Teknologi

Ekonomi Hijau ASEAN Rp4.700 T, tapi 35% Dana Tak Terwujud

Bayangkan sebuah proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) raksasa di Vietnam yang sudah diumumkan dengan meriah, lengkap dengan foto peletakan batu pertama dan janji investasi miliaran dolar. Dua...

Ekonomi Hijau ASEAN Rp4.700 T, tapi 35% Dana Tak Terwujud

Bayangkan sebuah proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) raksasa di Vietnam yang sudah diumumkan dengan meriah, lengkap dengan foto peletakan batu pertama dan janji investasi miliaran dolar. Dua tahun berlalu, lahan masih kosong dan kabel transmisi belum terpasang. Inilah kenyataan pahit yang kini membayangi ambisi transisi energi Asia Tenggara. Nilai ekonomi hijau kawasan memang telah menyentuh angka US$290 miliar atau sekitar Rp4.700 triliun pada 2025, dan diproyeksikan melesat ke US$430 miliar pada 2030. Namun, di balik gemerlap angka tersebut, lebih dari 35% belanja modal (capex) hijau yang diumumkan tidak pernah terealisasi. Fenomena ini penting bagi kita semua karena menyangkut harga listrik, ketersediaan lapangan kerja baru, dan kualitas udara yang kita hirup setiap hari.

Jebakan Konversi: Ketika Janji Hijau Berhenti di Kertas

Ibarat seperti resep masakan yang sudah dibeli bahan-bahannya, tetapi kompor tidak pernah dinyalakan. Kawasan ASEAN memiliki bahan mentah melimpah berupa sinar matahari, angin, dan air, serta komitmen politik yang terdengar meyakinkan. Akan tetapi, ada jurang pemisah antara pengumuman dan implementasi. Para analis menyebutnya sebagai "conversion gap" atau kesenjangan konversi. Mengapa ini terjadi? Pertama, masalah pembiayaan. Bank-bank di kawasan masih menganggap proyek energi terbarukan sebagai aset berisiko tinggi karena teknologinya dianggap baru dan aliran pendapatannya tidak sepadan dengan pembangkit batu bara yang sudah mapan. Kedua, hambatan regulasi dan perizinan yang berbelit. Proyek PLTS di satu negara bisa memerlukan puluhan izin dari instansi berbeda, dari pemerintah pusat hingga desa adat.

Ketiga, infrastruktur jaringan listrik yang belum siap. Listrik dari panel surya di pedalaman tidak akan berguna jika tidak ada saluran transmisi yang mengangkutnya ke kota. Dalam bahasa teknis, ini disebut sebagai tantangan integrasi grid (jaringan listrik). Algoritma perencanaan energi pun sering kali mengabaikan variabel sosial seperti penolakan warga atau sengketa lahan, sehingga proyek macet di tengah jalan. Data menunjukkan bahwa dari total capex yang diumumkan, sebagian besar tersangkut di tahap studi kelayakan atau gagal mencapai financial close, yaitu momen ketika semua pihak menandatangani perjanjian pendanaan dan proyek resmi dimulai.

Geliat Investasi Digital dan Infrastruktur AI di Tengah Ketidakpastian

Meski sektor energi hijau bergulat dengan realitas, sektor teknologi finansial (fintech) dan kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence) justru menunjukkan denyut nadi yang berbeda. Sebuah perusahaan modal ventura yang fokus pada teknologi finansial, 01Fintech, baru saja mengucurkan dana segar ke DANA, salah satu platform dompet digital terbesar di Indonesia. Langkah ini menegaskan bahwa ekosistem pembayaran digital tanah air masih menjadi magnet bagi investor global. DANA, yang telah mengantongi izin Bank Indonesia, akan menggunakan suntikan modal tersebut untuk memperluas inklusi keuangan, terutama bagi masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan konvensional.

Sementara itu, di dunia infrastruktur komputasi, Zankore dikabarkan telah mengamankan pinjaman senilai US$3,1 miliar untuk membangun pusat data yang dilengkapi dengan unit pemroses grafis (GPU/Graphics Processing Unit) NVIDIA. GPU ini adalah otak di balik pelatihan model AI generatif seperti ChatGPT. Permintaan GPU melonjak tajam secara global, dan Asia Tenggara tidak ingin hanya menjadi penonton. Investasi sebesar itu setara dengan biaya membangun beberapa bandara internasional, menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan ini serius ingin menjadi pemain dalam rantai pasok AI dunia. Namun, tantangan utama tetap sama: ketersediaan listrik yang stabil dan hijau. Pusat data AI adalah pemakan energi yang rakus. Jika listriknya masih berasal dari batu bara, maka ambisi hijau dan ambisi digital bisa saling bertabrakan.

Pajak Marketplace dan Masa Depan Ekonomi Digital

Di sisi lain, pemerintah Indonesia tengah menggodok rencana mewajibkan marketplace atau platform lokapasar untuk memungut Pajak Penghasilan Pasal 22. Aturan ini bertujuan menciptakan keadilan bagi pelaku usaha ritel konvensional yang selama ini merasa dirugikan oleh pedagang daring yang belum sepenuhnya terdaftar sebagai wajib pajak. Ibarat menarik retribusi di pintu masuk pasar tradisional, negara ingin memastikan setiap transaksi digital memberikan kontribusi bagi kas negara. Bagi para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), kebijakan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, beban administratif bertambah. Di sisi lain, integrasi data pajak dengan platform digital justru berpotensi mempermudah pelaporan dan akses kredit di masa depan.

Menakar Realita di Balik Proyeksi Miliaran Dolar

Mengutip pandangan seorang ekonom senior di sebuah lembaga riset internasional, "Angka US$290 miliar itu bukanlah kegagalan, melainkan potret setengah perjalanan. Masalahnya bukan pada kurangnya minat, melainkan pada ketidakmampuan ekosistem mengeksekusi dengan cepat." Pernyataan ini menegaskan bahwa kunci utama bukan lagi sekadar berapa banyak nota kesepahaman yang ditandatangani, melainkan berapa banyak megawatt listrik bersih yang benar-benar mengalir ke rumah tangga dan pabrik.

Ke depan, tiga hal akan menentukan apakah ASEAN bisa menutup kesenjangan konversi ini. Pertama, reformasi kebijakan satu pintu untuk perizinan energi terbarukan. Kedua, inovasi instrumen keuangan seperti obligasi hijau dan blended finance yang bisa menurunkan risiko bagi investor. Ketiga, pengembangan sumber daya manusia yang mampu mengelola teknologi deep tech, mulai dari algoritma optimasi jaringan hingga sistem penyimpanan baterai. Tanpa itu, proyeksi US$430 miliar pada 2030 hanya akan menjadi angka cantik di atas kertas yang tidak pernah menghangatkan rumah kita di malam hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User