Demo Tolak Data Center Google di India, Warga Cemaskan Krisis Air

Setiap kali kita mengirim pesan instan, menonton video streaming, atau menyimpan foto di cloud (komputasi awan), ada mesin raksasa yang bekerja tanpa henti di balik layar: pusat data atau data center....

Demo Tolak Data Center Google di India, Warga Cemaskan Krisis Air

Setiap kali kita mengirim pesan instan, menonton video streaming, atau menyimpan foto di cloud (komputasi awan), ada mesin raksasa yang bekerja tanpa henti di balik layar: pusat data atau data center. Namun, kenyamanan digital yang kini menjadi bagian dari hidup sehari-hari ternyata menyimpan biaya lingkungan yang besar. Itulah mengapa gelombang demonstrasi yang kini berkobar di India layak mendapat perhatian serius, termasuk dari publik Indonesia yang negaranya juga sedang menjadi tujuan investasi infrastruktur serupa.

Aktivis lingkungan bersama warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek turun ke jalan menolak rencana pembangunan fasilitas pusat data milik Google. Penolakan ini bukan sekadar aksi spontan, melainkan puncak dari kekesalan yang menumpuk. Masyarakat menilai ekspansi infrastruktur digital justru mengancam akses mereka terhadap air bersih dan merusak lingkungan tempat mereka hidup.

Mengapa Pusat Data Menyedot Perhatian Publik

Ibarat lemari pendingin raksasa yang menyala 24 jam sehari, pusat data memerlukan sistem pendingin yang bekerja tanpa jeda agar ribuan server di dalamnya tidak rusak karena panas berlebih. Salah satu metode pendinginan paling umum adalah evaporative cooling (pendinginan evaporatif), yakni teknik yang menggunakan penguapan air untuk menurunkan suhu mesin. Dampaknya, konsumsi air fasilitas semacam ini sangat fantastis.

Sebagai gambaran, satu pusat data berskala besar bisa menyerap jutaan liter air per hari, setara kebutuhan sebuah kota kecil berpenduduk puluhan ribu jiwa. Dalam laporan keberlanjutannya, Google sendiri mencatat konsumsi air di seluruh fasilitasnya mencapai sekitar 21 miliar liter sepanjang 2022, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya seiring melonjaknya permintaan layanan berbasis AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan).

Belum lagi soal listrik. Badan Energi Internasional memperkirakan pusat data di seluruh dunia menyerap sekitar 1 hingga 1,5 persen konsumsi listrik global, dan angka ini diprediksi melonjak karena algoritma machine learning (pembelajaran mesin) membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar dibanding layanan digital konvensional.

Bertepatan dengan Krisis Air yang Makin Parah

Kekhawatiran warga India bukan tanpa dasar. Negara berpenduduk lebih dari 1,4 miliar jiwa itu termasuk wilayah dengan tekanan air paling berat di dunia. Lembaga pemikir pemerintah India pernah memperingatkan bahwa ratusan juta warganya hidup dalam kondisi kelangkaan air tingkat tinggi. Sejumlah kota besar seperti Chennai dan Bengaluru bahkan sempat mengalami krisis air akut dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah situasi tersebut, kehadiran fasilitas teknologi yang haus air dipandang sebagai disrupsi yang tidak adil: warga diminta berhemat, sementara korporasi raksasa mendapat jatah sumber daya yang besar. Fenomena serupa sebenarnya sudah terjadi di berbagai negara. Di Uruguay, rencana pusat data Google menuai protes saat negara itu dilanda kekeringan parah pada 2023. Di Belanda dan Irlandia, pemerintah daerah sampai membatasi pembangunan pusat data baru karena pasokan listrik dan air yang kritis.

Pelajaran Penting bagi Ekosistem Digital Indonesia

Apa yang terjadi di India seharusnya menjadi cermin bagi Indonesia. Tanah Air kini gencar mempromosikan diri sebagai pusat data hub Asia Tenggara, dengan investasi besar dari berbagai platform teknologi global di kawasan Jakarta, Batam, hingga Surabaya. Pertumbuhan ekosistem digital ini memang membuka lapangan kerja dan mempercepat transformasi ekonomi, tetapi tanpa tata kelola yang ketat, masalah serupa bisa berulang.

Sejumlah daerah di Indonesia juga telah menghadapi tekanan air dan pasokan listrik yang fluktuatif. Jika pengembangan pusat data tidak dibarengi kajian dampak lingkungan yang transparan, konflik antara korporasi dan warga seperti di India hanya tinggal menunggu waktu.

Teknologi Pendinginan dan Regulasi Jadi Kunci

Kabar baiknya, inovasi di bidang deep tech menawarkan jalan keluar. Penelitian dan pengembangan sistem pendingin terus berjalan, mulai dari liquid cooling (pendingin cairan) yang jauh lebih hemat air, immersion cooling (perendaman server dalam cairan khusus), hingga penggunaan air daur ulang. Implementasi metrik efisiensi seperti WUE (Water Usage Effectiveness/efektivitas penggunaan air) juga membantu mengukur seberapa boros sebuah fasilitas.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Diperlukan regulasi yang mewajibkan transparansi konsumsi air dan energi, keterlibatan warga sejak tahap perencanaan, serta kewajiban bagi perusahaan untuk memberi manfaat nyata bagi komunitas lokal. Demonstrasi di India mengirim pesan jelas: masa depan digital hanya bisa diterima jika pembangunannya tidak mengorbankan hak paling dasar manusia, yaitu air dan lingkungan yang sehat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User