Kapolri Tambah Alat Pemadam Karhutla Berteknologi di Riau
PEKANBARU — Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan kesiapan personel dan peralatan Polri dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karh
PEKANBARU — Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan kesiapan personel dan peralatan Polri dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dari biasanya. Dalam kunjungannya ke Pekanbaru, Jenderal Listyo secara simbolis menyerahkan sejumlah peralatan pemadaman modern—mulai dari drone pemantau termal, pompa air portabel berdaya tinggi, hingga sistem komunikasi satelit—yang akan memperkuat respons cepat tim gabungan di lapangan. Langkah ini menjadi sinyal bahwa pendekatan penanggulangan karhutla kini bergeser dari reaktif murni ke strategi terintegrasi berbasis data dan teknologi.
Provinsi Riau kembali menjadi titik perhatian karena histori karhutla yang kerap mengganggu kualitas udara hingga ke negara tetangga. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan potensi curah hujan rendah di Sumatra bagian tengah hingga September 2026, meningkatkan risiko kebakaran gambut yang sulit dipadamkan. Polri merespons dengan memperkuat armada pemadaman menggunakan peralatan canggih yang didatangkan dari Korea Selatan dan Taiwan, hasil kolaborasi riset dengan beberapa institusi. Alat-alat tersebut mencakup 120 unit pompa apung elektrik, 15 drone inspeksi dengan sensor inframerah jarak 2 km, dan 5 mobil pemadam bertekanan tinggi yang mampu menjangkau area rawa. Semuanya dikoneksikan ke pusat komando di Polda Riau melalui jaringan 4G dan satelit orbit rendah, menciptakan ekosistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT).
Dari Reaksi ke Antisipasi: Teknologi yang Mengubah Taktik Pemadaman
Jika dulu pemadaman karhutla seperti memadamkan api lilin yang sudah membesar dengan segelas air, kini pendekatan teknologi membalik logika itu: kita memonitor percikan sebelum menjadi kobaran. Drone-drone yang diterbangkan setiap pagi dilengkapi kamera termal dan sensor multispektral, mampu mendeteksi titik panas bahkan di bawah kanopi lebat. Data dikirim real-time ke server yang menganalisis pola suhu dan kelembapan gambut. Ketika suhu tanah melampaui ambang 45°C di kedalaman 10 cm, sistem otomatis mengaktifkan peringatan dini ke regu terdekat. “Ini adalah lompatan besar. Kami tidak lagi menunggu asap terlihat, melainkan menghentikan api di fase smoldering bawah tanah,” jelas Prof. Andi Sasmita, pakar manajemen gambut dari Universitas Riau, saat diwawancarai terpisah.
Komponen krusial lainnya adalah pompa apung elektrik yang ringan (hanya 8 kg) namun berkapasitas sedot hingga 600 liter per menit. Pompa ini bisa dioperasikan di kanal-kanal sempit tanpa harus membawa truk tangki besar. Diintegrasikan dengan selang fleksibel dan nozzle kabut, alat ini menciptakan lapisan uap air yang mendinginkan permukaan gambut dengan cepat—seperti menyiram panas dengan embun buatan. Taktik ini mengurangi kebutuhan air sekaligus menekan risiko penyalaan kembali yang selama ini menjadi masalah utama kebakaran lahan gambut.
Perbandingan Kapasitas Pemadaman: Sebelum dan Sesudah Pengadaan
| Aspek | 2025 (Sebelum) | 2026 (Sesudah Pengadaan) |
|---|---|---|
| Waktu deteksi titik api | 2–4 jam (laporan warga) | 3–10 menit (drone & sensor) |
| Jumlah pompa portabel | 30 unit bensin 200 L/mnt | 120 unit elektrik 600 L/mnt |
| Radius pemadaman per tim | 500 m dalam 2 jam | 1,5 km dalam 30 menit |
| Ketergantungan cuaca | Hanya pemadaman darat | Dapat misi hujan buatan mikro |
| Akurasi data ke pusat | Manual, delay ~1 jam | Otomatis via satelit, real-time |
Transformasi ini memangkas waktu respons rata-rata dari yang semula 2 jam menjadi hanya 15 menit, sebuah perbedaan vital ketika kecepatan reaksi pertama adalah kunci pengendalian karhutla. Selain itu, penggunaan drone dan IoT memungkinkan pemetaan area rawan yang lebih presisi. Pusat komando kini bisa melihat dashboard digital yang menampilkan peta panas (heatmap) seluruh Riau, lengkap dengan risiko kebakaran berdasarkan kelembapan tanah dan historis titik api. “Dengan data ini, kita bisa menempatkan tim dan alat sebelum api muncul, bukan setelahnya,” tambah Prof. Andi.
Namun, tantangan ada pada pemeliharaan alat dan pelatihan berkelanjutan. Peralatan canggih membutuhkan operator yang paham interpretasi data sensor dan perawatan drone. Kapolri menyatakan bahwa Brimob dan gabungan TNI-Polri akan menjalani pelatihan intensif selama 3 minggu yang difasilitasi oleh vendor teknologi. Meski demikian, kombinasi teknologi, personel terlatih, dan dukungan kebijakan ini diharapkan mampu menekan luas karhutla di Riau hingga 40% dibandingkan tahun kemarau ekstrem sebelumnya.
Comments (0)