Kebakaran Pabrik Sepatu di Fujian Tewaskan 28, Xi Jinping Murka
Industri manufaktur di wilayah pesisir China kembali diguncang musibah maut. Sebuah pabrik pembuat sepatu di Kota Jinjiang, Fujian, dilalap api pada Kamis (9/7/2024) pagi, merenggut 28 nyawa pekerja d...
Industri manufaktur di wilayah pesisir China kembali diguncang musibah maut. Sebuah pabrik pembuat sepatu di Kota Jinjiang, Fujian, dilalap api pada Kamis (9/7/2024) pagi, merenggut 28 nyawa pekerja dan melukai belasan lainnya. Kejadian ini seketika membangkitkan perhatian nasional setelah Presiden Xi Jinping menyampaikan kemarahan dan tuntutannya agar kasus ini segera diusut tuntas.
Detik-detik Api Menjalar di Area Produksi
Menurut laporan Dinas Pemadam Kebakaran Jinjiang, sinyal darurat pertama diterima sekitar pukul 09.45 waktu setempat. Titik api diduga berasal dari korsleting di mesin pembentukan sol sepatu yang dialiri cairan kimia mudah terbakar. Pabrik yang beroperasi dalam dua shift itu saat itu tengah padat oleh pekerja yang tengah menyelesaikan pesanan ekspor. Dalam waktu singkat, api meloncat ke tumpukan bahan baku sintetis, menghasilkan asap tebal beracun yang memenuhi ventilasi bangunan.
Situasi diperparah dengan konstruksi bangunan yang minim jendela serta terbatasnya pintu darurat. Saksi mata yang selamat menuturkan, banyak pekerja panik berebut menuju tangga sempit. Tim pemadam yang tiba 15 menit setelah panggilan harus memecah dinding untuk menjangkau korban yang terperangkap di lantai dua. Proses pemadaman total memakan waktu lebih dari tiga jam.
Jumlah Korban Jiwa dan Upaya Identifikasi
Hingga petang hari, 28 jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan. Mayoritas korban adalah perempuan berusia 20–35 tahun yang bekerja di bagian penjahitan dan pengeleman. Sebanyak 12 orang lainnya dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk perawatan luka bakar dan keracunan gas. Pemerintah Kota Jinjiang membentuk posko identifikasi korban dan pendampingan keluarga. Dinamika trauma mendalam dirasakan seluruh komunitas di sekitar kompleks pabrik.
Amarah Xi Jinping dan Tegasnya Instruksi dari Beijing
Presiden Xi Jinping secara terbuka meluapkan kegeramannya begitu menerima laporan awal. Kantor Berita Xinhua melansir pernyataan bahwa Xi menyebut insiden ini sebagai “pelajaran berdarah” dan mengkritik keras sikap abai terhadap keselamatan jiwa. Ia segera menginstruksikan Komisi Inspeksi Pusat untuk melakukan audit darurat di seluruh pabrik sejenis dalam waktu 30 hari. “Tidak ada alasan apa pun untuk mengorbankan nyawa demi laba,” tegas Xi dalam kutipan yang disebarluaskan.
Perintah Presiden juga mencakup evaluasi menyeluruh pada sistem perizinan operasional industri manufaktur padat karya dan penindakan hukum terhadap pejabat pengawas yang terbukti lalai menjalankan tugasnya. Sinyal ini jelas menempatkan tragedi Jinjiang sebagai momentum reformasi birokrasi di ranah keselamatan kerja.
Penyelidikan Awal dan Dugaan Kriminal
Tim investigasi gabungan yang diketuai langsung oleh wakil gubernur Fujian bergerak cepat. Olah tempat kejadian perkara menemukan bahwa sistem alarm kebakaran tidak aktif dan setengah dari hidran yang ada dalam kondisi rusak. Dokumen audit internal pabrik menunjukkan bahwa simulasi tanggap darurat terakhir dilakukan lebih dari tiga tahun lalu. Manajemen Huiteng Shoes kini berstatus terperiksa, dan sang pemilik dicekal untuk mencegah pelarian. Dugaan pelanggaran hukum terkait UU Ketenagakerjaan dan Keselamatan Bangunan disiapkan jaksa.
Keselamatan Kerja di Industri Padat Karya: Masalah Sistemik
Kebakaran ini tidak berdiri sendiri. Dalam lima tahun terakhir, sedikitnya tiga insiden serupa terjadi di zona industri Fujian dan Guangdong, yang menjadi pusat rantai pasok global. Para pegiat buruh menilai, tekanan harga dari pembeli internasional kerap membuat pabrik meremehkan investasi keselamatan. Sistem pengawasan yang terfragmentasi antara otoritas daerah dan pusat juga menjadi celah yang membuat pemilik pabrik berani melanggar standar tanpa konsekuensi berarti. Kini, di bawah komando langsung Presiden Xi, model inspeksi terintegrasi diharapkan mampu menutup celah tersebut.
Kompensasi dan Reformasi Tata Kelola Industri
Pemerintah Provinsi Fujian mengumumkan paket kompensasi bagi masing-masing keluarga korban sebesar 600.000 yuan (sekitar Rp1,3 miliar), serta jaminan pendidikan bagi anak-anak korban hingga perguruan tinggi. Sementara itu, Kementerian Sumber Daya Manusia dan Keamanan Sosial China tengah menyusun revisi peraturan yang mewajibkan setiap pabrik dengan lebih dari 50 pekerja untuk memasang sistem sprinkler otomatis dan menggelar latihan darurat setiap bulan. Regulasi ini dijadwalkan berlaku sebelum akhir 2024.
Tragedi di Jinjiang menjadi pengingat getir bahwa dalam gemerlap keajaiban ekonomi China, keselamatan pekerja kerap menjadi variabel yang dikorbankan. Dengan atensi langsung dari Xi Jinping, diharapkan reformasi ini tak hanya menjadi wacana politik sesaat, melainkan fondasi baru bagi ekosistem kerja yang lebih manusiawi. Publik kini menanti hasil investigasi dan realisasi janji-janji tersebut.
Baca juga:
Comments (0)