Dipakai Gratis Seluruh Dunia, GPS Ternyata Dibiayai Amerika US$2 Miliar
Setiap kali Anda membuka aplikasi peta untuk mencari alamat, memesan ojek online, atau melacak paket belanja, ada satu teknologi yang bekerja senyap di balik layar: GPS (Global Positioning System/sist...
Setiap kali Anda membuka aplikasi peta untuk mencari alamat, memesan ojek online, atau melacak paket belanja, ada satu teknologi yang bekerja senyap di balik layar: GPS (Global Positioning System/sistem pemosisi global). Yang jarang disadari banyak orang, layanan penunjuk lokasi ini bisa dinikmati gratis oleh miliaran penduduk bumi berkat pendanaan dari pemerintah Amerika Serikat yang nilainya mencapai sekitar US$2 miliar atau setara lebih dari Rp32 triliun (kurs Rp16.000 per dolar) untuk pengoperasian dan modernisasi sistemnya. Ibarat seperti lampu jalan yang dinyalakan satu pihak tetapi menerangi seluruh kampung, GPS menjadi infrastruktur publik global yang biayanya ditanggung satu negara.
Apa Itu GPS dan Bagaimana Cara Kerjanya?
GPS adalah sistem navigasi berbasis satelit yang dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat sejak tahun 1973. Satelit pertama dari program yang awalnya bernama Navstar ini diluncurkan pada 1978, dan sistemnya dinyatakan beroperasi penuh pada 1995. Saat ini, konstelasi GPS terdiri dari lebih dari 30 satelit yang mengorbit pada ketinggian sekitar 20.200 kilometer di atas permukaan bumi.
Cara kerjanya bisa dibayangkan seperti permainan menebak posisi dari gema suara. Setiap satelit terus memancarkan sinyal berisi waktu dan posisinya. Ponsel Anda menangkap sinyal dari minimal empat satelit, lalu algoritma di dalam chip menghitung selisih waktu tempuh sinyal untuk menentukan titik lokasi Anda. Proses yang disebut trilaterasi ini berlangsung dalam hitungan detik, bahkan ketika Anda sedang bergerak di tengah perjalanan.
Mengapa Amerika Rela Membiayai Sistem Ini?
Awalnya, GPS murni proyek militer untuk memandu pasukan, kapal, dan rudal. Titik baliknya terjadi pada 1983, ketika pesawat sipil Korean Air Lines penerbangan 007 tersesat dan ditembak jatuh. Presiden Ronald Reagan kemudian memutuskan sinyal GPS dibuka untuk keperluan sipil demi keselamatan penerbangan dunia. Pada tahun 2000, pemerintahan Bill Clinton mematikan fitur Selective Availability (ketersediaan selektif) yang sengaja mengaburkan akurasi sinyal sipil, sehingga ketepatan GPS melonjak dari sekitar 100 meter menjadi kurang dari 10 meter.
Bagi Amerika Serikat, anggaran sekitar US$2 miliar per tahun untuk mengoperasikan, memelihara, dan memodernisasi GPS bukanlah sedekah tanpa imbal hasil. Studi dari NIST (National Institute of Standards and Technology/lembaga standar teknologi nasional AS) pada 2019 memperkirakan teknologi ini menyumbang manfaat ekonomi hingga US$1,4 triliun bagi ekonomi Amerika sejak dibuka untuk publik. Sektor pertanian presisi, logistik, telekomunikasi, hingga perbankan yang memakai penanda waktu (timestamp) GPS semuanya menikmati efisiensi luar biasa.
Dampaknya bagi Kehidupan Sehari-hari di Indonesia
Di tanah air, GPS adalah tulang punggung ekonomi digital. Platform transportasi online seperti Gojek dan Grab mustahil beroperasi tanpa penentuan lokasi yang akurat. Nelayan tradisional kini memakai GPS untuk menandai titik tangkapan ikan, petani menggunakannya untuk memetakan lahan, dan tim SAR mengandalkannya saat pencarian korban bencana. Bahkan transaksi perbankan dan sinkronisasi jaringan seluler ikut bergantung pada ketepatan waktu yang dipancarkan satelit-satelit ini.
Persaingan Sistem Navigasi Satelit Dunia
Ketergantungan pada satu sistem milik negara lain memicu disrupsi geopolitik. Rusia mengembangkan GLONASS, Uni Eropa membangun Galileo yang menawarkan akurasi hingga satu meter untuk layanan publik, China mengoperasikan BeiDou yang rampung pada 2020, sementara India memiliki NavIC untuk kawasan regional. Kabar baiknya, ponsel pintar modern umumnya sudah mampu menangkap sinyal dari beberapa sistem sekaligus, sehingga akurasi dan keandalan navigasi terus meningkat.
Masa Depan GPS
Amerika Serikat sendiri terus berinvestasi lewat satelit generasi GPS III buatan Lockheed Martin yang diklaim tiga kali lebih akurat dan delapan kali lebih tahan terhadap gangguan sinyal (jamming). Pengembangan ini menegaskan bahwa di balik layanan gratis yang kita nikmati setiap hari, ada penelitian, inovasi, dan anggaran raksasa yang terus berputar. Ini menjadi pengingat bahwa teknologi paling berharga sering kali justru yang tak terlihat.
Comments (0)