Al Haris: Profil dan Kinerja Gubernur Jambi
Al Haris: Profil dan Kinerja Gubernur Jambi
Profil Singkat
Al Haris lahir di Tanjung Jabung Timur pada 20 November 1973. Meniti karier dari birokrat karier hingga Bupati Merangin dua periode, Al Haris dilantik sebagai Gubernur Jambi pada 7 Juli 2021 bersama Wakil Gubernur Abdullah Sani. Di bawah kepemimpinannya, Jambi bertransformasi dari provinsi berbasis komoditas menjadi wilayah yang mulai diperhitungkan investor nasional dan internasional.
Karier dan Riwayat Jabatan
Sebelum menjadi Gubernur Jambi, Al Haris mengawali karier sebagai Aparatur Sipil Negara pada 1998 di lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi. Ia menduduki sejumlah jabatan strategis: Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jambi (2012-2013), Staf Ahli Gubernur bidang Pemerintahan (2013-2016), hingga puncaknya sebagai Bupati Merangin dua periode berturut-turut (2013-2018 dan 2018-2023—dilanjutkan Abdullah Hich). Di Merangin, ia dikenal berhasil memangkas hambatan investasi dan membangun infrastruktur dasar yang membuka akses ke pedalaman.
Pengalamannya sebagai birokrat dan kepala daerah menjadi fondasi reformasi ekonomi yang ia bawa ke tingkat provinsi. Al Haris memahami betul bahwa pertumbuhan ekonomi Jambi bergantung pada kepastian regulasi, kelancaran logistik, dan kesiapan infrastruktur.
Kinerja dan Program Unggulan di Bidang Ekonomi
1. Reformasi Kemudahan Berusaha dan Pelayanan Terpadu
Al Haris menjadikan perizinan usaha sebagai prioritas. Melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jambi, ia mempercepat penerapan Mal Pelayanan Publik (MPP) di seluruh kabupaten/kota. Pada 2025, delapan dari sebelas kabupaten/kota telah memiliki MPP operasional. Proses perizinan berbasis risiko melalui sistem OSS (Online Single Submission) diperketat pengawasannya untuk memastikan tidak ada pungutan liar.
"Investor tidak butuh sambutan, mereka butuh kepastian. Kami potong rantai birokrasi, digitalisasi perizinan kami percepat," tegas Al Haris dalam forum investasi Jambi Business Summit 2025.
2. Destinasi Investasi Unggulan dan Hilirisasi Komoditas
Jambi memiliki keunggulan pada sektor perkebunan, pertambangan, dan energi terbarukan. Di bawah arahan Al Haris, Pemprov Jambi menetapkan tiga kawasan ekonomi prioritas (KEP): Kawasan Industri Tenayan Raya (agroindustri), Kawasan Ekonomi Khusus Muara Sabak (pelabuhan, energi, dan industri pengolahan), serta zona pariwisata Danau Kerinci. Realisasi investasi Jambi tahun 2024 mencapai Rp34,7 triliun atau 108% dari target, melampaui capaian nasional. Tahun 2025, Pemprov menargetkan Rp40 triliun, didorong oleh pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit terintegrasi dan smelter di Muara Sabak.
- Sektor unggulan: perkebunan sawit dan karet, batu bara, gas bumi, pariwisata alam
- Proyek strategis: Pembangunan Jalan Tol Jambi–Rengat (Trans Sumatera), Pelabuhan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Muara Sabak, dan pengembangan Bandara Sultan Thaha (perpanjangan runway)
- Insentif: Pengurangan pajak daerah, kemudahan pembebasan lahan, dan dukungan listrik serta gas industri
3. Pengelolaan APBD yang Pro-Bisnis dan Fiskal Sehat
APBD Provinsi Jambi 2025 tercatat sebesar Rp5,9 triliun, naik 6,2% dari tahun sebelumnya. Al Haris mengarahkan belanja modal ke infrastruktur penunjang usaha: jalan provinsi, irigasi, dan kawasan industri. Rasio belanja modal terhadap total belanja dijaga di atas 25%, jauh di atas rata-rata provinsi sejenis. Di sisi pendapatan, PAD Jambi tumbuh 8,4% pada 2024, ditopang oleh pajak kendaraan bermotor, pajak bahan bakar, dan retribusi jasa pelabuhan. Gubernur Al Haris juga mendorong pemanfaatan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) untuk proyek infrastruktur strategis, terutama di sektor energi dan pengelolaan limbah industri.
4. Pengembangan Infrastruktur Konektivitas
Jalan provinsi yang rusak menjadi keluhan klasik dunia usaha. Melalui program Jalan Mantap Jambi 2025, Al Haris mengalokasikan Rp1,2 triliun dari APBD dan dana alokasi khusus. Akses menuju Kawasan Ekonomi Khusus Muara Sabak menjadi prioritas utama. Pengembangan Pelabuhan Muara Sabak tahap II dimulai pada kuartal III 2025, ditargetkan mampu menampung kapal kontainer hingga 30.000 DWT pada 2026. Ini akan memangkas biaya logistik ekspor komoditas Jambi yang selama ini bergantung pada pelabuhan di provinsi tetangga.
Tantangan dan Harapan
Tantangan terbesar Al Haris terletak pada kesenjangan infrastruktur antara Jambi Timur (pesisir) dan Jambi Barat (pegunungan). Konektivitas menuju Kerinci dan Bungo masih bergantung pada jalan nasional yang rawan longsor. Selain itu, transformasi tenaga kerja lokal untuk mengisi kebutuhan industri pengolahan memerlukan percepatan pendidikan vokasi.
Di sektor investasi, persaingan antarprovinsi di Sumatera semakin ketat. Riau dan Sumatera Selatan agresif menawarkan insentif fiskal. Namun, pendekatan Al Haris yang mengedepankan pelayanan, infrastruktur prioritas, dan hilirisasi memberikan fondasi yang kuat bagi kepercayaan dunia usaha.
"Visi kami sederhana: Jambi bukan lagi pemasok bahan mentah. Kami akan menjadi pusat industri pengolahan berbasis sumber daya alam, dengan birokrasi yang melayani, bukan menghambat," kata Al Haris menutup wawancara.
Dengan sisa masa jabatan hingga 2026, konsistensi Al Haris dalam pembangunan ekonomi akan diuji oleh momentum transisi pemerintahan nas
Comments (0)