Kawasan Industri Luar Jawa Tumbuh Pesat, Serap Investasi Rp120 Triliun Sepanjang 2025
Jakarta, Terdepan.id — Pertumbuhan kawasan industri dan properti komersial di luar Pulau Jawa mencatat trensignifikan sepanjang 2025, ditandai dengan peningkatan serapan investasi mencapai Rp120 trili
Jakarta, Terdepan.id — Pertumbuhan kawasan industri dan properti komersial di luar Pulau Jawa mencatat trensignifikan sepanjang 2025, ditandai dengan peningkatan serapan investasi mencapai Rp120 triliun. Angka tersebut naik 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mengindikasikan pergeseran pusat gravitasi industri manufaktur Indonesia.
Distribusi Investasi Kawasan Industri
Kementerian Perindustrian mencatat setidaknya 47 kawasan industri baru telah beroperasi atau sedang dalam tahap konstruksi di luar Jawa. Sumatera menjadi target utama dengan 18 lokasi, diikuti Sulawesi sebanyak 12 lokasi, Kalimantan 9 lokasi, dan wilayah Indonesia Timur 8 lokasi. Total lahan kawasan industri yang terserap mencapai 14.800 hektare, atau 62 persen dari total alokasi nasional.
Secara spesifik, Sumatera Bagian Utara mencatat serapan lahan tertinggi yakni 4.200 hektare, didorong oleh kehadiran sektor kelapa sawit, petrokimia, dan smelter logam. Di Sulawesi, kawasan Morowali dan Konawe terus menjadi primadona bagi industri nikel dan baterai sel, dengan serapan lahan masing-masing mencapai 1.900 hektare dan 1.400 hektare.
Properti Komersial Ikut Untung
Dampak langsung terhadap sektor properti komersial juga tampak jelas. Harga rata-rata lahan industri di luar Jawa naik 15-22 persen tergantung lokasi, berdasarkan data dari Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI). Kenaikan ini mendorong developer properti komersial untuk mengembangkan fasilitas pendukung seperti gudang logistik, pusat distribusi, dan kawasan ritel di sekitar kawasan industri.
Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Ahmad Kurniawan, menyebutkan bahwa pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk jalan tol, pelabuhan, dan ketersediaan listrik di kawasan industri luar Jawa. "Kami menargetkan alokasi lahan kawasan industri di luar Jawa mencapai 60 persen dari total nasional pada 2026," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (12/5).
Tantangan Infrastruktur
Meski demikian, ketersediaan infrastruktur energi dan konektivitas logistik masih menjadi tantangan utama. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), biaya distribusi dari kawasan industri di Sulawesi dan Kalimantan ke pasar ekspor masih 18-25 persen lebih tinggi dibandingkan rute dari Jawa. Kondisi ini menjadi faktor penentu bagi keputusan investasi jangka panjang pelaku industri.
Pemerintah Provinsi Kaltim dan Sulawesi Selatan telah mengalokasikan anggaran senilai Rp8,7 triliun untuk pembangunan jalan penghubung dan perluasan jalur pelabuhan pada tahun anggaran 2026 guna menjawab kebutuhan tersebut.
Berdasarkan data dan analisis terkini, tren kawasan industri dan properti komersial di luar jawa menunjukkan dinamika yang signifikan di pasar Indonesia. Para pelaku industri dan pemangku kepentingan terus mencermati perkembangan ini untuk mengambil langkah strategis yang tepat.
Comments (0)