Hubungan Trump dan Netanyahu Merenggang, Israel Berpotensi Hadapi Iran Sendirian

Ketika dua sekutu yang selama bertahun-tahun tampil kompak mulai menunjukkan jarak, dunia ikut menahan napas. Dinamika antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin ...

Hubungan Trump dan Netanyahu Merenggang, Israel Berpotensi Hadapi Iran Sendirian

Ketika dua sekutu yang selama bertahun-tahun tampil kompak mulai menunjukkan jarak, dunia ikut menahan napas. Dinamika antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belakangan dinilai para pengamat memasuki fase yang tidak lagi harmonis. Persoalan ini penting bagi semua orang, bukan hanya warga Timur Tengah. Jika ketegangan berujung konfrontasi militer antara Israel dan Iran, dampaknya akan merambat ke harga bahan bakar, biaya logistik, hingga stabilitas ekonomi negara-negara yang jauh dari lokasi konflik, termasuk Indonesia. Ibarat dua pemain utama dalam satu tim yang mulai berbeda strategi, seluruh arah permainan bisa berubah.

Sejumlah analis menilai perbedaan pendekatan terhadap Iran menjadi sumber utama gesekan. Trump dikenal gemar menempuh jalur kesepakatan dan perundingan, sementara Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa program nuklir Iran adalah ancaman eksistensial yang harus dihentikan, jika perlu dengan kekuatan militer. Ketika dua visi itu bertabrakan, muncul pertanyaan besar: mungkinkah Israel menyerang Iran meski harus berjalan sendirian?

Akar Retaknya Hubungan Dua Sekutu Lama

Hubungan Trump dan Netanyahu sebenarnya pernah sangat erat. Namun politik tidak mengenal persahabatan abadi, hanya kepentingan yang terus bergerak. Para pengamat melihat Trump kini lebih berhati-hati dalam urusan Timur Tengah, sejalan dengan doktrin America First yang menghindari keterlibatan militer baru yang mahal. Di sisi lain, Netanyahu menghadapi tekanan domestik dan disebut melihat momentum untuk melemahkan Iran yang dinilai sedang rapuh.

Perbedaan prioritas inilah yang disebut pengamat menciptakan keretakan. Washington dinilai lebih ingin membatasi eskalasi, sementara Yerusalem ingin bergerak cepat sebelum program pengayaan uranium Iran melangkah terlalu jauh. Berdasarkan laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran telah memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian sekitar 60 persen, selangkah lebih dekat menuju level 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir.

Mampukah Israel Berperang Tanpa Amerika Serikat?

Dari sisi teknologi pertahanan, Israel bukanlah pemain kecil. Negara itu memiliki armada jet tempur siluman F-35I Adir serta sistem pertahanan udara berlapis: Iron Dome untuk roket jarak pendek, David's Sling untuk ancaman jarak menengah, dan Arrow-3 yang dirancang mencegat rudal balistik di luar atmosfer. Israel juga memiliki kemampuan intelijen dan perang siber kelas dunia, seperti yang pernah ditunjukkan lewat operasi dunia maya terhadap fasilitas nuklir Iran lebih dari satu dekade lalu.

Namun, berperang sendirian melawan Iran adalah persoalan berbeda. Jarak kedua negara lebih dari 1.000 kilometer, sehingga jet tempur Israel membutuhkan pengisian bahan bakar di udara untuk misi bolak-balik. Tantangan terbesar lainnya adalah fasilitas pengayaan Fordow yang dibangun jauh di dalam perut gunung. Satu-satunya senjata yang diyakini mampu menembusnya adalah bom penembus bunker GBU-57 seberat sekitar 13,6 ton, yang hanya bisa dijatuhkan oleh pesawat pengebom siluman B-2 Spirit milik Amerika Serikat. Tanpa akses ke senjata itu, kemampuan Israel menghancurkan infrastruktur nuklir Iran yang paling terlindungi menjadi sangat terbatas.

Iran pun bukan lawan yang bisa diremehkan. Negara itu memiliki ribuan rudal balistik dan drone, serta jaringan sekutu di kawasan. Dalam dua serangan langsung terhadap Israel pada April dan Oktober 2024, ratusan rudal dan drone Iran berhasil ditangkal, tetapi sebagian besar berkat bantuan Amerika Serikat dan mitra regional. Tanpa payung perlindungan itu, sistem pertahanan Israel akan menanggung beban yang jauh lebih berat.

Dampaknya Sampai ke Dompet Kita

Konflik terbuka di Timur Tengah selalu berdampak global. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz yang berada di dekat wilayah Iran. Gangguan sekecil apa pun di jalur itu bisa membuat harga minyak melonjak, dan efeknya berantai: ongkos transportasi naik, harga barang ikut terkerek, dan inflasi menekan daya beli masyarakat di banyak negara.

Dunia teknologi juga tidak kebal. Perang modern tidak hanya terjadi di langit, tetapi juga di ranah siber. Serangan terhadap infrastruktur digital, jaringan listrik, hingga sistem keuangan dapat meluas ke luar wilayah konflik. Ekosistem teknologi global, dari pusat data hingga rantai pasok semikonduktor, berpotensi ikut terguncang jika eskalasi tidak terkendali.

Skenario yang Mungkin Terjadi

Para pengamat umumnya melihat tiga kemungkinan. Pertama, diplomasi kembali menang dan kedua sekutu menemukan titik temu. Kedua, Israel melancarkan serangan terbatas secara mandiri dengan risiko balasan yang sulit diprediksi. Ketiga, konflik melebar dan menyeret Amerika Serikat masuk, suka atau tidak suka.

Banyak analis berpendapat bahwa Israel mungkin sanggup memulai perang sendirian, tetapi akan sulit mengakhirinya tanpa dukungan penuh Washington. Dalam geopolitik, memulai pertarungan bisa diputuskan sendiri, namun mengendalikan akibatnya hampir selalu membutuhkan kawan. Kini dunia menanti apakah keretakan Trump dan Netanyahu hanya perbedaan taktik sesaat, atau awal dari babak baru yang jauh lebih berbahaya di Timur Tengah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User