Fisikawan Harvard Klaim Tahu Lokasi Tuhan, Jaraknya 2.000 Tahun Cahaya

Pertanyaan tentang di mana Tuhan berada mungkin setua peradaban manusia itu sendiri. Kini, pertanyaan itu kembali memicu perdebatan setelah mantan fisikawan Universitas Harvard, Michael Guillén, meng...

Fisikawan Harvard Klaim Tahu Lokasi Tuhan, Jaraknya 2.000 Tahun Cahaya

Pertanyaan tentang di mana Tuhan berada mungkin setua peradaban manusia itu sendiri. Kini, pertanyaan itu kembali memicu perdebatan setelah mantan fisikawan Universitas Harvard, Michael Guillén, mengklaim dapat memperkirakan lokasi Tuhan di alam semesta—lengkap dengan hitungan jaraknya dari Bumi. Klaim ini penting disikapi secara kritis, bukan hanya karena menyangkut keyakinan miliaran manusia, tetapi juga karena menjadi contoh bagaimana narasi sains dan iman kerap bercampur di ruang publik. Di era ketika informasi menyebar dalam hitungan detik, kemampuan membedakan spekulasi dan penelitian ilmiah menjadi keterampilan yang semakin krusial bagi setiap pembaca.

Siapa Sosok di Balik Klaim Ini?

Michael Guillén bukan nama sembarangan di dunia sains. Ia meraih gelar doktor di bidang fisika, matematika, dan astronomi dari Cornell University, kemudian mengajar di Universitas Harvard. Setelah meninggalkan dunia akademik, ia beralih menjadi jurnalis sains dan sempat menjabat sebagai editor sains di ABC News, salah satu jaringan televisi besar Amerika Serikat. Sepanjang kariernya, Guillén dikenal gemar menulis buku yang menjembatani sains dan spiritualitas. Ibarat seorang penerjemah, ia mencoba mempertemukan dua bahasa yang kerap dianggap bertolak belakang: bahasa rumus fisika dan bahasa kitab suci. Klaim soal lokasi Tuhan ini lahir dari upaya semacam itu—menggunakan kerangka fisika modern untuk menjawab pertanyaan teologis klasik yang telah berusia ribuan tahun.

Hitung-Hitungan di Balik Angka 2.000 Tahun Cahaya

Lalu, bagaimana Guillén sampai pada kesimpulan soal lokasi Tuhan? Logikanya berpijak pada konsep tahun cahaya, yaitu satuan jarak yang menunjukkan seberapa jauh cahaya menempuh perjalanan selama satu tahun penuh. Sebagai gambaran, cahaya bergerak dengan kecepatan sekitar 300.000 kilometer per detik—cukup untuk mengelilingi Bumi lebih dari tujuh kali hanya dalam satu detik. Dalam setahun, cahaya menempuh jarak sekitar 9,46 triliun kilometer.

Guillén mengaitkan perhitungan ini dengan narasi kenaikan ke surga yang diyakini terjadi sekitar 2.000 tahun lalu. Jika perjalanan itu diasumsikan berlangsung dengan kecepatan cahaya, maka lokasi tujuan—yang ia sebut sebagai tempat Tuhan berada—berjarak kurang lebih 2.000 tahun cahaya dari Bumi, atau setara sekitar 18.900 triliun kilometer. Angka ini nyaris tak terbayangkan. Ibarat berkendara dengan mobil berkecepatan 100 kilometer per jam tanpa berhenti, manusia membutuhkan waktu miliaran tahun untuk tiba di sana.

Sebagai perbandingan, bintang terdekat dari tata surya kita, Proxima Centauri, hanya berjarak sekitar 4,24 tahun cahaya. Artinya, lokasi yang diklaim Guillén berada hampir 500 kali lebih jauh, namun masih berada di dalam wilayah galaksi Bima Sakti yang diameternya mencapai sekitar 100.000 tahun cahaya. Bahkan wahana Voyager 1—objek buatan manusia terjauh yang meluncur sejak 1977 dengan kecepatan sekitar 17 kilometer per detik—baru menempuh sebagian kecil perjalanan menuju bintang terdekat setelah hampir lima dekade mengangkasa.

Mengapa Komunitas Ilmiah Skeptis?

Di sinilah letak persoalannya. Meski dibungkus istilah fisika, klaim Guillén tidak memenuhi kaidah dasar metode ilmiah. Dalam sains, sebuah hipotesis—dugaan awal yang diajukan peneliti—harus bisa diuji, diukur, dan dibuktikan ulang oleh pihak lain. Asumsi bahwa perjalanan menuju surga terjadi dengan kecepatan cahaya tidak memiliki dasar pengamatan empiris apa pun. Tidak ada teleskop, sensor, maupun instrumen penelitian yang dapat memverifikasi keberadaan entitas atau lokasi tersebut pada koordinat 2.000 tahun cahaya.

Para ilmuwan juga mengingatkan bahwa mencampurkan narasi keagamaan dengan kalkulasi fisika berisiko menimbulkan pemahaman keliru di masyarakat. Fisika bekerja dengan data yang terukur, sementara iman bekerja di ranah keyakinan—keduanya memiliki wilayah dan aturan main yang berbeda. Memaksakan satu kerangka ke kerangka lainnya ibarat mengukur suhu dengan penggaris: alatnya sahih, tetapi tidak dirancang untuk keperluan itu.

Pelajaran Penting bagi Literasi Sains

Terlepas dari kontroversinya, kabar ini menawarkan momentum berharga bagi edukasi publik. Pertama, gelar akademik seseorang tidak otomatis membuat setiap pernyataannya menjadi fakta ilmiah—sains menilai bukti, bukan sekadar kredensial. Kedua, masyarakat perlu kritis terhadap klaim sensasional yang meminjam terminologi teknologi dan fisika tanpa proses penelitian yang transparan serta publikasi di jurnal bereputasi.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang Tuhan tetap menjadi wilayah iman dan filsafat, sementara sains terus bergerak maju menjawab hal-hal yang dapat diukur. Inovasi teleskop luar angkasa seperti James Webb, misalnya, kini mampu mengintip galaksi yang terbentuk ratusan juta tahun setelah Big Bang—ledakan besar yang menandai kelahiran alam semesta. Penemuan-penemuan itulah yang memperluas pemahaman manusia tentang kosmos dengan cara yang dapat diverifikasi siapa pun. Mengenai di mana Tuhan bersemayam, masing-masing orang barangkali memiliki jawabannya sendiri—dan sains, dengan segala kerendahan hatinya, memilih untuk tidak memaksakan angka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User