Jebolnya Waduk di Guangxi: 39 Meninggal, Warga Gantang Berduka
Lapisan lumpur kecokelatan masih menyelimuti hampir seluruh sudut Desa Gantang, Guangxi, tiga hari setelah bencana yang mengguncang wilayah tersebut. Warga yang selamat mulai menyisir puing-puing ruma...
Lapisan lumpur kecokelatan masih menyelimuti hampir seluruh sudut Desa Gantang, Guangxi, tiga hari setelah bencana yang mengguncang wilayah tersebut. Warga yang selamat mulai menyisir puing-puing rumah mereka, berusaha menyelamatkan sisa barang berharga yang masih bisa dikenali di tengah kehancuran total. Tragedi jebolnya sebuah waduk di daerah pegunungan ini telah merenggut sedikitnya 39 nyawa dan meninggalkan luka mendalam bagi komunitas yang menggantungkan hidup pada pertanian dan perikanan di sekitar aliran sungai.
Kronologi Kejadian di Malam Nahas
Berdasarkan kesaksian warga dan laporan otoritas setempat, bendungan yang diperkirakan dibangun pada awal 1990-an itu ambruk pada Senin dini hari (10/3) sekitar pukul 02:30 waktu setempat. Sebelumnya, hujan deras mengguyur wilayah hulu selama lebih dari 12 jam tanpa henti, menyebabkan debit air waduk melonjak drastis melampaui kapasitas normal. "Saya mendengar suara gemuruh seperti guntur, lalu tiba-tiba air bah menerjang dari arah bukit," ujar seorang warga yang kehilangan tiga anggota keluarganya. Gelombang air bercampur lumpur setinggi 3–4 meter menghantam permukiman dalam hitungan menit, sementara sebagian besar penduduk masih terlelap.
Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana setempat menyebutkan, sedikitnya 1.200 rumah rusak berat atau hanyut terbawa arus. Jalur transportasi utama desa putus total akibat jembatan yang roboh, menyulitkan evakuasi pada jam-jam pertama pasca-bencana. Tim penyelamat baru bisa mencapai lokasi terparah setelah lima jam menggunakan perahu karet dan helikopter.
Dampak Kemanusiaan dan Kerusakan Infrastruktur
Hingga Kamis (13/3), angka korban jiwa resmi bertambah menjadi 39 orang setelah tim penyelamat menemukan beberapa jenazah yang terjebak di dalam bangunan sekolah dasar yang runtuh. Selain itu, 17 orang masih dilaporkan hilang dan lebih dari 200 warga mengalami luka-luka, sebagian besar akibat hantaman material keras yang terbawa banjir. Fasilitas kesehatan darurat didirikan di tenda-tenda pengungsian, namun stok obat-obatan dan tenaga medis masih sangat terbatas.
Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi desa porak-poranda. Ratusan hektare sawah dan kolam ikan tertimbun lumpur tebal, memusnahkan tanaman padi yang tinggal sebulan lagi panen. Jaringan listrik dan saluran komunikasi juga lumpuh, membuat koordinasi bantuan di awal bencana berjalan lambat. Kementerian Sumber Daya Air memperkirakan kerugian material mencapai ¥420 juta (sekitar Rp 900 miliar) termasuk biaya rekonstruksi waduk dan perumahan warga.
Upaya Penyelamatan dan Distribusi Bantuan
Lebih dari 1.500 personel gabungan dari militer, polisi, dan relawan dikerahkan untuk mencari korban hilang. Mereka dibantu 12 anjing pelacak dan peralatan sonar untuk mendeteksi jasad di bawah tumpukan puing. Operasi pencarian terkendala oleh cuaca buruk dan medan yang labil; hujan susulan masih sering turun sehingga memicu longsor kecil di beberapa titik.
Pemerintah Guangxi telah menyalurkan bantuan darurat berupa 3.000 tenda, 10.000 selimut, dan 50 ton beras. Dapur umum beroperasi di tiga titik pengungsian, namun antrean panjang masih terlihat. Lembaga kemanusiaan internasional mulai menawarkan bantuan, namun akses distribusi masih terpusat di kota kecamatan terdekat karena jalur ke Desa Gantang belum sepenuhnya pulih. "Kami butuh air bersih dan selimut lebih banyak, terutama untuk anak-anak dan lansia yang mulai terserang diare," kata seorang koordinator relawan.
Penyebab dan Penyelidikan Teknis
Tim ahli dari Universitas Teknik Sipil Guangxi telah diterjunkan untuk menyelidiki faktor penyebab ambruknya waduk. Dugaan awal mengarah pada kombinasi curah hujan ekstrem dan kemungkinan kelemahan struktur bendungan yang sudah berusia lebih dari tiga dekade. Inspeksi terakhir yang tercatat dilakukan pada 2022, namun tidak ada laporan kerusakan berarti saat itu. Beberapa warga menyebutkan bahwa retakan kecil pada dinding waduk sudah terlihat sejak setahun lalu, tetapi tidak ada tindakan perbaikan.
Pakar hidrologi independen mengingatkan bahwa peristiwa ini menunjukkan perlunya audit menyeluruh terhadap ribuan waduk kecil di seluruh Tiongkok yang dibangun pada era 1950–1990-an. Perubahan pola cuaca akibat krisis iklim membuat bendungan tua semakin rentan terhadap tekanan air yang melampaui desain aslinya. Pemerintah pusat berjanji akan mengevaluasi ulang standar keamanan seluruh infrastruktur pengendali banjir dalam waktu dekat.
Trauma Warga dan Harapan Pemulihan
Di antara sisa-sisa kehancuran, warga Gantang berusaha merangkai kembali kehidupan. Seorang ibu paruh baya yang kehilangan suami dan anak bungsunya hanya bisa termenung di depan reruntuhan rumahnya yang kini hanya tersisa fondasi. "Yang saya punya sekarang hanya pakaian di badan ini," ucapnya lirih. Tim konselor psikososial mulai diterjunkan untuk menangani trauma mendalam, terutama pada anak-anak yang selamat.
Pemerintah setempat menargetkan pembangunan rumah sementara selesai dalam dua bulan, sementara rekonstruksi waduk diperkirakan memakan waktu lebih dari setahun. Warga berharap musim tanam berikutnya dapat dimulai setelah saluran irigasi diperbaiki. Solidaritas dari berbagai daerah mulai mengalir, namun kepercayaan terhadap pengelolaan infrastruktur publik jelas terkikis. Peristiwa di Gantang menjadi pengingat pahit bahwa di balik pesatnya pembangunan, keselamatan warga harus tetap menjadi prioritas utama yang tak bisa ditawar.
Baca juga:
Comments (0)