Hujan Lebat dan Tanah Longsor Landa Korsel: Apa yang Perlu Anda Tahu

Cuaca ekstrem kembali menjadi ujian besar bagi Korea Selatan. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejumlah daerah di bagian selatan negeri tersebut, memicu tanah longsor yang mengancam permukiman...

Hujan Lebat dan Tanah Longsor Landa Korsel: Apa yang Perlu Anda Tahu

Cuaca ekstrem kembali menjadi ujian besar bagi Korea Selatan. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejumlah daerah di bagian selatan negeri tersebut, memicu tanah longsor yang mengancam permukiman warga. Peristiwa ini bukan sekadar berita cuaca biasa — bagi warga setempat, ini soal keselamatan, harta benda, dan kelangsungan aktivitas sehari-hari. Jalanan yang tergenang melumpuhkan transportasi, sementara longsor memutus akses antarwilayah dan membahayakan permukiman di lereng gunung. Indonesia pun punya alasan kuat untuk menyimak: topografi kita yang berbukit dan bergunung membuat ancaman serupa selalu mengintai setiap musim hujan.

Dari Hujan Deras Menjadi Bencana: Bagaimana Prosesnya

Untuk memahami mengapa hujan bisa berubah menjadi bencana, bayangkan tanah di lereng seperti spons yang sudah jenuh air. Ibarat seperti spons yang tidak mampu lagi menyerap cairan, tanah yang penuh air kehilangan daya rekat antarlapisannya. Ketika hujan turun terus-menerus, air meresap, menambah beban, dan melicinkan bidang antar lapisan tanah — pada titik tertentu, material itu longsor membawa batu, lumpur, dan pepohonan ke pemukiman di bawahnya.

Korea Selatan memang akrab dengan musim hujan monsun yang disebut jangma, yang biasanya berlangsung dari akhir Juni hingga pertengahan Juli. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pola ini berubah makin ekstrem. Data dari KMA (Korea Meteorological Administration/Badan Meteorologi Korea) mencatat rekor-rekor hujan yang memecahkan sejarah. Pada Agustus 2022, hujan di Seoul mencapai 141,5 milimeter per jam — terderas sejak pencatatan dimulai 115 tahun lalu — dan lebih dari 500 milimeter turun dalam sehari di sejumlah titik, menewaskan belasan orang. Setahun kemudian, pada Juli 2023, banjir dan longsor di wilayah tengah dan timur negeri itu menelan setidaknya 47 korban jiwa.

Emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia telah menyebabkan peningkatan frekuensi dan/atau intensitas sejumlah cuaca dan iklim ekstrem sejak era pra-industri. — Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)

Para peneliti iklim menjelaskan mekanisme di baliknya melalui prinsip fisika yang sederhana: setiap kenaikan suhu 1 derajat Celsius, atmosfer mampu menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air. Akibatnya, ketika hujan akhirnya turun, intensitasnya menjadi jauh lebih deras. Inilah yang membuat penelitian dan inovasi di bidang prediksi cuaca menjadi semakin krusial.

Respons Darurat: Evakuasi dan Sistem Peringatan Dini

Menghadapi ancaman ini, pemerintah Korea Selatan mengaktifkan prosedur tanggap darurat. Warga di daerah rawan diminta mengungsi ke tempat aman sebelum hujan puncak tiba, sejumlah ruas jalan ditutup, dan jalur pendakian gunung dihentikan sementara. Salah satu kunci keselamatan adalah sistem peringatan dini berbasis telepon seluler, di mana pesan darurat dikirim langsung ke gawai warga di zona terdampak. Teknologi platform seperti ini memungkinkan informasi bahaya menjangkau ribuan orang dalam hitungan menit, jauh lebih cepat daripada pengumuman melalui siaran televisi.

Meski demikian, peringatan dini hanya efektif jika disusul tindakan. Pengalaman Korea menunjukkan bahwa komunikasi yang jelas, koordinasi antarlembaga, dan kesiapan warga menjadi pembeda antara bencana dengan korban besar dan bencana yang bisa dikendalikan. Efisiensi respons inilah yang sering kali menentukan jumlah korban jiwa.

Teknologi Prediksi Cuaca: dari Model Numerik hingga Machine Learning

Di balik peringatan dini itu ada teknologi prediksi cuaca yang terus berkembang. Selama puluhan tahun, metode utamanya adalah NWP (Numerical Weather Prediction/prediksi cuaca numerik), yaitu simulasi atmosfer menggunakan superkomputer dan rumus fisika. Metode ini andal, tetapi membutuhkan komputasi raksasa dan waktu berjam-jam untuk menghasilkan ramalan.

Kini, inovasi berbasis machine learning (pembelajaran mesin, cabang AI/Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) mulai menghadirkan disrupsi pada cara manusia meramal cuaca. Model seperti GraphCast yang dikembangkan Google DeepMind dan Pangu-Weather dari Huawei Cloud — keduanya dipublikasikan di jurnal ilmiah ternama pada 2023 — terbukti mampu meramal cuaca jangka pendek lebih cepat, bahkan lebih akurat daripada model konvensional dalam sejumlah pengujian. Pangu-Weather, misalnya, diklaim jauh lebih hemat komputasi, sementara sejumlah badan meteorologi dunia mulai menguji implementasi model AI ini untuk mendampingi model lama.

AspekModel Numerik (NWP)Model AI/Machine Learning
Dasar kerjaRumus fisika atmosferPola dari jutaan data historis
KecepatanBerjam-jamMenit, bahkan detik
Kebutuhan komputasiSangat besarJauh lebih efisien
KelebihanFisika eksplisitAkurat untuk ramalan pendek

Pengembangan model seperti ini adalah contoh nyata deep tech (teknologi riset mendalam) yang membawa dampak langsung ke kehidupan orang banyak. Algoritma yang mempelajari pola cuaca dari data masa lalu bisa memberi peringatan lebih awal, memberi warga waktu ekstra untuk mengungsi. Korea Selatan, yang memiliki ekosistem riset dan industri teknologi yang kuat, berada di garis depan pengujian metode-metode ini — sebuah pelajaran bahwa investasi di bidang sains iklim adalah investasi keselamatan.

Pelajaran untuk Indonesia

Bagi Indonesia, kisah ini relevan. Banyak wilayah kita berada di lereng dengan tanah yang sama-sama rapuh, dan musim hujan kerap memicu longsor di daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Nusa Tenggara. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) rutin mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem, tetapi efektivitasnya bergantung pada sejauh mana informasi itu sampai ke warga di pelosok dan direspons dengan cepat.

Pelajaran utamanya sederhana: bencana hidrometeorologi — bencana yang dipicu oleh kondisi cuaca dan air — semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri: memperkuat sistem peringatan dini, menjaga kawasan resapan air, menata permukiman di zona rawan longsor, dan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat respons. Semakin cepat informasi sampai, semakin banyak nyawa yang bisa diselamatkan. Hujan deras di Korea Selatan kali ini kembali mengingatkan kita semua bahwa cuaca ekstrem bukan lagi kejadian langka, melainkan kenyataan yang harus dihadapi bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User