Teknologi

Ketika Orang Tua Gunakan AI Gantikan Peran Mendongeng Anak

Bayangkan sebuah rumah di malam hari. Seorang anak menunggu cerita pengantar tidur, tetapi sang ayah masih sibuk menatap layar laptop. Alih-alih datang ke kamar, ia menekan tombol, lalu sebuah suara y...

Ketika Orang Tua Gunakan AI Gantikan Peran Mendongeng Anak

Bayangkan sebuah rumah di malam hari. Seorang anak menunggu cerita pengantar tidur, tetapi sang ayah masih sibuk menatap layar laptop. Alih-alih datang ke kamar, ia menekan tombol, lalu sebuah suara yang mirip dirinya mulai membacakan dongeng dari pengeras suara. Anak itu pun tertidur tanpa pernah bertatap mata dengan orang tuanya. Pemandangan seperti ini bukan lagi fiksi ilmiah. Inovasi kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence) kini memungkinkan orang tua “mendelegasikan” tugas mendongeng kepada mesin, dan fenomena ini mulai memicu perdebatan panas di dunia teknologi maupun parenting.

Belum lama ini, seorang insinyur AI menjadi sorotan publik setelah mengembangkan sistem yang dilatih dengan rekaman suaranya sendiri. Tujuannya sederhana: agar anaknya tetap bisa mendengar suara sang ayah saat dibacakan cerita, meski ia sedang bekerja atau kelelahan. Namun, apa yang awalnya terdengar seperti solusi efisiensi justru menuai kecaman. Banyak pihak menilai langkah tersebut sebagai bentuk pengabaian peran emosional orang tua, bukan sekadar inovasi teknologi.

Mengapa Ini Penting bagi Kita Semua

Isu ini bukan hanya tentang seorang ayah dan anaknya. Ini menyentuh pertanyaan besar: sejauh mana kita boleh menyerahkan interaksi manusiawi kepada algoritma? Mendongeng bukan sekadar transfer informasi. Ada kontak mata, intonasi yang berubah mengikuti alur cerita, sentuhan, dan kehadiran fisik yang membangun ikatan emosional. Ketika semua itu digantikan oleh model suara sintetis, yang hilang bukan cuma kehangatan, tetapi juga fondasi perkembangan sosial-emosional anak.

Ibarat seperti menonton konser lewat rekaman dibanding hadir langsung. Musiknya sama, tapi getaran dan atmosfernya tidak tergantikan. Begitu pula dongeng. AI bisa menirukan timbre suara, jeda, bahkan tawa, namun tidak bisa merasakan lelah sang anak atau menyesuaikan cerita berdasarkan ekspresi wajahnya secara spontan.

Bagaimana Teknologi Ini Bekerja

Secara teknis, sistem yang digunakan sang insinyur adalah hasil dari pengembangan text-to-speech (TTS) berbasis deep learning. Model dilatih dengan puluhan jam rekaman suara, lalu mempelajari pola fonem, intonasi, dan ritme bicara. Setelah cukup data, model dapat menghasilkan kalimat baru yang terdengar sangat mirip dengan suara asli. Beberapa platform bahkan menawarkan fitur ini secara komersial dengan harga mulai dari Rp150.000 hingga Rp1,5 juta per bulan, tergantung kualitas dan durasi.

Proses pelatihannya sendiri melibatkan neural network yang meniru cara kerja otak manusia dalam mengenali pola suara. Semakin banyak data, semakin halus hasilnya. Namun, ada batas etis: apakah seseorang boleh menciptakan “klon suara” tanpa persetujuan, atau menggunakannya untuk menggantikan peran orang tua secara permanen?

Respons Publik dan Para Ahli

Kecaman datang dari berbagai kalangan. Psikolog anak memperingatkan bahwa kehadiran fisik orang tua tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun. “Anak tidak butuh suara yang sempurna, mereka butuh kehadiran yang konsisten,” ujar seorang pakar perkembangan anak dalam sebuah diskusi panel. Sementara itu, sebagian praktisi teknologi membela langkah tersebut sebagai bentuk adaptasi di tengah tekanan hidup modern.

Perdebatan ini mencerminkan disrupsi yang lebih luas: ketika AI masuk ke ruang privat, batas antara efisiensi dan kasih sayang menjadi kabur. Kita perlu bertanya, apakah kita ingin anak-anak tumbuh bersama algoritma yang canggih, atau bersama orang tua yang hadir—meski lelah, meski tidak sempurna?

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Ia bisa memperkuat hubungan, tapi juga bisa menggantikannya. Keputusan ada di tangan kita, bukan di tangan mesin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User