Jepang Uji Rudal Tomahawk, Adik Kim Jong Un Beri Ancaman

Ketegangan militer di Asia Timur Laut kembali meningkat, dan kali ini pemicunya adalah sebuah rudal jelajah yang mampu terbang rendah mengikuti kontur daratan sejauh lebih dari seribu kilometer. Menga...

Jepang Uji Rudal Tomahawk, Adik Kim Jong Un Beri Ancaman

Ketegangan militer di Asia Timur Laut kembali meningkat, dan kali ini pemicunya adalah sebuah rudal jelajah yang mampu terbang rendah mengikuti kontur daratan sejauh lebih dari seribu kilometer. Mengapa ini penting bagi kita? Karena kawasan tersebut adalah jantung rantai pasok semikonduktor dunia, yakni chip yang menghidupkan ponsel, laptop, hingga mobil Anda. Setiap eskalasi militer di sana berpotensi mengguncang harga barang elektronik, mengganggu jalur pelayaran dagang, dan memicu perlombaan senjata berteknologi tinggi yang dampaknya terasa hingga pasar global.

Peringatan keras datang dari Pyongyang. Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menyatakan negaranya akan mengambil opsi militer tambahan sebagai balasan atas uji coba rudal Tomahawk buatan Amerika Serikat yang baru saja dilakukan Jepang. Ia bahkan menyiratkan Tokyo akan menyesali langkah tersebut. Pernyataan bernada mengancam memang bukan hal baru dari Kim Yo Jong, salah satu figur paling vokal di pemerintahan Korea Utara, tetapi kali ini sasarannya sangat spesifik: program pertahanan Jepang yang sedang bertransformasi.

Mengapa Satu Uji Coba Bisa Memicu Ketegangan?

Ibarat tetangga yang tiba-tiba memasang pagar besi tinggi lengkap dengan kamera pengawas di lingkungan yang hubungannya sudah lama tidak harmonis, niatnya mungkin defensif, tetapi pihak sebelah bisa membacanya sebagai persiapan konfrontasi. Begitulah cara Pyongyang memandang langkah Tokyo. Bagi Korea Utara, rudal jarak jauh di tangan Jepang bukan sekadar alat pertahanan, melainkan kemampuan untuk menyerang wilayah mereka lebih dulu.

Kepekaan ini berakar pada sejarah. Jepang pasca-Perang Dunia II menganut konstitusi pasifis yang membatasi penggunaan kekuatan militer. Namun sejak akhir 2022, pemerintah Jepang mengubah strategi keamanan nasionalnya dan secara resmi mengejar apa yang disebut kemampuan serangan balasan atau counterstrike capability, yakni kapasitas menghancurkan basis peluncuran rudal musuh sebelum serangan benar-benar terjadi. Bagi sebagian negara tetangga, pergeseran doktrin ini terasa seperti disrupsi terhadap keseimbangan kekuatan yang telah bertahan puluhan tahun.

Bedah Teknologi Rudal Tomahawk

Tomahawk adalah rudal jelajah (cruise missile) subsonik yang dikembangkan Amerika Serikat dan kini diproduksi oleh perusahaan pertahanan RTX, yang sebelumnya dikenal sebagai Raytheon. Berbeda dengan rudal balistik yang melesat tinggi ke luar atmosfer seperti bola dilempar ke udara, rudal jelajah terbang rendah dan datar layaknya pesawat nirawak, sehingga jauh lebih sulit dideteksi radar.

Secara spesifikasi, varian modern Tomahawk memiliki jangkauan hingga sekitar 1.600 kilometer, kecepatan jelajah kurang lebih 880 kilometer per jam, dan hulu ledak seberat sekitar 450 kilogram. Harga satu unitnya diperkirakan mencapai sekitar 2 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp 32 miliar. Dengan jangkauan sejauh itu, rudal yang diluncurkan dari kapal perang di laut lepas mampu menjangkau sasaran jauh di pedalaman wilayah lawan.

Yang membuat Tomahawk istimewa adalah otak navigasinya. Rudal ini memadukan GPS (Global Positioning System/sistem pemosisian global), INS (Inertial Navigation System/sistem navigasi inersial yang menghitung posisi berdasarkan gerakan), serta teknologi TERCOM (Terrain Contour Matching/penyesuaian kontur medan). Cara kerja TERCOM bisa dianalogikan seperti ponsel yang mengenali wajah pemiliknya: algoritma di dalam rudal membandingkan data ketinggian medan yang ditangkap radar altimeter dengan peta digital di memorinya, lalu mengoreksi arah terbang secara otomatis. Ini adalah implementasi machine learning generasi awal dalam sistem persenjataan, jauh sebelum istilah AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) menjadi populer.

Akuisisi Jepang dan Pergeseran Doktrin Pertahanan

Pada November 2023, pemerintah Amerika Serikat menyetujui penjualan 400 rudal Tomahawk kepada Jepang, terdiri dari 200 unit Block IV dan 200 unit Block V, dalam paket senilai sekitar 2,35 miliar dolar Amerika Serikat atau hampir Rp 38 triliun. Pengiriman dijadwalkan bertahap antara 2025 hingga 2027, dan rudal-rudal itu akan dipasang pada kapal perusak Angkatan Laut Jepang yang dilengkapi sistem tempur Aegis. Uji coba yang memicu kemarahan Pyongyang merupakan bagian dari proses pengembangan dan integrasi platform tersebut.

Langkah ini sejalan dengan keputusan Jepang menaikkan anggaran pertahanan menuju 2 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), dua kali lipat dari batas tidak resmi 1 persen yang dipatuhi selama beberapa dekade. Investasi sebesar itu tidak hanya untuk membeli senjata, tetapi juga membangun ekosistem pertahanan yang lebih mandiri, mulai dari penelitian rudal hipersonik domestik hingga kerja sama pengembangan jet tempur generasi berikutnya bersama Inggris dan Italia.

Apa Artinya bagi Kawasan dan Indonesia?

Ancaman opsi militer tambahan dari Korea Utara patut dibaca dalam konteks program senjata mereka sendiri. Pyongyang selama ini rajin menguji rudal balistik, termasuk ICBM (Intercontinental Ballistic Missile/rudal balistik antarbenua) yang secara teori mampu mencapai daratan Amerika Serikat. Kritik terhadap uji coba Jepang dengan demikian membuka ruang bagi Korea Utara untuk membenarkan uji coba baru mereka sendiri, sebuah siklus aksi-reaksi yang menjadi ciri khas perlombaan senjata.

Bagi Indonesia, ketegangan di Asia Timur Laut bukan berita jarak jauh. Jalur pelayaran yang menghubungkan kawasan itu dengan Asia Tenggara adalah arteri perdagangan energi dan barang manufaktur. Gangguan kecil saja bisa merambat ke harga impor, biaya logistik, dan pasokan komponen elektronik. Di era ketika teknologi militer dan teknologi sipil semakin sulit dipisahkan, inovasi di satu sisi samudra bisa mengubah hitungan ekonomi di sisi lainnya. Memahami teknologi di balik berita seperti ini adalah langkah pertama agar tidak sekadar menjadi penonton dari disrupsi geopolitik yang sedang berlangsung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User