Teknologi

Kabut Asap Karhutla RI Bekap Malaysia, Warga Berbagi Kisah

Kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Malaysia belakangan ini bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Ia menjadi pengingat pahit bahwa persoalan lingkungan tidak mengenal batas negara. Kebakaran hutan ...

Kabut Asap Karhutla RI Bekap Malaysia, Warga Berbagi Kisah

Kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Malaysia belakangan ini bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Ia menjadi pengingat pahit bahwa persoalan lingkungan tidak mengenal batas negara. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia telah mengirimkan asap lintas batas yang mengganggu aktivitas sehari-hari warga di negara tetangga, mulai dari gangguan pernapasan hingga pembatalan penerbangan.

Ibarat seperti tetangga yang membakar sampah di halaman belakang, asapnya tidak hanya mengganggu si pembakar, tetapi juga menempel di jendela rumah sebelah. Itulah gambaran sederhana dari apa yang kini dialami warga Malaysia, yang harus berbagi udara kotor akibat karhutla di Indonesia.

Bagaimana Asap Bisa Menyeberang Negara?

Asap dari karhutla mengandung partikel halus yang disebut PM2.5, yakni partikel berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer. Ukuran partikel ini sangat kecil, sekitar 30 kali lebih tipis dari sehelai rambut manusia, sehingga mampu terbang jauh mengikuti pola angin muson. Pada musim kemarau, angin yang bertiup dari barat daya membawa massa udara dari Sumatera dan Kalimantan menuju Semenanjung Malaysia, termasuk kawasan seperti Kuala Lumpur, Selangor, dan Johor.

Menurut data pemantauan kualitas udara, Indeks Pencemaran Udara (IPU) di beberapa stasiun pemantau Malaysia sempat menembus angka di atas 100, yang masuk kategori tidak sihat. Angka ini menjadi alarm bagi warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Kisah Warga yang Terdampak

Di media sosial, sejumlah warga Malaysia membagikan pengalaman mereka. Ada yang mengeluh mata perih saat berangkat kerja, ada pula yang memilih mengenakan masker N95 meski sedang berada di dalam ruangan. Seorang pengendara ojek online menuturkan bahwa jarak pandang di jalan menurun drastis, membuatnya harus menurunkan kecepatan demi keselamatan.

"Bau asap terasa sampai ke dalam rumah. Anak saya batuk-batuk sejak seminggu terakhir," ujar seorang warga Selangor, seperti dikutip dari percakapan di platform media sosial.

Gangguan tidak hanya soal kesehatan. Beberapa penerbangan dari dan menuju bandara di Malaysia sempat mengalami keterlambatan akibat visibilitas rendah. Sekolah-sekolah di kawasan terdampak juga diminta memantau kondisi udara sebelum menggelar aktivitas luar ruangan.

Respons dan Tantangan Diplomasi Lingkungan

Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Sumber Asli dan Kelestarian Alam menyatakan telah berkoordinasi dengan otoritas Indonesia untuk menangani masalah ini. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia menyebutkan bahwa sebagian besar titik panas terdeteksi di lahan gambut yang mudah terbakar saat kemarau panjang, diperparah oleh fenomena El Nino yang membuat curah hujan menurun drastis.

Secara teknologi, deteksi karhutla kini dibantu oleh citra satelit dan algoritma machine learning (pembelajaran mesin) yang mampu mengidentifikasi titik panas secara real-time. Platform pemantauan ini memberi peringatan dini kepada petugas lapangan. Namun, tantangan terbesarnya bukan pada teknologi deteksi, melainkan pada implementasi di lapangan dan penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar.

AspekDampak
KesehatanISPA, iritasi mata, batuk kronis
TransportasiKeterlambatan penerbangan, jarak pandang turun
EkonomiPenurunan produktivitas kerja luar ruang

Para ahli lingkungan menilai bahwa solusi jangka panjang membutuhkan ekosistem kerja sama lintas negara, termasuk pendekatan deep tech untuk restorasi lahan gambut dan pengelolaan air. Tanpa itu, siklus asap tahunan berpotensi terus berulang.

Bagi pembaca, kabut asap ini adalah cermin bahwa inovasi teknologi lingkungan bukan sekadar proyek penelitian, melainkan kebutuhan mendesak. Ketika satu negara gagal menjaga lahannya, negara tetangga ikut menanggung akibatnya. Efisiensi pengelolaan lahan dan disrupsi kebiasaan membuka lahan dengan api menjadi kunci agar langit biru tidak lagi menjadi barang langka di kawasan ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User