Jebolnya Waduk di Guangxi Tewaskan 39 Orang, Lumpur Lumpuhkan Desa

Desa Gantang, Guangxi – Aroma menyengat lumpur dan sisa bangunan hancur memenuhi udara pagi itu. Warga tampak menyusuri genangan cokelat pekat sambil mengais-ngais peti harta benda yang tersisa. Tra...

Jul 12, 2026 - 14:57
0 0
Jebolnya Waduk di Guangxi Tewaskan 39 Orang, Lumpur Lumpuhkan Desa

Desa Gantang, Guangxi – Aroma menyengat lumpur dan sisa bangunan hancur memenuhi udara pagi itu. Warga tampak menyusuri genangan cokelat pekat sambil mengais-ngais peti harta benda yang tersisa. Tragedi jebolnya sebuah waduk di wilayah otonom Guangxi Zhuang telah merenggut setidaknya 39 nyawa, mengubah desa tenang itu menjadi lautan lumpur dan puing.

Kronologi Musibah

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana setempat, bendungan tipe urugan tanah di hulu Sungai Gantang itu ambrol pada Selasa dini hari pukul 02.47 waktu setempat. Hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan selama empat hari berturut-turut membuat volume air di waduk melampaui kapasitas maksimal. Air bah setinggi tiga meter meluncur deras ke permukiman dalam waktu kurang dari tujuh menit, menyeret apa pun yang dilaluinya. "Kami sempat mendengar suara gemuruh seperti guntur, lalu listrik padam. Begitu keluar rumah, air sudah setinggi dada," ujar Lin Jian, warga Dusun Bawah yang selamat.

Sistem peringatan dini yang terpasang di bendungan dilaporkan tidak berfungsi karena terendam dan korsleting. Data dari pos pemantau cuaca menunjukkan curah hujan mencapai 348 milimeter dalam 72 jam terakhir sebelum insiden, hampir dua kali lipat rata-rata bulanan. Pemerintah provinsi sedang menyelidiki apakah faktor kelalaian pemeliharaan turut memperparah bencana ini.

Evakuasi dan Pencarian

Tim SAR gabungan yang terdiri dari 1.200 personel tentara, pemadam kebakaran, dan relawan dikerahkan ke lokasi. Mereka harus berjibaku dengan lumpur setinggi perut orang dewasa yang menghambat pergerakan. Alat berat seperti ekskavator amfibi didatangkan dari kota terdekat, namun medan yang masih labil memperlambat proses evakuasi. Hingga hari ketiga pascabencana, 14 jenazah masih berstatus hilang dan proses identifikasi terus dilakukan di rumah sakit lapangan.

"Korban selamat yang kami temukan umumnya dalam kondisi hipotermia dan luka berat karena terbentur material bangunan," kata Kolonel Zhang Wei, koordinator lapangan militer. Warga yang selamat ditampung di enam titik pengungsian, termasuk Sekolah Menengah Gantang dan balai desa. Stok air bersih dan selimut darurat mulai menipis karena akses jalan utama terputus di beberapa titik.

Dampak Lingkungan dan Infrastruktur

Selain korban jiwa, sedikitnya 2.300 rumah dilaporkan rusak berat, termasuk dua fasilitas kesehatan dan sebuah pabrik pengolahan hasil tani. Lumpur yang mengandung limbah tambang mangan dari aktivitas di hulu dikhawatirkan mencemari sumur dan lahan pertanian. Dinas Lingkungan setempat telah mengeluarkan larangan mengonsumsi air tanah hingga hasil uji laboratorium keluar. "Kami khawatir ada kontaminasi logam berat yang bisa menyebabkan penyakit kulit dan saluran pencernaan," terang Profesor Huang Yuting, ahli hidrogeologi dari Universitas Guangxi.

Jaringan listrik dan komunikasi di lima desa terdampak lumpuh total. Operator telekomunikasi mendirikan BTS mobile darurat di pusat evakuasi untuk memulihkan sinyal. Perbaikan jalan diprediksi memakan waktu dua minggu karena jembatan penghubung antardesa hancur tersapu arus.

Respons Pemerintah

Gubernur Guangxi, Lan Tianli, meninjau langsung lokasi dan menjanjikan bantuan dana tanggap darurat senilai 80 juta yuan (sekitar Rp170 miliar). Presiden Tiongkok menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan investigasi menyeluruh terhadap penyebab jebolnya waduk. "Setiap nyawa yang hilang adalah tanggung jawab kami. Kami akan memastikan korban mendapatkan santunan dan pemulihan berjalan cepat," ujarnya dalam konferensi pers.

Namun, keluarga korban mengeluhkan lambatnya pencairan santunan. Chen Lihua, kehilangan suami dan dua anaknya, harus menunggu verifikasi administrasi selama tiga hari. "Mereka meminta dokumen, padahal semua sudah ludes disapu air. Ini menambah penderitaan kami," keluhnya di tenda pengungsian.

Cerita Para Penyintas

Di tengah duka, muncul kisah-kisah heroik. Wei Fang, bidan desa berusia 52 tahun, berhasil menyelamatkan sembilan balita dari tempat penitipan anak sebelum bangunan rubuh. Ia menggendong tiga anak sekaligus melintasi jalan berlumpur memakai tiang bambu sebagai penopang. "Saya hanya ingat harus menyelamatkan mereka. Tidak ada waktu untuk takut," kenangnya dengan mata sembab.

Sementara itu, relawan dari kota-kota besar mulai berdatangan membawa bantuan logistik dan trauma healing. Yayasan Palang Merah Tiongkok mendirikan dapur umum yang menyajikan ribuan porsi makanan hangat setiap hari. "Ini bencana mengerikan, tapi solidaritas kami lebih besar," kata Liu Zhen, koordinator relawan dari Nanning. Desa Gantang kini berjuang bangkit dari lumpur, merangkai kembali hidup yang terkoyak oleh amukan air semalam.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User