Investor Garap Pasar Co-Living dan Co-Working, Okupansi di Kota Besar Tembus 85 Persen

Jakarta, Terdepan.id – Sektor properti komersial di kota-kota besar Indonesia mengalami pergeseran signifikan seiring meningkatnya permintaan terhadap hunian berbasis co-living dan ruang kerja co-work

Investor Garap Pasar Co-Living dan Co-Working, Okupansi di Kota Besar Tembus 85 Persen

Jakarta, Terdepan.id – Sektor properti komersial di kota-kota besar Indonesia mengalami pergeseran signifikan seiring meningkatnya permintaan terhadap hunian berbasis co-living dan ruang kerja co-working. Data dari konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia mencatat, tingkat okupansi segmen ini di Jakarta, Surabaya, dan Bandung mencapai 85% pada kuartal pertama 2026, naik dari 72% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dorongan Demografi dan Ekonomi

Analis properti menilai tren ini didorong oleh tiga faktor utama: pertumbuhan populasi pekerja muda usia 22–35 tahun, tingginya harga hunian tapak di pusat kota, serta preferensi terhadap model sewa fleksibel tanpa komitmen jangka panjang. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi generasi milenial dan Gen Z dalam angkatan kerja formal kini mencapai 58%, dengan lebih dari 60% di antaranya memilih menyewa ketimbang membeli properti dalam lima tahun pertama karier mereka.

Di sisi komersial, operator co-working seperti GoWork, WeWork, dan merek lokal lainnya melaporkan pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 22% sepanjang 2025–2026. Tidak hanya perusahaan rintisan, korporasi besar juga mulai mengadopsi model ruang kerja fleksibel untuk mengurangi beban sewa jangka panjang dan menyesuaikan diri dengan kebijakan kerja hibrida yang kini diterapkan oleh 67% perusahaan skala menengah-besar di Indonesia, berdasarkan survei Colliers International.

Ekspansi Agresif dan Diversifikasi Layanan

Merespons permintaan yang terus meningkat, sejumlah pengembang dan operator mulai melakukan ekspansi agresif. PT Intiland Development Tbk, misalnya, mengumumkan rencana pengembangan dua proyek co-living baru di kawasan TB Simatupang dan Tangerang Selatan dengan total 500 unit, ditargetkan beroperasi pada akhir 2026. Sementara itu, operator co-living Cove mencatat pertumbuhan jumlah unit kelolaan sebesar 40% dalam 12 bulan terakhir, dengan tingkat retensi penyewa bulanan di atas 75%.

Di ranah properti komersial, terjadi konvergensi model bisnis di mana gedung perkantoran kini mengintegrasikan lantai khusus co-working yang dikelola pihak ketiga. Menurut data internal Asosiasi Real Estat Indonesia (AREBI), sedikitnya 15 gedung perkantoran di kawasan Segitiga Emas Jakarta telah mengalokasikan 10–20% ruang mereka untuk fasilitas kerja bersama. Langkah ini dianggap strategis untuk mempertahankan okupansi gedung yang sempat tertekan selama pandemi dan belum sepenuhnya pulih ke level pra-2020.

Dengan proyeksi pertumbuhan tahunan rata-rata 18% hingga 2028, segmen co-living dan co-working diproyeksikan menjadi pilar baru dalam industri properti nasional. Investor institusional, termasuk dana pensiun dan perusahaan modal ventura, dilaporkan mulai mengalokasikan portofolio khusus untuk aset-aset berbasis ekonomi berbagi ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User