Teknologi

Kabut Asap Karhutla Indonesia Bekap Malaysia, Warga Berbagi Kisah

Kualitas udara di beberapa wilayah Malaysia memburuk drastis dalam beberapa pekan terakhir. Penyebabnya bukan polusi lokal, melainkan asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sej...

Kabut Asap Karhutla Indonesia Bekap Malaysia, Warga Berbagi Kisah

Kualitas udara di beberapa wilayah Malaysia memburuk drastis dalam beberapa pekan terakhir. Penyebabnya bukan polusi lokal, melainkan asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah provinsi di Indonesia. Kabut asap ini menyeberangi Selat Malaka dan membekap langit Malaysia, memaksa warga kembali mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Bagi pembaca awam, karhutla mungkin terdengar seperti peristiwa musiman yang jauh. Namun dampaknya terasa langsung: sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, dan jutaan orang menghirup udara yang tidak sehat. Ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan persoalan kesehatan publik lintas negara.

Bagaimana Asap Bisa Menyeberangi Negara?

Karhutla umumnya terjadi di lahan gambut yang mengering pada musim kemarau. Gambut adalah lapisan tanah organik yang terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk selama ribuan tahun. Ibarat spons raksasa yang menyimpan karbon, gambut yang terbakar tidak hanya menghasilkan api di permukaan, tetapi juga asap tebal dari pembakaran bawah tanah yang sulit dipadamkan.

Asap mengandung partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, dikenal sebagai PM2.5 (Particulate Matter 2.5). Partikel ini begitu kecil sehingga bisa masuk ke saluran pernapasan terdalam dan aliran darah. Ketika angin muson bertiup dari barat daya, partikel-partikel ini terbawa melintasi laut dan mencapai wilayah Malaysia seperti Kuala Lumpur, Selangor, dan Sarawak.

Data indeks kualitas udara (API) di beberapa kota Malaysia sempat menembus angka di atas 150, kategori tidak sehat. Angka ini menjadi alarm bagi kelompok rentan: anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Kisah Warga yang Terdampak

Di media sosial, warga Malaysia berbagi pengalaman mereka. Seorang ibu di Selangor mengungkapkan bahwa anaknya mengalami batuk berkepanjangan dan matanya perih setiap pagi. Warga lain mengeluh jemuran tidak kering karena matahari tertutup kabut, sementara jarak pandang di jalan raya menurun sehingga rawan kecelakaan.

"Kami tidak mencium bau terbakar, tapi udara terasa sesak. Masker jadi barang wajib lagi," ujar seorang warga Kuala Lumpur melalui unggahan daring.

Keluhan serupa muncul dari kalangan pelajar. Beberapa sekolah diliburkan karena aktivitas luar ruangan dinilai berisiko. Penerbangan di bandara tertentu juga sempat mengalami penundaan akibat visibilitas rendah.

Respons dan Tantangan Diplomasi Lingkungan

Pemerintah Malaysia mendesak langkah konkret dari Indonesia, termasuk penegakan hukum terhadap perusahaan yang membuka lahan dengan cara membakar. Isu ini bukan hal baru. Sejak 1997, kabut asap lintas negara telah berulang kali terjadi dan menjadi agenda diplomasi lingkungan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations).

Di sisi lain, Indonesia menghadapi tantangan besar. Upaya pemadaman melibatkan teknologi modifikasi cuaca, seperti penyemaian awan untuk memicu hujan buatan. Teknologi ini menggunakan pesawat yang menyebarkan bahan kimia tertentu ke awan guna mempercepat kondensasi. Namun, efektivitasnya bergantung pada keberadaan awan itu sendiri.

Perbandingan sederhana: memadamkan karhutla di gambut ibarat memadamkan bara di bawah tumpukan jerami. Api di permukaan bisa dipadamkan, tetapi bara di bawah tetap menyala dan muncul kembali saat kondisi kering.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Para peneliti lingkungan menyoroti perlunya pendekatan jangka panjang: restorasi lahan gambut, penegakan hukum yang konsisten, serta pemberdayaan masyarakat agar tidak lagi bergantung pada metode bakar untuk membuka lahan. Teknologi pemantauan berbasis satelit juga terus dikembangkan untuk mendeteksi titik api lebih cepat.

Bagi negara tetangga, kerja sama regional menjadi kunci. Asap tidak mengenal batas administratif. Inovasi dalam sistem peringatan dini dan mitigasi lintas negara menjadi langkah strategis untuk mengurangi disrupsi berulang.

Pada akhirnya, cerita warga Malaysia adalah cermin bahwa krisis lingkungan di satu wilayah bisa menjadi masalah bersama. Udara bersih bukan hak eksklusif satu negara, melainkan kebutuhan kolektif yang menuntut solusi bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User