Bayangkan sebuah negara di mana istana presiden bersinar terang sepanjang malam, sementara jutaan warganya harus memasak dengan kayu bakar karena listrik padam belasan jam setiap hari. Itulah realitas pahit yang dihadapi Zimbabwe, sebuah negara di Afrika bagian selatan yang kini menjadi simbol betapa tajamnya jurang antara penguasa dan rakyatnya. Kisah ini bukan sekadar soal lampu yang mati, melainkan cerminan bagaimana kebijakan ekonomi yang timpang dapat menghancurkan kehidupan sehari-hari masyarakat biasa.
Ironi ini menjadi sorotan dunia setelah peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson, membagikan pengalaman penelitiannya di Zimbabwe. Robinson, yang dikenal lewat kajiannya tentang mengapa sebagian negara gagal mencapai kesejahteraan, menemukan fakta mengejutkan: ketimpangan sosial di negara itu tidak hanya soal angka statistik, tetapi telah menjelma menjadi pengalaman hidup yang menyakitkan bagi rakyat kecil.
Krisis Listrik yang Tak Kunjung Usai
Krisis energi di Zimbabwe bukan fenomena baru. Selama bertahun-tahun, Perusahaan Listrik Nasional Zimbabwe (ZESA) kesulitan memenuhi kebutuhan listrik nasional. Penyebabnya berlapis: infrastruktur pembangkit listrik yang sudah tua, kekeringan berkepanjangan yang menurunkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kariba, serta keterbatasan devisa untuk mengimpor listrik dari negara tetangga.
Akibatnya, pemadaman listrik bergilir—yang dikenal dengan istilah load shedding—menjadi rutinitas. Di beberapa wilayah, warga hanya mendapat aliran listrik empat hingga enam jam sehari. Rumah sakit kesulitan menyalakan alat medis, usaha kecil gulung tikar karena tidak bisa beroperasi, dan anak-anak belajar di bawah cahaya lilin. Ibarat seperti mesin yang kehabisan bahan bakar, roda perekonomian Zimbabwe berputar semakin lambat.
Yang membuat situasi ini terasa semakin getir adalah kontrasnya dengan kawasan elite pemerintahan. Istana presiden dan kompleks-kompleks pejabat dilaporkan tetap terang benderang, lengkap dengan sistem cadangan listrik canggih. Ketimpangan akses energi inilah yang oleh Robinson disebut sebagai manifestasi nyata dari kegagalan institusi.
Akar Masalah: Institusi yang Timpang
Dalam kajian ekonomi pembangunan, Robinson bersama kolaboratornya, Daron Acemoglu, terkenal lewat teori tentang extractive institutions (institusi ekstraktif). Ini adalah struktur politik dan ekonomi yang dirancang untuk menguntungkan sekelompok kecil elite, sementara mayoritas penduduk dieksploitasi atau diabaikan.
"Ketimpangan tidak muncul begitu saja. Ia adalah hasil dari pilihan kebijakan dan desain institusi yang secara sistematis menguntungkan mereka yang berkuasa," demikian inti dari temuan yang sering disampaikan Robinson dalam berbagai forum akademik.
Di Zimbabwe, pola ini terlihat jelas. Sumber daya alam yang melimpah—seperti tambang emas, platinum, dan lithium—seharusnya bisa menjadi motor penggerak ekonomi. Namun, tata kelola yang buruk, korupsi, dan lemahnya akuntabilitas membuat kekayaan itu tidak mengalir ke rakyat. Sebaliknya, krisis ekonomi justru diperparah oleh hiperinflasi yang pernah mencapai angka triliunan persen pada 2008, menghancurkan tabungan dan daya beli masyarakat.
Dampak Nyata pada Kehidupan Sehari-hari
Bagi warga Zimbabwe, ketimpangan bukanlah konsep abstrak. Mereka merasakannya dalam setiap aspek kehidupan:
- Pendidikan: Sekolah-sekolah negeri kekurangan listrik dan air bersih, sementara sekolah swasta untuk keluarga kaya menikmati fasilitas lengkap.
- Kesehatan: Rumah sakit umum kewalahan menghadapi pasien tanpa pasokan listrik yang stabil, sementara klinik elite menyediakan generator cadangan.
- Pekerjaan: Tingkat pengangguran formal sangat tinggi, memaksa banyak orang bekerja di sektor informal yang tidak terlindungi.
Data dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk Zimbabwe hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara itu, sejumlah kecil individu yang dekat dengan lingkaran kekuasaan terus menikmati kekayaan. Inilah yang oleh para ekonom disebut sebagai "kegagalan pembangunan"—sebuah kondisi di mana potensi besar suatu negara tidak mampu dikelola untuk kesejahteraan bersama.
Pelajaran bagi Dunia
Kisah Zimbabwe adalah pengingat keras bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam atau bantuan internasional. Yang paling menentukan adalah kualitas institusi: apakah hukum ditegakkan secara adil, apakah kekuasaan dibatasi, dan apakah rakyat memiliki suara dalam pengambilan keputusan.
Teknologi dalam konteks ini memainkan peran ganda. Di satu sisi, inovasi di bidang energi terbarukan—seperti panel surya yang semakin murah—menawarkan harapan bagi daerah-daerah yang tidak terhubung jaringan listrik nasional. Di sisi lain, teknologi juga bisa menjadi alat kontrol dan pemantauan yang memperkuat kekuasaan elite jika tidak diimbangi dengan tata kelola yang baik.
Robinson dan banyak ekonom lain berpendapat bahwa perubahan hanya bisa terjadi jika ada tekanan kolektif dari masyarakat untuk menuntut institusi yang inklusif. Sejarah menunjukkan bahwa transisi semacam ini tidak pernah mudah, tetapi juga bukan mustahil. Dari Amerika Latin hingga Asia Timur, banyak negara berhasil keluar dari jebakan ketimpangan setelah melalui perjuangan panjang.
Pada akhirnya, tragedi Zimbabwe bukan hanya tentang lampu yang padam. Ia bercerita tentang harapan yang redup, tentang janji kemerdekaan yang belum terwujud sepenuhnya, dan tentang jutaan orang yang setiap hari berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Selama terang di istana tidak pernah menyentuh gelap di rumah-rumah rakyat, selama itu pula cita-cita kesejahteraan bersama akan tetap menjadi bayang-bayang.
Comments (0)