Harga Minyak Merosot, Pasar Kian Pede Pasokan Timur Tengah Aman

Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan tren penurunan pada penutupan akhir pekan ini, Jumat (26/6). Tekanan jual yang tinggi terjadi seiring dengan meningkatnya keyakinan para pelaku pasar bah

Jul 08, 2026 - 00:34
0 0
Harga Minyak Merosot, Pasar Kian Pede Pasokan Timur Tengah Aman

Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan tren penurunan pada penutupan akhir pekan ini, Jumat (26/6). Tekanan jual yang tinggi terjadi seiring dengan meningkatnya keyakinan para pelaku pasar bahwa risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, terutama terkait konflik dengan Iran, sudah tidak lagi seakut yang dibayangkan sebelumnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Terdepan.id dari pasar berjangka, harga minyak mentah Brent untuk kontrak terdekat ditutup melemah 19 sen, atau setara 0,25%, ke posisi US$ 75,07 per barel. Penurunan serupa juga dialami oleh patokan utama Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), yang terpangkas 13 sen atau 0,18% menjadi US$ 71,79 per barel. Koreksi ini memperpanjang daftar kerugian mingguan, di mana kedua kontrak acuan tersebut sudah mencatat penurunan kumulatif sekitar 7% dalam sepekan terakhir.

Lalulintas Selat Hormuz sebagai Katalis

Sentimen positif yang menjatuhkan harga emas hitam ini terutama dipicu oleh laporan peningkatan volume pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz, yang mencapai titik tertinggi sejak konflik bersenjata antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran meletus pada Februari lalu. Jalur air strategis yang menjadi perlintasan bagi hampir seperlima pasokan minyak global ini menunjukkan normalisasi aktivitas logistik secara signifikan. Sebelumnya, ketegangan geopolitik sempat memicu kekhawatiran blokade, tetapi data pengiriman terkini menunjukkan risiko tersebut gagal terwujud dalam skala yang dapat melumpuhkan pasokan.

Pergeseran persepsi ini menandai babak baru dalam dinamika pasar energi. Jika pada awal konflik para analis memperkirakan risiko premium harga bisa melonjak hingga dua digit, kondisi aktual di lapangan justru menunjukkan ketangguhan rantai pasok. Seorang analis senior yang dimintai keterangan oleh Terdepan.id menjelaskan bahwa pasar mulai “menghargai realitas di lapangan ketimbang narasi ketakutan.”

“Trader melihat bahwa retorika perang tidak lagi secara langsung berkorelasi dengan kekeringan suplai. Selama kesepakatan di belakang layar dan rute alternatif berfungsi, selera terhadap aset berisiko seperti kontrak berjangka minyak untuk spekulasi kenaikan harga akan terus turun,” ujarnya.

Dengan meredanya premi perang, perhatian investor kini perlahan beralih kepada sinyal fundamental berikutnya, termasuk potensi perlambatan ekonomi global dan kuota produksi dari aliansi OPEC+. Untuk saat ini, arah harga sepenuhnya bergantung pada seberapa cepat industri pelayaran meyakinkan dunia bahwa Selat Hormuz tetap terbuka lebar untuk bisnis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter Fintech. Reporter fintech dan pembayaran digital.

Comments (0)

User