Kampanye Netanyahu Tampilkan Wajah Mamdani dan Erdogan di Papan Reklame
Mengapa ini penting: dalam politik modern, gambar yang beredar di layar ponsel sering kali lebih cepat membentuk opini dibanding pidato panjang. Fenomena itu kembali terlihat di Israel, ketika Perdana...
Mengapa ini penting: dalam politik modern, gambar yang beredar di layar ponsel sering kali lebih cepat membentuk opini dibanding pidato panjang. Fenomena itu kembali terlihat di Israel, ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengunggah video dan foto papan reklame pemilu yang menampilkan dua tokoh asing: Zohran Mamdani, politisi asal New York, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ibarat seperti menaruh nama orang lain di sampul buku yang kita tulis, kehadiran wajah-wajah tersebut langsung memancing perdebatan soal arah kampanye yang tengah berjalan.
Unggahan itu memperlihatkan papan reklame berukuran besar di lokasi-lokasi publik yang dipotret dan direkam, lalu disebarkan melalui akun resmi sang perdana menteri. Meski tidak ada penjelasan rinci dalam unggahan tersebut, publikasi wajah tokoh internasional di media kampanye selalu menyimpan makna: pesan tentang siapa yang dianggap kawan, siapa yang dianggap lawan, dan kepada kelompok pemilih mana pesan itu ditujukan.
Dua nama, dua peran berbeda
Zohran Mamdani adalah sosok yang cukup dikenal di panggung politik New York. Ia aktif menyuarakan isu-isu sosial, dan namanya kerap muncul di pemberitaan media Amerika Serikat. Sementara itu, Recep Tayyip Erdogan memimpin Turki sebagai presiden, kepala negara yang kerap berselisih pandangan dengan Israel dalam berbagai isu regional. Menampilkan dua nama ini bersamaan dalam materi kampanye bukanlah kebetulan; dalam logika politik, penyebutan tokoh kontroversial sering dipakai untuk membingkai lawan politik sebagai pihak yang berada di sisi berseberangan dengan mayoritas pemilih.
Strategi semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam banyak pemilu di berbagai negara, nama tokoh asing dijadikan alat untuk menguji sentimen publik. Perbedaannya kini terletak pada media penyebarannya. Dulu, papan reklame hanya bisa dilihat oleh orang yang lewat di lokasi tertentu. Kini, foto papan reklame itu diunggah ke platform digital, digandakan oleh algoritma rekomendasi, dan tiba di beranda pengguna dalam hitungan jam.
Mengapa wajah asing menjadi senjata kampanye
Secara psikologis, manusia cenderung menilai sesuatu berdasarkan asosiasi. Ketika sebuah wajah asing ditempel di samping nama calon tertentu, pemilih secara tidak sadar diminta menarik garis hubungan di antara keduanya. Ibarat seperti memakai warna seragam, identitas visual dalam kampanye bekerja lebih cepat daripada penjelasan panjang lebar. Para peneliti komunikasi politik menyebut praktik ini sebagai kampanye asosiatif: membangun citra lewat pencitraan, bukan lewat argumen kebijakan.
Data menunjukkan pengeluaran iklan politik di platform digital terus meningkat dari tahun ke tahun di berbagai negara, seiring pergeseran kebiasaan pemilih ke media sosial. Video pendek menjadi format favorit karena mudah ditonton, mudah dibagikan, dan sulit diabaikan. Inilah yang membuat unggahan berupa video papan reklame menjadi strategis: satu konten bisa bekerja di dua kanal sekaligus, di jalan raya dan di layar genggam.
Era visual yang menuntut kewaspadaan
Perkembangan teknologi menambah dimensi baru pada persoalan ini. Kini ada perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) yang mampu memanipulasi gambar dan suara, sehingga publik tidak bisa lagi berasumsi bahwa semua yang terlihat adalah nyata. Dalam konteks kampanye, kecepatan penyebaran dan kemudahan manipulasi membuat verifikasi menjadi pekerjaan rumah bersama, bukan hanya tugas jurnalis.
Para pemilih pun dituntut lebih kritis: membaca konteks, memeriksa sumber, dan tidak langsung menyimpulkan hanya dari satu gambar. Platform media sosial juga memiliki tanggung jawab untuk memberi label pada konten politik dan membatasi penyebaran materi yang menyesatkan, meskipun implementasi kebijakan itu kerap berjalan tidak konsisten di berbagai negara.
Yang perlu dicermati ke depan
Peristiwa ini mengingatkan bahwa kampanye pemilu kini berlangsung di dua dunia sekaligus: dunia fisik lewat papan reklame dan dunia digital lewat unggahan video. Keduanya saling menguatkan, dan keduanya menyasar emosi pemilih lebih dulu sebelum menyasar nalar. Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya apa yang ditampilkan, tetapi mengapa ia ditampilkan dan kepada siapa pesan itu diarahkan.
Bagi pengamat politik Israel, langkah ini membuka babak baru persaingan menuju pemilu: persaingan yang tidak hanya diukur dari debat kebijakan, tetapi juga dari siapa yang berhasil menguasai ruang visual publik. Ketika wajah tokoh internasional ikut menjadi aktor dalam papan reklame kampanye, publik layak bertanya sejauh mana batas antara kampanye, provokasi, dan informasi. Jawabannya akan menentukan kualitas demokrasi, bukan hanya di Israel, tetapi juga di negara mana pun yang sedang bersiap menghadapi pemilu.
Comments (0)