Bos PPI Sebut PKB Partai Kalah Pilpres, Tak Berhak Bilang PDIP Abu-abu
Pernyataan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang menyinggung posisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai abu-abu menuai kritik dari pengamat politik. Direktur Eksekutif Paramete
Pernyataan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang menyinggung posisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai abu-abu menuai kritik dari pengamat politik. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, dengan tegas menyatakan bahwa PKB tidak memiliki kapasitas untuk melontarkan pernyataan tersebut karena statusnya sendiri sebagai partai yang juga kalah dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 dan 2029.
Hanya Gerindra yang Berhak
“Yang berhak mendesak PDIP jangan abu-abu itu tentu saja cuma Gerindra sebagai partai pemenang pilpres, bukan yang lain. Pada saat bersamaan, banyak juga yang bertanya kritis, PKB atas nama siapa mendesak PDIP agar tak abu-abu. Mengingat PKB partai yang kalah pilpres seperti PDIP,” ujar Adi Prayitno saat dihubungi Terdepan.id, Sabtu (20/6/2026).
Adi menekankan bahwa semangat untuk menekan PDIP seharusnya datang dari partai yang memiliki legitimasi kemenangan, yaitu Partai Gerindra. Partai yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto itu dinilai sebagai satu-satunya entitas politik yang wajar meminta kejelasan sikap dari PDIP pasca-Pilpres. Menurutnya, posisi politik PDIP yang kerap disebut ambigu ini bukanlah persoalan yang bisa serta-merta dikomentari oleh partai-partai yang memiliki nasib serupa di ajang pemilihan presiden.
Ia menambahkan bahwa hakikat dari demokrasi memberikan ruang bagi setiap partai untuk menentukan posisinya. “PDIP bersama Megawati Soekarnoputri tentu memiliki hak penuh untuk memutuskan apakah akan menjadi bagian dari koalisi pemerintah, berada di luar, atau bahkan kritis sebagai oposisi. Tidak ada yang bisa memaksa,” tambahnya.
Adi pun menyoroti bahwa narasi “partai abu-abu” yang dialamatkan kepada PDIP sejatinya merupakan bentuk tekanan politik yang tidak tepat. Apalagi jika tekanan itu datang dari sesama partai yang belum mencapai kemenangan mutlak dalam kontestasi nasional. “Jangan sampai ada pihak yang menggunakan istilah itu untuk membentuk opini negatif tentang PDIP. Semua partai punya hak untuk bersikap,” tegasnya.
PAN Justru Hormati Sikap Kritis PDIP
Sementara itu, Partai Amanat Nasional (PAN) menunjukkan sikap berbeda. PAN menghormati langkah PDIP yang dikenal kritis terhadap pemerintah, bahkan menyebutnya sebagai hal yang wajar. Pernyataan tersebut disampaikan oleh elite PAN baru-baru ini, yang menyebut bahwa jika kadernya melakukan demonstrasi sebagai bentuk kritik, itu merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat.
“Kalau kadernya demo, itu wajar. Setiap partai punya cara masing-masing untuk mengekspresikan pandangannya. Yang penting tidak melanggar aturan,” ujar sumber dari PAN dalam laporan terpisah Terdepan.id.
Pandangan berbeda dari dua partai ini menambah warna perdebatan mengenai posisi PDIP sepekan setelah pernyataan kontroversial dari PKB. Adi Prayitno menegaskan bahwa sebaiknya energi politik diarahkan untuk membangun rekonsiliasi nasional dan fokus pada kerja-kerja kebangsaan, bukan saling mengkritik tanpa substansi. “PDIP bukan abu-abu, mereka sedang memikirkan langkah terbaik,” pungkasnya.
Comments (0)