hitungan algoritma di ruang rapat. Sejak fase konstruksi dimulai, warga Ajaygarh dan desa-desa sekitarnya melaporkan bahwa air mulai merendam rumah, lahan pertanian, dan situs bersejarah. Kuil-kuil kuno yang menjadi pusat spiritual komunitas suku terancam tenggelam. Mereka yang seharusnya menjadi penerima manfaat proyek malah menjadi korban pertama dari disrupsi tata kelola air yang tidak partisipatif.
Dilema Teknologi dan Hak Asasi Komunitas Adat
Kisah Ajaygarh bukan kasus tunggal. Di berbagai belahan dunia, proyek infrastruktur berskala besar sering kali berbenturan dengan hak masyarakat adat. Teknologi dan rekayasa memang mampu memindahkan sungai, tetapi tidak selalu mampu memindahkan akar budaya dan memori kolektif sebuah komunitas. Para ahli tata kelola air menilai bahwa keberhasilan jangka panjang proyek semacam ini tidak hanya ditentukan oleh ketepatan desain teknis, tetapi juga oleh sejauh mana suara warga lokal diakomodasi dalam proses pengambilan keputusan.
"Proyek air berskala besar harus dilihat sebagai ekosistem sosial, bukan sekadar infrastruktur fisik. Jika masyarakat adat tidak dilibatkan sejak awal, konflik akan terus menghantui implementasinya," ujar seorang peneliti kebijakan sumber daya air dari sebuah lembaga think tank lingkungan di New Delhi.
Pemerintah India berdalih bahwa proyek Ken Betwa telah melalui studi kelayakan selama bertahun-tahun dan memenuhi standar lingkungan. Mereka juga menjanjikan kompensasi serta relokasi bagi warga yang terdampak. Namun, warga Ajaygarh menilai janji itu tidak sebanding dengan hilangnya warisan leluhur. Relokasi bukan sekadar pindah rumah; ia berarti kehilangan akses ke hutan, sungai, dan tanah yang menjadi sumber penghidupan sekaligus identitas.
Pelajaran bagi Indonesia dan Negara Berkembang
Kasus Ken Betwa menyimpan pelajaran berharga bagi negara-negara berkembang lain, termasuk Indonesia, yang tengah gencar membangun infrastruktur air, bendungan, dan proyek strategis nasional. Pembangunan yang hanya berorientasi pada efisiensi teknis berisiko menciptakan ketimpangan baru. Pendekatan berbasis hak asasi manusia, konsultasi publik yang jujur, serta penilaian dampak sosial yang independen menjadi kunci agar inovasi tidak menjelma menjadi bencana bagi komunitas rentan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah India mampu membangun jaringan penghubung sungai terbesar di dunia, melainkan pada harga apa kemajuan itu diraih. Jika sebuah proyek penangkal kekeringan justru merendam desa dan kuil, maka kita perlu bertanya ulang: untuk siapa sebenarnya teknologi ini dirancang? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah proyek senilai ratusan triliun rupiah ini menjadi warisan peradaban atau luka yang tak pernah sembuh bagi mereka yang tergusur.
Comments (0)